Periskop.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih Rp2,4 triliun pada semester I-2026, tumbuh 33% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Total kredit konsolidasian perseroan tercatat Rp230,1 triliun, naik 12% secara tahunan.

Chief Financial Officer Bank Danamon Theresia Andriana Widjaja menyebutkan, pertumbuhan pembiayaan yang merata di seluruh lini bisnis mendongkrak perolehan laba secara progresif. Menurutnya, capaian ini mencerminkan berjalannya fungsi intermediasi perseroan di tengah dinamika ekonomi nasional.

"Total kredit tumbuh 12% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Danamon mencatatkan laba bersih tumbuh 33%," kata Theresia dalam keterangan resmi, Jumat (31/7).

Ekspansi kredit perseroan, menurut Theresia, ditopang kontribusi merata dari segmen enterprise banking dan financial institution, SME banking, consumer banking, hingga kinerja anak perusahaan Danamon.

Di sisi penghimpunan dana pihak ketiga, akumulasi rekening giro, tabungan, kasa, dan deposito konsolidasian perseroan melonjak 14% secara tahunan menjadi Rp181,7 triliun. Pertumbuhan dana masyarakat yang terhimpun ikut memperkuat kapasitas likuiditas perseroan dalam menopang bisnis utama.

"Laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP konsolidasian tercatat sebesar Rp5,9 triliun, tumbuh 13% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dan didukung perbaikan kualitas kredit yang tercermin pada penurunan biaya kredit sebesar 12% YoY, serta NIM konsolidasian sebesar 8,1%," urai Theresia.

Perbaikan kualitas kredit tersebut turut tercermin dari rasio Loan at Risk (LAR) yang membaik 263 basis poin menjadi 7,8%, serta rasio NPL Bruto yang turun 33 basis poin menjadi 1,7%. Dalam hal mitigasi risiko, perseroan mempertebal rasio cakupan NPL di level 282,4% dan rasio cakupan LAR yang melonjak 795 basis poin YoY hingga mencapai 59,9%.

"Danamon selalu mengedepankan prinsip hati-hatian dalam menjalankan bisnisnya," kata Theresia.

Ia menambahkan, kualitas portofolio aset perseroan berjalan beriringan dengan posisi likuiditas dan ketahanan modal yang memadai. Per 30 Juni 2026, rasio cakupan likuiditas (LCR) perseroan tercatat sebesar 134,8% dan rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) berada di posisi 112,3%, sementara rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum terjaga di level 22,3%.

"Kualitas aset tersebut juga terjaga bersamaan dengan likuiditas dan permodalan yang tetap kuat," kata Theresia.