Kemenko Perekonomian Ungkap 4 Kriteria Motor Listrik Nasional Molinas
Kemenko Perekonomian menetapkan empat syarat wajib bagi motor listrik yang ingin masuk kategori Molinas, mulai dari TKDN hingga baterai berbasis nikel.

Periskop.id - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan empat kriteria yang wajib dipenuhi kendaraan agar bisa masuk kategori Motor Listrik Nasional (Molinas). Aturan ini disiapkan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik sekaligus mendongkrak daya saing industri dalam negeri.
Keempat kriteria itu meliputi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 60%, termasuk pada power train, frame atau structure, plastik, dan body panel. Motor juga wajib didesain dan direkayasa di dalam negeri, menggunakan baterai berbasis nikel, serta dibanderol dengan harga terjangkau sesuai kebutuhan pasar domestik.
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian Atong Soekirman menjelaskan, keempat syarat tersebut harus dipenuhi secara bersamaan, bukan salah satu saja. Menurutnya, pengembangan Molinas tidak cuma soal produk kendaraan, tapi juga diarahkan untuk membangun kemampuan industri nasional di bidang desain, engineering, manufaktur, teknologi, hingga rantai pasok.
"Fokus utama Molinas adalah membangun kemampuan desain, engineering, manufaktur, teknologi, serta rantai pasok dalam negeri," ujar Atong di Jakarta, Kamis (20/8).
Atong menilai peluang pengembangan motor listrik nasional masih terbuka lebar. Ia menyebut jumlah sepeda motor konvensional di Indonesia sudah mencapai 145,25 juta unit, sementara populasi motor listrik hingga Desember 2025 baru menyentuh 229.554 unit.
Kesenjangan itu, menurut Atong, jadi alasan pemerintah optimistis permintaan motor listrik bakal terus terkerek dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2028, total permintaan motor listrik diproyeksikan tembus 1,5 juta unit.
"Total permintaan motor listrik 2028 diperkirakan mencapai 1,5 juta unit," kata Atong.
Selain mendorong pemakaian kendaraan listrik, Molinas juga diproyeksikan mendatangkan dampak ekonomi yang tidak kecil. Pemerintah memperkirakan program ini bisa menghemat subsidi bahan bakar minyak (BBM) sampai Rp82,2 triliun sepanjang 2027 hingga 2037, dengan asumsi 11 juta unit motor listrik sudah beroperasi pada 2037.
Ekosistem Molinas diperkirakan mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun dalam rentang 2026-2031. Program ini disebut berpotensi membuka sekitar 215 ribu lapangan kerja baru di sektor manufaktur, komponen, baterai, dan infrastruktur pengisian daya.
Atong menambahkan, pengembangan Molinas juga bisa memperkuat neraca perdagangan lewat substitusi impor minyak yang diperkirakan bernilai Rp45 triliun.
Program Molinas beserta ekosistem pendukungnya diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8). Prabowo hadir didampingi sejumlah menteri dan perwakilan dunia usaha, termasuk pelaku industri yang sudah memproduksi motor listrik secara massal di dalam negeri.
"Bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, secara resmi, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, luncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukung," ujar Prabowo saat acara peluncuran Molinas di Cikarang.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Prabowo Subianto, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), dan motor listrik nasional dengan mengeklik tautan.








Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.