iklan periskop
Infrastruktur

Prabowo Ingin Libatkan Kampus di Proyek Giant Sea Wall, IPB hingga ITS Turun Tangan

Prabowo meminta IPB, ITB, Undip hingga ITS terlibat dalam Giant Sea Wall Pantura. Proyek 575 km ini dibagi 15 segmen dan ditargetkan dimulai di eranya

1 jam yang lalu · 4 mnt baca
Proyek Giant Sea Wall
Ilustrasi proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) di pesisir Jakarta. Image generated by AI
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah tidak ingin pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa hanya bergantung pada teknologi dan konsultan asing. Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi dan peneliti Indonesia terlibat langsung sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek yang diproyeksikan membutuhkan waktu 15-20 tahun tersebut.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, keterlibatan kampus menjadi bagian penting dalam arahan Presiden, terutama untuk memastikan proyek strategis nasional dibangun berdasarkan kajian ilmiah sekaligus menghasilkan penguasaan teknologi oleh Indonesia.

"Pertanyaan Bapak Presiden hampir selalu sama. Sudah dihitung oleh siapa? Sudah diuji di mana? Dan siapa ahli kita yang menanganinya?. Beliau juga menegaskan tidak boleh ada investasi tanpa transfer teknologi. Maknanya jelas, kampus kita harus ada di dalam, bukan menonton dari luar," kata Mendiktisaintek dikutip Minggu (16/8).

Kemdiktisaintek telah menandatangani nota kesepahaman yang menempatkan perguruan tinggi sebagai center of excellence dan penyedia tenaga ahli multidisiplin. Sejumlah kampus yang sudah dilibatkan antara lain IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kontribusi akademisi tidak hanya menyentuh konstruksi. Para peneliti dilibatkan mulai dari pemodelan hidrodinamika, teknologi konstruksi pantai yang adaptif, inovasi material hingga kajian sosial ekonomi masyarakat pesisir yang akan terdampak pembangunan.

"Dan ini tidak berhenti di kajian. Para guru besar dan pakar dilibatkan langsung masuk ke dalam tim pelaksana yang dipimpin Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa," ujar Mendiktisaintek Brian.

Teknologi Kampus Sudah Diuji di Demak dan Semarang

Keterlibatan perguruan tinggi dalam proyek tanggul laut sebenarnya telah disiapkan sejak beberapa bulan lalu. Pada April 2026, seusai rapat bersama Prabowo di Istana, Brian mengatakan sejumlah hasil penelitian kampus telah melewati tahap uji coba, termasuk teknologi yang diterapkan di Demak dan Semarang.

“Nah, banyak hasil-hasil penelitian di kampus yang juga sudah diuji coba. Salah satunya yang berhasil di Demak, Semarang. Itu juga nanti kita diminta berpartisipasi aktif. Jadi, dosen-dosen yang selama ini penelitian-penelitian yang ada di kampus yang mendukung untuk percepatan dan menjadi lebih efisien tentang pengembangan giant sea wall itu diminta untuk terlibat,” kata Brian.

Kemdiktisaintek dan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) sebelumnya juga memperkuat kerja sama riset multidisiplin. Brian bahkan menyebut proyek Giant Sea Wall dapat menjadi semacam laboratorium hidup bagi perguruan tinggi agar Indonesia pada akhirnya mampu merawat, mengembangkan hingga membangun teknologi perlindungan pesisir secara mandiri.

Pemerintah menilai kebutuhan terhadap proyek tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan banjir rob. Brian sebelumnya menyebut kawasan pesisir yang akan dilindungi mencakup wilayah tempat tinggal lebih dari 30 juta penduduk dan sekitar 60% kawasan industri.

 

Giant Sea Wall

 

 

Giant Sea Wall Membentang 575 Kilometer

Skala proyek yang disiapkan pemerintah terbilang besar. BOPPJ pada Mei 2026 menyebut Giant Sea Wall direncanakan membentang sekitar 575 kilometer di sepanjang Pantura Jawa dan dibagi ke dalam 15 segmen sehingga pengerjaan dapat berlangsung secara paralel. Pemerintah masih melakukan asesmen setiap segmen dari Serang hingga Gresik karena kondisi dan aktivitas ekonomi masing-masing kawasan berbeda.

Pemerintah juga melibatkan lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota dalam penyusunan proyek. Tahap awal pengembangan diarahkan antara lain ke Teluk Jakarta serta koridor Demak-Semarang-Kendal. Selain tanggul konvensional, konsep perlindungan pesisir akan dikombinasikan dengan solusi berbasis alam seperti mangrove.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan pembangunan tidak dirancang hanya sebagai proyek fisik, melainkan terintegrasi dengan pengembangan ekonomi Pantura.

“Kami berharap tahun ini ada progres yang lebih nyata. Sebab, yang dibangun bukan hanya tanggul, tetapi juga blueprint pengembangan kawasan pantura agar lebih berkembang secara ekonomi,” kata AHY.

Pemerintah juga tengah mempersiapkan skema pembiayaan karena kebutuhan investasinya besar. Salah satu opsi yang dikaji adalah land value capture, yakni memanfaatkan peningkatan nilai ekonomi kawasan yang muncul seiring pembangunan infrastruktur untuk mendukung pembiayaan proyek.

Prabowo Targetkan Pembangunan Dimulai di Eranya

Komitmen mempercepat Giant Sea Wall kembali ditegaskan Prabowo ketika menyampaikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan pada Jumat (14/8/2026). Presiden menyebut proyek akan membutuhkan waktu panjang, tetapi pembangunan harus dimulai sekarang.

"Proyek Giant Sea Wall ini akan butuh 15 hingga 20 tahun untuk kita selesaikan pembangunannya. Ini waktu yang lama. Saya tidak tahu Presiden ke berapa yang akan meresmikan. Tapi saya bertekad Presiden Kedelapan akan mulai proyek ini," ucapnya.

Prabowo juga menyatakan pembangunan 15 segmen secara bersamaan berpeluang memperpendek waktu penyelesaian. Menurut Presiden, proyek tersebut dibutuhkan untuk melindungi jutaan warga Pantura serta kawasan daratan yang menghadapi tekanan kenaikan muka air laut. Selain berfungsi sebagai perlindungan pesisir, pemerintah ingin infrastruktur tersebut mendukung penyediaan air bersih, pertumbuhan ekonomi baru dan pengembangan kemampuan rekayasa nasional.

Keterlibatan kampus dengan demikian diarahkan tidak berhenti pada penyediaan kajian pendukung. Perguruan tinggi diposisikan sebagai bagian dari tim teknis agar teknologi yang digunakan dapat diuji secara ilmiah, disesuaikan dengan karakter setiap wilayah dan pada saat yang sama ditransfer kepada tenaga ahli Indonesia.

Bagi pemerintah, pendekatan tersebut menjadi penting mengingat Giant Sea Wall akan dibangun lintas provinsi selama belasan tahun. Proyek yang berlangsung panjang diharapkan tidak hanya meninggalkan infrastruktur fisik, tetapi juga kemampuan teknologi dan sumber daya manusia yang dapat dikuasai Indonesia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Brian Yuliarto, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), dan Giant Sea Wall dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.