iklan periskop
Industri

Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Hijau Tenaga Surya

Indonesia memprioritaskan industri hijau berbasis tenaga surya 100 GW. Menko Airlangga gandeng Jerman percepat transisi energi dan realisasi dana JETP.

2 jam yang lalu · 2 mnt baca
Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Hijau Tenaga Surya
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat ditemui Jakarta, Selasa (26/5). Periskop/Siti Ayu Rachma.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia memprioritaskan transformasi industri hijau berbasis tenaga surya. Langkah strategis ini menargetkan penambahan kapasitas listrik energi terbarukan secara signifikan dalam kurun dua hingga tiga tahun ke depan.

Ia menjelaskan, target kapasitas pembangkit listrik tenaga surya tersebut dipatok mencapai sekitar 100 gigawatt (GW) sesuai arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kebijakan ini menjadi pijakan penting pemerintah untuk mengurangi ketergantungan nasional terhadap bahan bakar fosil.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, prioritas kami juga mencakup energi hijau, khususnya transformasi menuju industri berbasis tenaga surya, dengan target kapasitas sekitar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2-3 tahun,” kata Menko Airlangga di Jakarta, Kamis (20/8).

Airlangga menyampaikan, program dedieselisasi di wilayah kepulauan menjadi fokus utama penanganan energi pada tahun ini. Ia menilai konversi sistem pembangkit diesel ke tenaga surya di pulau-pulau kecil merupakan kebutuhan mendesak bagi efisiensi nasional.

Menurutnya, pencapaian target transisi energi ini membutuhkan dukungan teknologi serta barang modal dalam jumlah besar. Oleh karena itu, ia membuka peluang partisipasi luas bagi negara sahabat, khususnya Jerman, untuk terlibat langsung dalam proyek transformasi tersebut.

Airlangga menyebutkan bahwa Jerman juga memegang peran kunci sebagai mitra strategis dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP). Lewat kerja sama internasional ini, Indonesia mengantongi komitmen pendanaan transisi energi bersih sebesar US$21,4 miliar.

Namun, ia mengungkapkan realisasi penyerapan dana dekarbonisasi tersebut sejauh ini baru menyentuh angka sekitar US$4 miliar. Ia menilai akselerasi kerja sama mutlak dilakukan agar pemanfaatan alokasi dana jumbo itu bisa berjalan lebih cepat dan optimal.

Merespons hal itu, Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan menyatakan kesiapan negaranya dalam mendukung agenda hijau Indonesia. Menurutnya, kolaborasi ini sejalan dengan komitmen bersama kedua negara untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

“Salah satu bidang yang memungkinkan hal ini adalah energi terbarukan, di mana perusahaan-perusahaan Jerman membawa serta pengalaman dan teknologi yang luas,” kata Menteri Radovan.

Ia menambahkan, keterlibatan sektor swasta, publik, hingga akademisi Jerman siap dikerahkan untuk merumuskan solusi berkelanjutan. Menurutnya, langkah kolaboratif ini menjadi pijakan tepat untuk mematangkan pengembangan teknologi hijau masa depan.

Adapun program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sendiri telah resmi masuk ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target awal 17,1 GW.

Pemerintah optimistis penguatan kapasitas surya hingga 100 GW ini bakal merealisasikan target ambisius 100% listrik dari energi terbarukan dalam dekade mendatang.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Airlangga Hartarto, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.