KSAL Nilai Karhutla Kalsel Tak Separah di Medsos, 6.029 Hektare Lahan Terbakar
KSAL Muhammad Ali menilai karhutla Kalsel tak separah yang terlihat di media sosial. Namun, 6.029 hektare lahan tercatat terbakar sepanjang 2026

Periskop.id - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menilai kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ditinjaunya di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, tidak separah gambaran yang sempat beredar di media sosial.
Meski demikian, data menunjukkan dampak karhutla di Kalsel secara kumulatif masih cukup luas dengan lebih dari 6.000 hektare lahan terbakar sepanjang 2026.
Ali menyampaikan penilaian tersebut setelah meninjau langsung lokasi karhutla di Guntung Damar, Sabtu (22/8/2026). Peninjauan turut dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin serta jajaran TNI, Polri dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Untuk di Kalimantan Selatan, kita lihat sendiri tidak terlalu parah. Memang dua hari yang lalu sempat viral di media, tetapi setelah kita datang ke sini tidak separah apa yang kita lihat di media sosial,” kata KSAL Ali setelah peninjauan.
Menurut Ali, salah satu faktor yang membantu kondisi di lokasi adalah pergerakan angin laut yang membuat asap lebih cepat terbawa. Penanganan juga dilakukan secara terpadu oleh BPBD, BNPB, Basarnas, TNI, Polri serta unsur pemerintah daerah.
“Peninjauan ini dilakukan untuk melihat langsung kondisi karhutla sekaligus upaya pemadaman yang dilaksanakan secara gabungan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI dan Polri,” katanya.
Ali memastikan, pemerintah pusat tetap memberikan dukungan untuk penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Bantuan tersebut meliputi pengerahan personel hingga dukungan pesawat dan helikopter untuk membantu operasi dari udara.
Data BPBD: 6.029 Hektare Lahan Terbakar
Meski kondisi yang dilihat KSAL di Guntung Damar pada Sabtu dinilai telah lebih terkendali, data kumulatif memberikan konteks berbeda mengenai skala karhutla di seluruh Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data BPBD Kalsel yang diberitakan sejumlah media lokal, sepanjang 1 Januari hingga 18 Agustus 2026 tercatat 1.552 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak sekitar 6.029,67 hektare. Kabupaten Banjar mencatat luasan terbesar mencapai 1.347,62 hektare, disusul Tanah Laut 1.244,08 hektare dan Banjarbaru sekitar 1.029,7 hektare.
Data BNPB juga menunjukkan ancaman titik panas belum sepenuhnya hilang. Pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8) mendeteksi 74 hotspot di Kalimantan Selatan. Secara keseluruhan, Pulau Kalimantan ketika itu mencatat 1.487 hotspot, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Karena itu, BNPB tetap meminta pemerintah daerah meningkatkan pemantauan dan deteksi dini selama musim kemarau. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran di wilayah rawan dan segera melaporkan kemunculan api kepada petugas.
Guntung Damar sendiri termasuk lokasi strategis dalam penanganan karhutla karena berada di kawasan ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor. BPBD Kalsel sebelumnya menempatkan lima pos lapangan khusus di kawasan sekitar bandara, termasuk Guntung Damar, Pengayuan, Bati-Bati, Jalan Gubernur Sarkawi dan Alalak.
“Area prioritas pertama memang kawasan sekitar bandara. Setelah itu prioritas kedua adalah wilayah utara yang meliputi Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara hingga Tabalong,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra dalam keterangan sebelumnya.
Kabut Asap Sempat Ganggu Sekolah
Dampak karhutla di Banjarbaru juga sempat dirasakan masyarakat melalui munculnya kabut asap. Pemerintah Kota Banjarbaru bahkan mengubah jam masuk sekolah dari pukul 07.30 menjadi pukul 09.00 WITA setelah asap mulai mengganggu aktivitas pada pekan ini.
Kondisi memburuk ketika kebakaran pada Jumat (21/8) merembet ke kawasan Sekolah Rakyat Terpadu 9 Banjarbaru. Api awalnya muncul dari lahan di seberang sekolah sebelum terbawa angin dan menyeberang ke kawasan sekolah. Petugas dan sejumlah pihak kemudian melakukan pemadaman untuk mencegah kebakaran mendekati fasilitas pendidikan.
“Karena angin, jadi dia ke arah jalan. Tambah anginnya tambah kencang tadi, sebagian sudah mulai nyebrang ke lahan Sekolah Rakyat,” kata petugas keamanan Sekolah Rakyat Terpadu 9 Banjarbaru Muhammad Kaspul Anwar.
BMKG juga sempat memprakirakan kondisi kabut atau asap di sejumlah kecamatan Banjarbaru pada 19-21 Agustus, termasuk Landasan Ulin, Cempaka, Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan dan Liang Anggang. Kondisi cuaca pada Sabtu (22/8) diprakirakan lebih cerah di wilayah tersebut.
Pemadaman Tetap Dilanjutkan
Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin yang mendampingi KSAL mengatakan api yang terlihat dalam peninjauan berada di bagian pinggir kawasan dan kondisinya tidak seperti kekhawatiran yang sebelumnya muncul.
Namun, ia tetap mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memunculkan titik api baru. Jika terjadi kebakaran, area di sekitar titik api juga perlu dibersihkan untuk menghambat penjalaran.
Upaya pencegahan ini penting karena karakteristik sebagian lahan di sekitar Banjarbaru berupa lahan gambut dan semi gambut membuat api dapat menyebar serta bertahan di bawah permukaan tanah. Pemerintah daerah sejak awal musim kemarau telah memperkuat patroli dan pos lapangan untuk mempercepat penanganan ketika titik api muncul.
“Alhamdulillah, seluruh titik api yang kami tangani hari ini sudah padam dan dalam kondisi aman terkendali. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Koordinator TRC Pengendalian Bencana BPBD Kalsel Sahri dalam penanganan karhutla sebelumnya.
Pernyataan KSAL mengenai kondisi Guntung Damar dengan demikian menggambarkan situasi ketika peninjauan dilakukan, bukan keseluruhan akumulasi dampak karhutla di Kalimantan Selatan sepanjang tahun. Dengan ribuan hektare lahan telah terbakar dan kabut asap sempat mengganggu aktivitas warga, operasi pemadaman, patroli serta pencegahan tetap diperlukan selama kondisi kemarau masih meningkatkan risiko munculnya kebakaran baru.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai TNI AL, angkatan laut, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dan Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.