Periskop.id - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Media Hasan Nasbi mengklarifikasi penggunaan istilah "londo ireng" oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan sebutan tersebut tidak menyasar masyarakat luas, melainkan sindiran bagi kelompok yang hobi memicu kegaduhan.
Menurutnya, istilah ini sengaja dilontarkan sebagai pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar publik lebih mengedepankan persatuan ketimbang membesar-besarkan perbedaan.
"Itu kan istilah saja untuk sebagian orang yang ya sepertinya kok lebih suka gaduh. Sepertinya kok lebih suka pesimis melihat kehidupan bangsa kita," kata Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (30/1).
Ia menambahkan bahwa masyarakat semestinya mempererat kekompakan dalam memandang masa depan negara. Sikap skeptis dinilai perlu dikurangi agar roda pembangunan nasional bisa bergerak makin cepat.
Hasan mengamati masih ada segelintir pihak yang lebih senang menonjolkan narasi negatif di tengah publik. Sikap tersebut dianggap bertolak belakang dengan semangat membangun rasa percaya diri bangsa.
"Kita harus memperbanyak optimisme, mengurangi pesimisme, memperbanyak kepercayaan diri terhadap bangsa kita dan menghilangkan rasa-rasa pesimis lah. Sehingga kita bisa maju lebih cepat," pungkas Hasan.
Di sisi lain, respons resmi juga datang dari pihak kementerian terkait untuk meluruskan persepsi publik. Langkah ini diambil guna menjaga kondusivitas informasi di ruang publik.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) lantas mengajak masyarakat mencermati secara utuh pesan yang disampaikan Kepala Negara. Imbauan ini bertujuan mencegah perdebatan istilah yang justru mengaburkan substansi masalah.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya menerangkan bahwa sebutan itu murni merupakan kiasan politik. Menurutnya, ucapan Presiden sama sekali tidak berniat menyudutkan profesi, media massa, atau kelompok tertentu.
"Yang disampaikan Presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju," tutup Fifi.
Tinggalkan Komentar
Komentar