periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menerima Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan strategis tersebut membahas langkah cepat untuk memacu pertumbuhan sektor industri prioritas di tanah air.

Brian memaparkan, pemerintah kini fokus memetakan akselerasi proyek berskala nasional dari sektor obat-obatan hingga kendaraan. Langkah ini disebutnya sebagai bagian dari program hilirisasi strategis negara.

“Banyak program mulai dari farmasi, pengembangan industri farmasi, pengembangan mobil nasional, motor nasional, dan lain-lain ya, program-program hilirisasi itu bisa dipercepat,” ujar Menteri Brian di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (25/6).

Brian menjelaskan, rencana besar tersebut membutuhkan sokongan penuh dari sektor pemenuhan tenaga kerja yang kompeten. Penyiapan masyarakat produktif ini dinilai menjadi kunci utama keberhasilan proyek ekonomi tersebut.

Menurutnya, kepala negara menginstruksikan agar kampus-kampus lokal mencetak alumni berdaya saing tinggi. Kualitas lulusan tersebut harus sejalan dengan kebutuhan sektor riil yang sedang digenjot pemerintah.

“Kami diminta memastikan SDM-SDM, lulusan-lulusan perguruan tinggi kita tuh nantinya betul-betul bisa memenuhi, bisa memenuhi kebutuhan SDM untuk pengembangan industrialisasi yang memang tidak sedikit itu kan. Yang mulai dari mineral, kemudian ada aquaculture, aquafarming juga banyak, kemudian hilirisasi,” tuturnya.

Ia menambahkan, ketersediaan tenaga ahli wajib berjalan beriringan dengan laju ekspansi pabrik serta manufaktur. Sinkronisasi data dianggap krusial agar penyerapan tenaga kerja berjalan optimal.

Oleh karena itu, kementeriannya segera menghitung kalkulasi ril di lapangan guna mencegah ketimpangan keahlian. Evaluasi ini disebut akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan institusi pendidikan.

Langkah ini juga menjadi komitmen nyata pemerintah dalam membangun ekosistem industrialisasi yang kokoh di Indonesia. Upaya ini diyakini mampu membawa transformasi ekonomi nasional ke arah negara maju.

“Misalkan kita butuh banyak tenaga ahli kelistrikan, ternyata lulusannya nggak sesuai. Jadi kita diminta menghitung itu, memastikan ini bisa memenuhi industrialisasi yang baik,” pungkas Brian.