Periskop.id - Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap demam tifoid atau tipes di tengah perubahan cuaca selama musim kemarau. Risiko penularan dapat meningkat ketika kebersihan makanan, kualitas air, dan sanitasi lingkungan tidak terjaga dengan baik.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Bintaro Yoppi Kencana menjelaskan tipes tidak muncul semata-mata karena perubahan cuaca atau kurang beristirahat. Penyakit ini disebabkan infeksi bakteri Salmonella Typhi yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman terkontaminasi.

Setelah melewati lambung, bakteri dapat berkembang dan menyebar melalui saluran pencernaan serta aliran darah. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut risiko demam tifoid lebih tinggi pada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi memadai.

"Usus halus merupakan organ vital untuk penyerapan nutrisi. Ketika bakteri Salmonella typhi menginfeksi dinding usus, timbul peradangan hebat yang mengganggu pencernaan dan memicu respons imunitas berupa demam tinggi serta rasa lemas ekstrem," kata Yoppi dalam keterangannya, Senin (3/8).

Bukan Sekadar Penyakit akibat Kelelahan

Anggapan bahwa tipes hanya disebabkan kelelahan atau kurang istirahat masih kerap dijumpai. Padahal, demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang membutuhkan diagnosis dan pengobatan medis.

Gejalanya dapat muncul secara perlahan, antara lain demam berkepanjangan, tubuh lemas, sakit kepala, mual, berkurangnya nafsu makan, sakit perut, serta diare atau sembelit. Demam dapat meningkat hingga mencapai 39–40 derajat Celsius.

Yoppi mengingatkan masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami demam yang terus bertahan, terutama jika disertai gangguan pencernaan dan kelemahan tubuh.

"Ketika sudah alami demam dengan suhu tubuh meningkat perlahan disertai gangguan pencernaan hingga lemas, maka itu tanda butuh penanganan medis segera," tegasnya.

Pemeriksaan diperlukan karena gejala demam tifoid dapat menyerupai penyakit infeksi lain. Kementerian Kesehatan menyebut kultur darah sebagai pemeriksaan rujukan untuk memastikan keberadaan bakteri, terutama bila dilakukan pada awal masa sakit. Pemeriksaan Widal tidak direkomendasikan sebagai satu-satunya dasar diagnosis karena sensitivitas dan spesifisitasnya rendah.

Karena itu, masyarakat tidak disarankan mendiagnosis sendiri maupun menggunakan antibiotik tanpa resep. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat memperburuk masalah resistansi antimikroba dan menyulitkan pengobatan ketika infeksi benar-benar terjadi.

 

anak demam
Ilustrasi anak demam dok. ANTARA/freepik.com

 

 

Bisa Memicu Perdarahan hingga Kebocoran Usus

Demam tifoid yang terlambat ditangani berisiko menyebabkan peradangan berat pada saluran pencernaan. Infeksi dapat mengikis lapisan usus dan memicu perdarahan saluran cerna maupun perforasi atau robekan dinding usus.

"Komplikasi paling bahaya adalah sepsis yakni kondisi berbahaya ketika infeksi bakteri menyebar luas ke dalam seluruh aliran darah," ujar Yoppi.

Komplikasi berat lainnya dapat berupa gangguan kesadaran, peradangan hati, jantung, paru-paru, dan sistem saraf. CDC mencatat perdarahan saluran cerna serta perforasi usus biasanya terjadi setelah dua hingga tiga minggu pada kasus berat.

Pasien harus segera memperoleh pertolongan apabila mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, kesulitan makan dan minum, dehidrasi, kebingungan, atau penurunan kesadaran.

Secara global, WHO memperkirakan sekitar sembilan juta orang terserang demam tifoid setiap tahun berdasarkan data 2019. Penyakit tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 110 ribu kematian per tahun.

Dengan pengobatan yang tepat, risiko kematian dapat ditekan hingga di bawah satu persen. Sebelum antibiotik tersedia secara luas, tingkat kematian akibat demam tifoid tercatat melampaui 10%.

Perubahan Cuaca Bukan Penyebab Langsung

Perubahan cuaca tidak secara langsung menyebabkan seseorang terkena tipes. Namun, kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, serta keamanan penyimpanan dan pengolahan makanan.

WHO menyebut perubahan iklim, urbanisasi, kepadatan penduduk, dan sistem sanitasi yang tidak memadai berpotensi menambah beban demam tifoid. Penularan tetap terjadi melalui jalur fekal-oral, yakni ketika makanan atau air terkontaminasi kotoran orang yang sedang sakit atau menjadi pembawa bakteri.

Dinas Kesehatan Kota Tangerang sebelumnya juga mengingatkan tumpukan sampah dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit, termasuk demam tifoid. Sampah yang tidak dikelola dapat menarik lalat dan kecoa yang kemudian membawa kuman menuju makanan.

Kebersihan Makanan Jadi Perlindungan Utama

Pencegahan dapat dimulai dengan mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah menggunakan toilet, serta sebelum mengolah makanan. Makanan sebaiknya dimasak hingga matang dan disajikan dalam keadaan panas.

Air minum perlu berasal dari sumber yang terjamin atau dimasak hingga mendidih. Masyarakat juga disarankan menghindari es batu, makanan mentah, dan jajanan yang kebersihan pengolahan maupun penyimpanannya diragukan.

Vaksin tifoid dapat menjadi perlindungan tambahan, terutama bagi kelompok yang tinggal atau bepergian ke wilayah dengan penularan tinggi. Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan penuh dan jadwal pemberian ulang berbeda menurut jenis vaksin, usia, serta kondisi penerima. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menentukan jadwal yang sesuai.

"Pola hidup secara lahir dari kesadaran diri untuk hidup sehat. Dengan kondisi cuaca saat ini, perlu adanya saling edukasi untuk kesehatan bersama," kata Yoppi.

Kebersihan tangan, makanan, air minum, dan lingkungan tetap menjadi pertahanan utama. Apabila demam berlangsung lebih dari tiga hari atau disertai gangguan pencernaan berat, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda agar penyebabnya dapat diketahui dan komplikasi dicegah.