Periskop.id - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Asia, Kamis (30/7), usai Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Penguatan ini juga didorong meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul serangan udara AS ke Iran.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,1% ke level 100,89. Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah AS mengonfirmasi tengah melancarkan serangan udara ke Iran.

"Meski ada tiga suara yang mendukung kenaikan suku bunga pada Juli, Ketua Warsh tidak memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan segera dilakukan dan mempertahankan nada yang sama seperti pada Juni," kata analis pasar IG, Fabien Yip.

Menurut Yip, sikap tersebut mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan investor. The Fed dinilai enggan memberikan komitmen mengenai pengetatan kebijakan lebih lanjut, sehingga muncul pertanyaan soal kemampuan bank sentral menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang.

Mata uang utama lain justru melemah terhadap dolar AS. Pound sterling turun 0,1% ke level US$1,3355 menjelang keputusan suku bunga Bank of England (BoE) yang diperkirakan tetap ditahan.

Euro juga melemah 0,1% ke posisi US$1,1457. Sementara itu, dolar Australia dan dolar Selandia Baru relatif stabil masing-masing di level US$0,6959 dan US$0,5795, sedangkan yen Jepang bergerak datar di kisaran 163,455 per dolar AS.

Reaksi pasar turut terlihat di pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi Treasury tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade setelah keputusan The Fed diumumkan.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan peluang sebesar 42,6% bahwa The Fed akan kembali menahan suku bunga pada pertemuan 16 September mendatang. Angka ini melonjak dibandingkan peluang 24% sebelum pertemuan terbaru The Fed digelar.

"Kami masih memperkirakan The Fed akan tetap menahan suku bunga. Namun kami khawatir pasar akan bereaksi negatif jika muncul persepsi bahwa bank sentral tidak bertindak ketika seharusnya bertindak," kata Kepala Riset Valuta Asing G10 Standard Chartered, Steve Englander.

Englander menambahkan, banyak pelaku pasar menilai jawaban Warsh dalam konferensi pers terlalu umum. Menurutnya, komunikasi tersebut tidak sejelas gaya ketua The Fed sebelumnya.

Di pasar aset digital, bitcoin naik 0,3% ke level US$63.650,06, sedangkan ether menguat 0,7% menjadi US$1.896,66.

Penguatan dolar AS ini menahan pelemahan mata uang tersebut yang sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 20 Juli, tepat setelah keputusan kebijakan moneter The Fed diumumkan.

"Kami masih memperkirakan The Fed akan tetap menahan suku bunga. Namun kami khawatir pasar akan bereaksi negatif jika muncul persepsi bahwa bank sentral tidak bertindak ketika seharusnya bertindak," tegas Englander.