Periskop.id - Gedung Putih (White House) resmi merilis publikasi komprehensif mengenai asal-usul COVID-19 beserta evaluasi besar-besaran terhadap penanganan pandemi di Amerika Serikat. 

Dokumen yang dipublikasikan di laman resminya pada Rabu (29/7) ini menyoroti sejumlah fakta dan temuan baru, mulai dari indikasi kebocoran laboratorium hingga kritik tajam terhadap transparansi pejabat kesehatan publik.

Laporan ini memicu perhatian global karena membongkar berbagai dinamika di balik layar, termasuk peran institusi kesehatan, kebijakan karantina, serta respons lembaga internasional selama krisis kesehatan dunia tersebut berlangsung.

Teori Kebocoran Laboratorium Wuhan

Salah satu poin utama dalam publikasi tersebut mengulas asal-usul munculnya virus SARS-CoV-2. Laporan tersebut menyebutkan bahwa insiden yang berkaitan dengan laboratorium dan melibatkan penelitian gain of function merupakan asal-usul COVID-19 yang paling mungkin. 

Penelitian gain of function sendiri merupakan proses pengubahan genetik untuk meningkatkan kemampuan atau daya tular suatu organisme.

Beberapa poin penting yang disoroti terkait asal-usul virus antara lain:

  • Virus COVID-19 memiliki karakteristik biologis khusus yang tidak ditemukan di alam bebas.
  • Seluruh kasus awal mengindikasikan satu kali masuknya virus ke tubuh manusia, berbeda dari pola pandemi sebelumnya yang biasanya berasal dari beberapa kali penularan dari hewan ke manusia.
  • Kota Wuhan merupakan lokasi laboratorium riset SARS terkemuka di China, yaitu Wuhan Institute of Virology (WIV), yang tercatat memiliki riwayat penelitian gain of function dengan tingkat keamanan hayati yang dinilai tidak memadai.
  • Sejumlah peneliti WIV dilaporkan telah mengalami gejala mirip COVID-19 pada musim gugur 2019, beberapa bulan sebelum kasus pertama diumumkan di pasar basah Wuhan.
  • Publikasi ilmiah awal bertajuk The Proximal Origin of SARS-CoV-2 disebut-sebut didorong oleh Dr. Anthony Fauci untuk mengarahkan narasi bahwa virus tersebut murni berasal dari alam, sekaligus mengesampingkan teori kebocoran laboratorium.

Dugaan Keterlibatan EcoHealth Alliance dan Pengawasan NIH

Laporan Gedung Putih juga menyoroti peran EcoHealth Alliance Inc., sebuah organisasi yang dipimpin oleh Dr. Peter Daszak. Lembaga ini disebut menggunakan dana pembayar pajak AS untuk memfasilitasi penelitian gain of function di Wuhan.

Setelah ditemukannya pelanggaran ketentuan hibah dari National Institutes of Health (NIH), Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (United States Department of Health and Human Services/HHS) mengambil langkah tegas dengan menangguhkan seluruh pendanaan dan memulai proses debarment resmi terhadap EcoHealth. 

Departemen Kehakiman AS (Department of Justice/DOJ) kini juga telah membuka penyelidikan khusus terkait aktivitas organisasi tersebut selama pandemi.

Di sisi lain, prosedur pengawasan NIH terhadap penelitian berisiko tinggi dinilai tidak memadai. Kinerja pimpinan dan penasihat senior NIH, termasuk Dr. David Morens, turut mendapat sorotan atas dugaan pelanggaran aturan pencatatan arsip federal serta penghambatan proses penyelidikan pengawasan legislatif.

Evaluasi Kebijakan Pandemi, Masker, dan Jarak Sosial

Selain aspek asal-usul virus, laporan ini mengevaluasi berbagai kebijakan publik yang diterapkan selama masa krisis. Beberapa aturan baku yang sempat diberlakukan secara masif kini mendapat kritik tajam karena dinilai kurang didukung data ilmiah yang konklusif.

  1. Aturan Jaga Jarak 6 Kaki: Pedoman menjaga jarak fisik sejauh 6 kaki (sekitar 1,8 meter) yang berimbas pada penutupan sekolah dan usaha kecil disebut bersifat sewenang-wenang. Dalam kesaksiannya, Dr. Fauci bahkan mengakui bahwa pedoman tersebut muncul tanpa dasar studi ilmiah yang kuat.
  2. Aturan Wajib Masker: Laporan mencatat tidak adanya bukti konklusif yang menunjukkan efektivitas masker dalam menghentikan penularan secara menyeluruh pada skala populasi, sehingga pernyataan pejabat yang berubah-ubah sempat memicu krisis kepercayaan publik.
  3. Dampak Lockdown: Kebijakan kuncian wilayah atau lockdown berkepanjangan dinilai memberi dampak negatif yang besar, bukan hanya pada sektor ekonomi, tetapi juga terhadap kesehatan mental dan fisik masyarakat, terutama generasi muda.

Kritik Terhadap Kebijakan Daerah dan Respons WHO

Di tingkat daerah, laporan ini memberikan sorotan khusus terhadap kebijakan panti jompo di New York di bawah kepemimpinan mantan Gubernur Andrew Cuomo. Perintah untuk memasukkan pasien positif COVID-19 ke panti jompo dinilai sebagai kesalahan langkah medis yang fatal, yang kemudian berusaha ditutupi oleh pemerintah daerah setempat.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) juga tidak luput dari kritik. Respons awal WHO dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan independen karena dinilai terlalu tunduk pada tekanan politik Partai Komunis China. 

Lebih lanjut, draf kesepakatan internasional terbaru seperti Pandemic Treaty yang diusung WHO dinilai berpotensi merugikan posisi dan kedaulatan Amerika Serikat di masa depan.