Periskop.id - Indonesia memasuki babak baru dalam pembangunan alat utama sistem persenjataan bawah laut. PT PAL Indonesia resmi memulai fabrikasi kapal selam Scorpene Evolved untuk TNI Angkatan Laut melalui seremoni first steel cutting di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (7/8).
Pembangunan ditargetkan berlangsung selama 96 bulan atau sekitar delapan tahun. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyebut, progres keseluruhan program saat ini telah mencapai sekitar 20,5%, setelah kontrak pengadaan efektif sekitar setahun lalu.
"Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun," kata Ali.
"Kami berharap ini bisa terbangun dengan tepat waktu. Jadi, delivery time-nya bisa tepat waktu," ujarnya.
Angka progres tersebut tidak hanya menggambarkan fabrikasi fisik kapal. Sebelum pemotongan baja pertama dilakukan, PT PAL dan Naval Group telah melewati berbagai tahap mulai dari desain, penyiapan fasilitas produksi, kualifikasi manufaktur, hingga pelatihan insinyur Indonesia. PT PAL sebelumnya menyatakan qualification sectionmenjadi tahap untuk memastikan sumber daya manusia, proses produksi dan sistem pengendalian mutu memenuhi standar pembangunan kapal selam.
Dua Scorpene Dibangun Penuh di Surabaya
Kontrak pengadaan mencakup dua unit Scorpene Evolved Full Lithium-Ion Battery. Kesepakatan ditandatangani pada 28 Maret 2024 dan mulai berlaku efektif pada 23 Juli 2025. Naval Group menegaskan kedua kapal akan dibangun di galangan PT PAL di Indonesia melalui skema transfer teknologi.
Reuters pada April 2024 juga melaporkan kedua kapal selam sepanjang sekitar 72 meter itu akan diproduksi di Indonesia sebagai bagian dari kerja sama pertahanan Jakarta dan Paris.
Ali menilai pembangunan tersebut berbeda dibandingkan pengalaman Indonesia sebelumnya karena proses produksi Scorpene dimulai sejak tahap awal pembuatan badan kapal.
"Ini merupakan hal yang sangat bagus sekali. Ini pertama kali kita membangun kapal selam dari awal, dari awal di Indonesia. Di negara-negara ASEAN mungkin kita yang pertama kali membangun kapal selam di dalam negerinya," ucapnya.
Indonesia sebenarnya pernah menyelesaikan pembangunan KRI Alugoro-405 di fasilitas PT PAL. Namun, pembangunan Alugoro merupakan bagian dari kerja sama dengan Korea Selatan dengan lingkup pekerjaan di Indonesia antara lain penyambungan bagian kapal atau joint section, pengujian dan sea trial. Scorpene menjadi langkah lanjutan karena proses konstruksinya dikerjakan sejak tahap pemotongan baja di dalam negeri.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan, dimulainya konstruksi menjadi bukti perkembangan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Prancis.
"First steel cutting ini juga menunjukkan bagaimana konsorsium kerja sama antara Naval Group dan PT PAL Indonesia berlangsung dengan sangat baik," kata Djenod.
Menurut PT PAL, program tersebut juga diarahkan untuk mencapai kemampuan whole local production, yakni membangun kapal selam secara utuh di Indonesia. Proyek dua Scorpene diperkirakan menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja sekaligus melibatkan industri domestik dalam rantai pasoknya.
Scorpene Bisa Menyelam Lebih dari 300 Meter
Scorpene Evolved yang dipesan Indonesia menggunakan konfigurasi penuh baterai lithium-ion. Naval Group menyebut teknologi tersebut memberikan energi yang lebih besar, waktu pengisian lebih singkat dan memungkinkan kapal mempertahankan kecepatan tinggi pada berbagai tingkat pengisian baterai.
Berdasarkan spesifikasi yang dipublikasikan Naval Group, kapal selam tersebut memiliki panjang 72 meter dengan bobot permukaan sekitar 1.600 hingga 2.000 ton. Kecepatan ketika menyelam mencapai lebih dari 20 knot dan kedalaman operasi disebut lebih dari 300 meter.
Kapal dapat membawa 31 awak dengan kemampuan berada di bawah permukaan selama lebih dari 12 hari dan memiliki otonomi lebih dari 78 hari dalam misi selama 80 hari. Scorpene juga menggunakan sistem manajemen tempur SUBTICS.
Dari sisi persenjataan, platform Scorpene memiliki enam tabung peluncur dengan kapasitas total hingga 18 senjata berupa torpedo maupun peluru kendali, tergantung konfigurasi yang dipilih pengguna. Ali menegaskan kemampuan peluru kendali menjadi peningkatan penting bagi armada kapal selam TNI AL.
"Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air," katanya.
Ia juga menilai Scorpene yang tengah dibangun merupakan generasi terbaru dibandingkan sejumlah varian yang sebelumnya telah diproduksi untuk negara lain.
"Scorpene yang kita bangun ini lebih maju dibandingkan dengan Scorpene-Scorpene sebelumnya yang dibangun di beberapa negara. Ini yang terakhir, keluaran terakhir," katanya.
Naval Group mencatat di luar dua kapal pesanan Indonesia terdapat 14 Scorpene lain yang telah beroperasi atau sedang dibangun, terdiri atas dua unit untuk Chile, dua Malaysia, empat Brasil dan enam India.

Ratusan Insinyur Indonesia Disiapkan
Pembangunan kapal selam tidak hanya ditujukan untuk menambah armada TNI AL. Pemerintah menempatkan transfer teknologi sebagai salah satu bagian utama program.
Sejumlah insinyur PT PAL telah menjalani pelatihan intensif di fasilitas Naval Group di Cherbourg, Prancis, mulai dari pengelasan, konstruksi, sistem mekanis, kelistrikan hingga pengendalian mutu. Naval Group juga menyatakan sekitar 50 tenaga ahli akan ditempatkan di Indonesia untuk membantu melatih lebih dari 400 insinyur Indonesia dalam pembangunan kapal selam.
"Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi engineer Indonesia, memperkuat industri nasional, dan membangun ekosistem manufaktur berteknologi tinggi yang mampu bersaing di tingkat global,” ujar Direktur Produksi PT PAL Indonesia Diana Rosa pada Juli 2026.
TNI AL pada saat yang sama mulai menyiapkan personel yang nantinya mengawaki Scorpene. Personel tersebut dikirim secara bertahap ke Prancis untuk menjalani pelatihan bersama Angkatan Laut Prancis dan Naval Group.
Bagi TNI AL, proyek Scorpene tidak sekadar menambah dua kapal selam baru. Pembangunan sejak tahap awal di Surabaya diharapkan menjadi fondasi agar Indonesia memiliki kemampuan yang lebih mandiri untuk membangun, mengoperasikan, merawat dan pada akhirnya mengembangkan teknologi kapal selam sendiri. Naval Group menyatakan transfer teknologi dalam program tersebut juga dirancang agar pengelolaan, operasi dan pemeliharaan armada dapat dilakukan di Indonesia oleh tenaga Indonesia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar