Karhutla Kalimantan Tembus 57 Ribu Hektare, Prabowo Turun Langsung Pimpin Penanganan
Prabowo bertolak ke Kalimantan memimpin penanganan karhutla. Luas kebakaran mencapai 57.088 hektare dan 12.880 personel gabungan dikerahkan

Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan, Sabtu (22/8), untuk memimpin langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kunjungan dilakukan ketika luas lahan terbakar di Pulau Kalimantan telah mencapai sekitar 57.088 hektare dan 12.880 personel gabungan dikerahkan dalam operasi pemadaman.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Presiden ingin memastikan operasi penanganan berlangsung secara serentak dan terkoordinasi di wilayah terdampak.
"Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, Presiden Prabowo langsung terbang menuju Kalimantan untuk mengecek dan memimpin langsung penanganan serentak karhutla di Kalimantan," ujar Teddy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.
Sehari sebelum keberangkatan, Prabowo telah memberikan instruksi kepada jajaran utama TNI dan Polri untuk turun langsung bersama pemerintah daerah, petugas lapangan, serta masyarakat di empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
"Pembagian tugas dilakukan untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan lebih cepat, terpadu dan serentak," ujarnya.
Untuk Kalimantan Barat, Prabowo menugaskan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Penanganan di Kalimantan Tengah dipimpin Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak bersama Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo. Di Kalimantan Selatan, tugas diberikan kepada Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali bersama Astamaops Polri Komjen Pol Muhammad Fadil Imran.
Sementara Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita dan Komandan Korps Brimob Polri Komjen Pol Ramdani Hidayat, ditugaskan menangani situasi di Kalimantan Timur.
Prabowo juga meminta unsur penanganan tidak hanya fokus pada pemadaman. Penegakan hukum harus tetap dilakukan apabila ditemukan pelanggaran yang menjadi penyebab maupun memperparah karhutla.
"Presiden menginstruksikan agar penanganan karhutla dilakukan secepat dan seoptimal mungkin sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal. Presiden juga meminta setiap pelanggaran hukum yang ditemukan ditindak secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku," ujar Teddy.
Lebih dari 57 Ribu Hektare Lahan Terbakar
Skala karhutla di Kalimantan cukup besar. Kementerian Kehutanan mencatat total sementara lahan yang terbakar mencapai 57.088 hektare hingga Jumat (21/8).
Kalimantan Barat mencatat luasan terbesar, yakni sekitar 38.319 hektare. Selanjutnya Kalimantan Selatan 8.019 hektare, Kalimantan Tengah 7.635 hektare, Kalimantan Timur 2.715 hektare dan Kalimantan Utara sekitar 400 hektare.
Operasi pemadaman di Kalimantan bahkan telah memasuki hari ke-48. Sebanyak 12.880 personel gabungan terlibat, terdiri dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, BPBD, dinas lingkungan hidup, pemerintah daerah, relawan serta unsur masyarakat.
Khusus dari Kementerian Kehutanan, 758 personel Manggala Agni dikerahkan. Sebanyak 265 orang ditempatkan di Kalimantan Barat, 208 di Kalimantan Tengah, 174 di Kalimantan Selatan dan 111 di Kalimantan Timur.
"Operasi belum selesai. Pemadaman darat dan udara terus berjalan, terutama di lokasi yang membutuhkan penanganan panjang," kata Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan Yudho Mustiko.
Pemadaman dilakukan melalui operasi darat, pembasahan lahan gambut dan dukungan udara. Kemenhut juga mencatat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilakukan melalui 45 penerbangan dengan total 45 ton bahan semai.
Pemerintah Kerahkan 52 Armada Udara
Sehari sebelum kunjungan Prabowo, pemerintah kembali memperkuat kekuatan udara. Lima pesawat TNI AU diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk membantu operasi karhutla.
Pesawat tersebut memperkuat 30 armada BNPB yang sebelumnya telah beroperasi di Kalimantan. Secara keseluruhan, pemerintah telah mengerahkan 52 armada udara untuk enam provinsi prioritas di Sumatra dan Kalimantan, dengan 30 unit berada di Kalimantan dan 22 lainnya di Sumatra.
Armada digunakan untuk patroli, OMC dan water bombing. BNPB secara lebih rinci mengoperasikan dua helikopter patroli, satu unit untuk OMC dan lima helikopter water bombing di Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah didukung satu helikopter patroli, satu untuk OMC dan empat unit water bombing, sedangkan Kalimantan Selatan mendapatkan satu helikopter patroli, satu OMC dan tiga helikopter water bombing.
Operasi darat tetap menjadi komponen utama karena kebakaran pada lahan gambut tidak selalu dapat dipadamkan hanya dari udara. Petugas perlu melakukan penyisiran, pembasahan dan pendinginan untuk memastikan api yang berada di bawah permukaan tidak kembali menyala.
Hotspot Turun, Risiko Karhutla Belum Hilang
Di tengah operasi besar tersebut, jumlah titik panas nasional mulai menunjukkan penurunan. Data SiPongi Kementerian Kehutanan berbasis satelit Terra-Aqua NASA mencatat hotspot turun dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus, atau berkurang sekitar 56,2%.
Penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Barat. Jumlah titik panas turun dari 784 menjadi 82 titik dalam sehari. Namun, Kementerian Kehutanan menegaskan penurunan tersebut belum menjadi alasan untuk mengendurkan operasi karena kondisi cuaca masih sangat mendukung terjadinya kebakaran.
BMKG mencatat sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Curah hujan rendah mendominasi 90,79% wilayah, sementara 87,28% wilayah mengalami sifat hujan bawah normal.
Situasi semakin dipengaruhi El Nino berintensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua fenomena tersebut cenderung mengurangi pasokan uap air dan mempertahankan kondisi kering di sebagian besar Indonesia. BMKG memperkirakan curah hujan rendah masih berpeluang mendominasi banyak wilayah hingga awal September, termasuk Kalimantan.
Asap karhutla juga telah terdeteksi melalui citra Satelit Himawari-9 di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra pada 19 Agustus. Sebagian asap terbawa pola angin menuju wilayah di sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah tetap mempertahankan operasi gabungan meskipun jumlah hotspot mulai turun. Selain pemadaman, pemerintah menekankan patroli, deteksi dini serta penegakan hukum diperlukan untuk mencegah munculnya kebakaran baru selama puncak musim kemarau.
Kehadiran Prabowo di Kalimantan kini diarahkan untuk memastikan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, BNPB dan Kementerian Kehutanan berjalan dalam satu komando penanganan, terutama di empat provinsi yang mengalami dampak besar.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Teddy Indra Wijaya, seskab, kalimantan, Prabowo Subianto, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.