Periskop.id - Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, meletus lima kali pada Senin (3/8) pagi. Tinggi kolom letusan bervariasi antara 300 meter hingga 700 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Liswanto memaparkan, rangkaian erupsi itu terjadi sejak dini hari hingga menjelang siang. Kolom abu yang teramati umumnya berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke beberapa penjuru mata angin.
"Kemudian erupsi kembali pada pukul 00.31 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Liswanto dalam laporan tertulis di Lumajang, Senin (3/8).
Liswanto menguraikan, letusan pertama sebenarnya terjadi lebih dulu pada pukul 00.18 WIB dengan tinggi kolom sekitar 500 meter dan abu mengarah ke utara. Erupsi ketiga menyusul pukul 01.46 WIB dengan tinggi kolom sekitar 600 meter, warna abu serupa dan arah angin tetap ke utara.
Erupsi keempat tercatat pukul 05.50 WIB dengan tinggi kolom sekitar 300 meter mengarah ke barat daya. Letusan kelima menyusul pukul 07.56 WIB dengan kolom abu setinggi 700 meter berintensitas tebal ke arah tenggara, terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 120 detik.
Liswanto menjelaskan, aktivitas vulkanik Gunung Semeru kini berada pada Status Level III atau Siaga. Warga diimbau tidak beraktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, warga juga diminta menjauhi kawasan dalam jarak 500 meter dari tepi Besuk Kobokan. Kawasan itu berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak, menurut Liswanto.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar," katanya.
Selain radius aman tersebut, Liswanto turut mengimbau warga mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan banjir lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Ia merinci sejumlah sungai yang perlu diwaspadai warga sekitar kawasan rawan bencana tersebut.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," kata Liswanto.
Tinggalkan Komentar
Komentar