Periskop.id – Pendampingan pertanian berbasis dana zakat di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, mulai menghasilkan perubahan ekonomi bagi penerimanya. Setelah memanen 150 ton padi, kelompok petani binaan Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas mampu menunaikan zakat pertanian sebesar Rp16 juta.

Panen raya berlangsung di Desa Kwala Gunung, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara. Hasil panen berupa gabah kering panen tersebut berasal dari lahan seluas 32 hektare yang dikelola 52 petani dari tiga kelompok tani binaan Baznas.

Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa penyaluran zakat secara produktif dapat mendorong penerima manfaat atau mustahik menjadi lebih mandiri, bahkan bertransformasi menjadi pembayar zakat atau muzaki.

"Di Kabupaten Batu Bara ini luar biasa, mereka (para petani binaan Baznas) kini mampu menjadi muzaki dengan menunaikan zakat pertanian sebesar Rp16 juta. Ini membahagiakan bagi kami (Baznas), karena selain kebutuhan pangan mereka terpenuhi, bahkan kini mereka bisa melangkah memberikan zakat pertanian," ujarnya dikutip Sabtu (25/7).

Zakat senilai Rp16 juta diserahkan oleh Kelompok Tani Sepakat melalui Baznas Kabupaten Batu Bara. Kelompok tersebut sebelumnya menerima modal usaha dan pendampingan untuk menjalankan kegiatan pertanian tanpa harus bergantung pada pinjaman berbunga tinggi.

Keberhasilan Tidak Hanya Diukur dari Panen

Menurut Sodik, keberhasilan Program Lumbung Pangan tidak cukup dinilai dari banyaknya gabah yang diproduksi. Perubahan taraf hidup, kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga, dan kemandirian dalam membiayai musim tanam berikutnya menjadi indikator yang tidak kalah penting.

Ia mengatakan tujuan utama pemberdayaan zakat adalah membantu mustahik meningkatkan pendapatan secara bertahap hingga mampu keluar dari kemiskinan dan ikut memberikan manfaat kepada masyarakat lain.

"Program ini (Lumbung Pangan Baznas) sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia dalam hal pangan dan juga sejalan dengan program pemerintah Indonesia terkait ketahanan pangan, ketahanan air, dan ketahanan energi. Kami memohon dukungan kolaborasi dan doa agar Baznas semakin dipercaya, sehingga semakin banyak masyarakat yang membutuhkan bisa kami (Baznas) bantu," ujar Sodik Mudjahid.

Program Lumbung Pangan di Batu Bara telah dijalankan sejak 2018. Secara keseluruhan, program tersebut telah menjangkau 258 petani yang mengelola lahan seluas 180,3 hektare.

Baznas memperkirakan lahan binaan itu berpotensi menghasilkan 1.082 ton gabah kering panen setiap musim dengan nilai ekonomi sekitar Rp7,3 miliar. Sepanjang 2024 hingga 2026, zakat pertanian yang dihimpun dari para petani binaan mencapai Rp423,18 juta.

Pendampingan tidak hanya berupa pemberian modal. Petani juga mendapatkan dukungan sarana produksi, teknologi pertanian, pengelolaan budidaya, hingga akses pemasaran. Modal yang dikembalikan setelah panen kemudian digulirkan kepada kelompok tani lain agar manfaat program terus berkembang.

Petani Sebelumnya Kesulitan Membeli Pupuk

Salah satu petani penerima manfaat, Rusdianto, mengatakan keterbatasan modal sebelumnya menjadi persoalan utama para petani. Biaya untuk membeli pupuk dan pestisida kerap membuat kegiatan produksi tidak berjalan optimal.

"Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada Baznas yang telah memberikan bantuan dan support kepada kelompok tani kami. Selama ini sebelum kami mendapatkan bantuan dari Baznas kami agak terkendala dengan masalah dana untuk pembelian pupuk dan pestisida, kami sangat bersyukur," tutur Rusdianto.

Setelah memperoleh modal dan pendampingan, hasil panen disebut lebih banyak dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga. Sebagian hasilnya juga dapat ditunaikan sebagai zakat.

Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian berharap keberhasilan tersebut dapat ditiru kelompok tani lain. Menurutnya, program pemberdayaan idealnya tidak membuat penerima terus bergantung pada bantuan, tetapi membantu mereka membangun sumber pendapatan yang berkelanjutan.

"Kami berharap nanti para petani kami yang ada di sini bisa juga yang tadinya sebagai penerima bisa menjadi muzaki-muzaki zakat di Kabupaten Batu Bara," ucap Baharuddin.

Pemerintah Kabupaten Batu Bara juga menyiapkan sekitar 86 hektare lahan percontohan untuk pengembangan pertanian padi modern. Program tersebut diharapkan memperkuat produktivitas pertanian dan ketersediaan pangan daerah.

Produksi Padi Batu Bara Hampir 95 Ribu Ton

Pertanian padi menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian Kabupaten Batu Bara. Badan Pusat Statistik Sumatera Utara mencatat luas panen padi di daerah tersebut pada 2025 mencapai 16.282 hektare dengan produktivitas rata-rata 58,26 kuintal per hektare.

Produksi padinya mencapai 94.856 ton gabah kering giling atau setara sekitar 54.411 ton beras. Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan petani kecil dapat berkontribusi terhadap kekuatan produksi pangan daerah.

Secara nasional, Program Lumbung Pangan Baznas telah berjalan di 21 lokasi pada 11 provinsi. Program tersebut menjangkau 1.629 mustahik dengan total penyaluran dana lebih dari Rp10,08 miliar.

Program serupa sebelumnya telah membantu 80 petani binaan di Sukabumi, Sragen, Garut, Kalimantan Selatan, dan Sleman bertransformasi menjadi muzaki sepanjang 2022 hingga 2024.

“Program Lumbung Pangan adalah bentuk nyata komitmen BAZNAS dalam memberdayakan ekonomi mustahik di pedesaan, khususnya di bidang pertanian melalui pendekatan agribisnis berkelanjutan,” ujar Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan.

Capaian di Batu Bara memperlihatkan bahwa dana zakat tidak hanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek. Ketika disertai modal, pendampingan teknis, dan akses pasar, zakat juga dapat menjadi instrumen untuk membangun kemandirian petani dan menciptakan muzaki baru.