Periskop.id – Ratusan anak memamerkan kostum bertema budaya dan lingkungan dalam World Kids Carnival x Pets Carnival, rangkaian pembuka Jember Fashion Carnaval atau JFC 2026. Acara tersebut tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga diarahkan sebagai ruang pendidikan karakter, pengembangan kreativitas, dan pengenalan kepedulian terhadap satwa sejak dini.

Kegiatan yang digelar di kawasan Central Park atau Alun-alun Jember pada Jumat (24/7) itu menjadi agenda pembuka JFC 2026. Anak-anak tampil dengan kostum penuh warna, sedangkan Pets Carnival menghadirkan sejumlah hewan bersama pemiliknya, antara lain kucing, anjing, ular, burung hantu, dan kuda. Ribuan warga dan wisatawan dilaporkan memadati kawasan penyelenggaraan pada hari pertama.

Presiden JFC Budi Setiawan mengatakan World Kids Carnival tidak boleh dipandang hanya sebagai pertunjukan busana tahunan. Proses persiapan kostum dan penampilan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menciptakan karya, berkomunikasi, serta berani tampil di hadapan masyarakat.

"World Kids Carnival JFC bukan sekadar perhelatan karnaval anak tahunan, namun ajang menumbuhkan kreativitas anak-anak untuk berkarya dengan busana," kata Budi di Jember, Sabtu (25/7).

Menurutnya, peserta telah menyiapkan penampilan selama berbulan-bulan. Proses tersebut diharapkan membentuk kepercayaan diri dan kemampuan kepemimpinan sekaligus membuka kesempatan bagi karya anak-anak Jember untuk disaksikan penonton nasional dan internasional.

"World Kids Carnival menjadi wadah bagi anak-anak untuk menunjukkan hasil kreativitas yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri sejak dini," katanya.

Anak Dilibatkan sebagai Pencipta Karya

Keterlibatan anak dalam JFC tidak berhenti pada peran sebagai model yang mengenakan kostum. Mereka juga didorong memahami gagasan di balik busana, mengenal bahan yang digunakan, dan ikut terlibat dalam proses penciptaan.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jember Ghyta Eka Puspita menilai, metode tersebut dapat menjadi sarana pendidikan karakter karena anak belajar melalui pengalaman langsung.

"Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan, sehingga mari bersama-sama menjadikan Jember ramah anak, ramah lingkungan, dan penuh semangat gotong royong," tuturnya.

Konsep JFC sejak awal memang dibangun melalui partisipasi masyarakat. Situs resmi penyelenggara mencatat JFC lahir dari gagasan Dynand Fariz pada 2003 dengan melibatkan warga lokal yang membuat kostum sendiri. Kini, penyelenggara menyebut lebih dari 2.000 kru dan relawan terlibat dalam pelaksanaan karnaval yang memiliki lintasan pertunjukan sekitar 3,6 kilometer.

Pendekatan inklusif terhadap anak juga pernah terlihat dalam Kids Carnival JFC 2018. Saat itu, anak-anak penyandang disabilitas turut tampil mengenakan kostum dan berjalan di lintasan karnaval. Presiden JFC saat itu, Dynand Fariz, menegaskan, seluruh anak mempunyai hak yang sama untuk berkarya dan tampil di ruang publik.

Kostum Kenalkan Budaya dan Kepedulian Lingkungan

World Kids Carnival 2026 mengangkat kekayaan budaya Nusantara melalui sejumlah inspirasi kostum, mulai dari panorama Raja Ampat hingga budaya Minangkabau di Sumatera Barat.

Parade tersebut menjadi bagian dari tema utama JFC 2026, HEAL atau Humanity, Earth, and Life. Tema itu menggambarkan upaya memulihkan hubungan manusia dengan lingkungan melalui seni kostum, musik, budaya, dan pertunjukan jalanan. Rangkaian JFC berlangsung pada 24–26 Juli 2026, dilanjutkan dengan Wonderful Artchipelago Carnaval Indonesia dan Artwear Carnival, kemudian ditutup Grand Carnival.

“Persaudaraan anak-anak selalu menjadi misi utama. Selain itu, kami juga ingin memperkenalkan kepada anak-anak bagaimana mencintai bumi dan lingkungan yang dituangkan dalam kostum yang mereka buat,” ujar Budi.

Dimensi internasional turut terlihat dari kehadiran sekitar 100 tamu asal Jepang dalam pembukaan JFC 2026. Keterlibatan tersebut memperkuat pesan bahwa kreativitas anak dapat menjadi penghubung antarkebudayaan sekaligus memperkenalkan Jember kepada masyarakat dunia.

Pets Carnival Bawa Pesan Cinta Satwa

Selain kreativitas anak, rangkaian pembuka JFC membawa pesan edukasi mengenai hubungan manusia dan hewan. Hewan-hewan yang tampil bersama pemiliknya diharapkan dapat mengenalkan kepada anak bahwa satwa perlu dirawat, dilindungi, dan diperlakukan secara bertanggung jawab.

Pets Carnival pertama kali masuk dalam rangkaian JFC pada 2018 dengan melibatkan komunitas pencinta hewan. Ketika itu, parade menghadirkan kucing, anjing, musang, ayam hias, dan ular di lintasan sepanjang lebih dari satu kilometer.

Pesan cinta hewan dalam karnaval juga perlu diwujudkan melalui pemenuhan prinsip kesejahteraan satwa. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 mendefinisikan kesejahteraan hewan sebagai kondisi fisik dan mental yang disesuaikan dengan perilaku alami hewan. Karena itu, pemilihan lokasi, durasi penampilan, pengangkutan, pengawasan kesehatan, serta interaksi penonton menjadi aspek penting dalam kegiatan yang melibatkan satwa.

Parade tersebut diharapkan tidak sekadar menampilkan keunikan hewan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa memelihara satwa membutuhkan komitmen jangka panjang.

JFC Juga Gerakkan Ekonomi Lokal

Di luar misi pendidikan, penyelenggaraan JFC turut memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM. Puluhan stan di sekitar lokasi menjual makanan, produk fesyen, suvenir, dan kerajinan lokal selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Bupati Jember Muhammad Fawait menilai JFC telah berkembang menjadi instrumen penggerak ekonomi yang manfaatnya dirasakan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, industri kreatif, dan usaha informal.

"Saya tidak begitu saja menerima dan mendukung JFC. Kami kaji terlebih dahulu, dan ternyata dampaknya luar biasa. Selain mengangkat seni dan fashion, JFC juga menggerakkan perputaran ekonomi di Kabupaten Jember, terutama sektor ekonomi informal," katanya.

Melalui World Kids x Pets Carnival, JFC 2026 mencoba mempertemukan kreativitas anak, kebudayaan, kepedulian lingkungan, dan cinta satwa dalam satu panggung. Tantangannya adalah memastikan pesan tersebut tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi diterapkan melalui ruang kreatif yang inklusif bagi anak serta perlakuan yang bertanggung jawab terhadap hewan.