Negosiasi Konflik AS dan Iran Memanas Akibat Saling Tuntut, Kini Giliran Trump
Donald Trump menuntut ganti rugi dari Iran atas konflik dan serangan masa lalu sebagai syarat utama negosiasi perdamaian dan pembukaan Selat Hormuz.

Periskop.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan komitmennya untuk menuntut ganti rugi konflik dari Iran dalam setiap proses negosiasi perdamaian. Trump menilai tuntutan ini krusial atas rentetan serangan yang diduga melibatkan Teheran selama beberapa dekade.
Ia menyampaikan sikap tegas ini di tengah negosiasi penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang masih menemui jalan buntu. Langkah tersebut menjadi respons langsung atas desakan Iran yang sebelumnya meminta AS membayar ganti rugi perang.
"Saya juga menuntut kompensasi dari Iran," ujar Trump pada Selasa (11/8).
Menurutnya, klaim finansial tersebut mencakup ganti rugi atas kerusakan akibat insiden militer masa kini hingga serangan terhadap sasaran AS selama lebih dari dua dekade. Ia menambahkan bahwa kompensasi harus diberikan kepada keluarga pengunjuk rasa yang menjadi korban tindakan represif aparat Iran dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Melalui unggahan lanjutan, ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran wajib memikul tanggung jawab penuh atas kerugian materiil serta korban jiwa di wilayah Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza.
Padahal, pekan lalu ia sempat mengancam bakal menggempur infrastruktur sipil Iran secara masif sebelum akhirnya melunakkan retorika politiknya. Usai membatalkan ancaman militer tersebut, ia mengisyaratkan bahwa titik terang kesepakatan damai sebenarnya sudah semakin dekat.
Ia mengaku kini memilih pendekatan diplomatik yang lebih tenang ketimbang menggelar operasi militer terbuka. Menurutnya, strategi penekanan ekonomi jauh lebih efektif untuk menekan posisi tawar Iran di meja perundingan.
Laporan media digital Axios menyebutkan bahwa ia tidak merasa gusar meski Iran terkesan mengulur waktu terkait pembukaan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Pihak Teheran menuntut AS untuk mencabut sanksi ekspor minyak serta menghentikan pemblokiran terhadap pelabuhan-pelabuhan utama mereka sebelum negosiasi dilanjutkan.
Kondisi saling kunci ini memperparah lonjakan harga bahan bakar dan mengguncang stabilitas ekonomi global akibat penutupan jalur maritim vital tersebut. Situasi ini dinilai berpotensi memberikan tekanan politik yang signifikan bagi sang presiden menjelang gelaran pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Sebagai latar belakang, hubungan kedua negara terus memanas akibat serangkaian insiden historis, termasuk peristiwa pengeboman kapal perang USS Cole pada tahun 2000.
Tuntutan pembayaran ganti rugi tersebut dipastikan masuk secara resmi dalam poin perundingan mendatang.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Donald Trump, Amerika Serikat, iran, dan perang dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.