Rial Iran Jatuh ke Rekor Terendah 2,02 Juta per Dolar AS di Tengah Sanksi Baru AS
Rial Iran jatuh ke rekor 2,02 juta per dolar AS saat Washington meluncurkan sanksi baru terhadap lima sektor utama ekonomi Teheran

Periskop.id - Mata uang Iran kembali mencetak rekor terendah di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan meningkatnya tekanan Amerika Serikat. Rial diperdagangkan sekitar 2,02 juta per dolar AS di pasar terbuka pada Senin (24/8/2026), hanya beberapa jam sebelum Washington mengumumkan perluasan sanksi yang menyasar jaringan keuangan serta lima sektor penting ekonomi Iran.
Nilai tersebut berbeda jauh dengan kurs resmi Bank Sentral Iran yang berada di sekitar 1,5 juta rial per dolar AS. Namun, kurs pasar terbuka menjadi harga yang lebih banyak dihadapi masyarakat ketika mencari valuta asing.
Pelemahan rial sebenarnya sudah berlangsung sebelum konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari 2026. Namun, hampir enam bulan perang, gangguan perdagangan, blokade pelabuhan, kerusakan infrastruktur dan ancaman sanksi tambahan membuat tekanan terhadap mata uang Iran semakin berat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memperingatkan Iran akan menghadapi “D-Day Ekonomi”, istilah yang digunakan Washington untuk menggambarkan peningkatan besar tekanan finansial terhadap Teheran.
Pada Senin, Departemen Keuangan AS kemudian resmi meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye untuk mempersempit akses Iran terhadap pendapatan, perdagangan dan sistem keuangan internasional.
Lima Sektor Ekonomi Iran Jadi Sasaran
Sanksi terbaru memperbesar kewenangan AS untuk menindak perusahaan atau individu asing yang tetap beroperasi atau memberikan layanan pada lima sektor Iran, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan dan pelayaran.
Menurut Departemen Keuangan AS, kelima sektor tersebut dipilih karena dinilai semakin banyak digunakan Teheran untuk mempertahankan perdagangan, memperoleh teknologi, memindahkan dana maupun menghindari berbagai pembatasan internasional.
Aset digital dinilai semakin digunakan untuk memindahkan uang di luar sistem keuangan konvensional. Emas menjadi instrumen untuk menjaga nilai kekayaan ketika rial dan sektor finansial Iran berada di bawah tekanan.
Sementara sektor penerbangan dan pelayaran dianggap Washington memiliki keterkaitan dengan pergerakan barang, minyak, teknologi hingga jaringan militer Iran.
Departemen Keuangan AS secara bersamaan menjatuhkan sanksi terhadap hampir 60 individu, perusahaan dan kapal di berbagai negara yang dituduh berkaitan dengan pengadaan teknologi nuklir dan rudal, operasi siber serta jaringan pendapatan minyak Iran.
Namun, Washington dikabarkan belum langsung menggunakan instrumen paling keras. Sejumlah lembaga keuangan besar China yang dicurigai terlibat dalam perdagangan Iran belum masuk daftar sanksi pada gelombang pertama. Pemerintah AS memilih memberikan waktu kepada mitra dagang Iran untuk mengurangi hubungan ekonomi sebelum ancaman sanksi sekunder diperluas.
Inflasi Iran Sudah Tembus 66%
Kejatuhan rial terjadi ketika daya beli masyarakat Iran sudah tergerus inflasi tinggi.
Data Statistical Centre of Iran yang dikutip Reuters menunjukkan inflasi tahunan mencapai 66% pada Juli 2026, sementara harga konsumen tercatat 87,9% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Khusus harga pangan, inflasinya bahkan mencapai 128%.
Kondisi tersebut membuat pelemahan mata uang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Barang impor menjadi lebih mahal, sementara kebutuhan pangan dan biaya hidup terus meningkat.
Reuters melaporkan rumah tangga mulai mengurangi konsumsi daging dan sejumlah kebutuhan pokok. Kenaikan upah juga tidak sepenuhnya mampu menutup penurunan daya beli karena nilai rial terus melemah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya juga mengakui pendapatan negara melemah ketika biaya ekonomi akibat perang meningkat. Iran menjual minyak lebih sedikit, sementara penerimaan pajak ikut tertekan karena banyak bisnis mengalami kerusakan atau penurunan aktivitas.
Ekspor Minyak ke China Turun Tajam
Minyak menjadi salah satu titik paling kritis karena selama bertahun-tahun merupakan sumber devisa penting bagi Iran. China menjadi pembeli terbesar minyak Iran dengan rata-rata sekitar 1,4 juta barel per hari sepanjang 2025, berdasarkan data perusahaan pelacakan kapal Kpler yang dikutip Reuters.
Namun, pengiriman turun tajam setelah Amerika Serikat memperbarui blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran pada 13 Juli.
Pasokan menuju China diperkirakan hanya mencapai 534.000 barel per hari pada Agustus 2026, turun dari 823.000 barel per hari pada Juli. Pada Januari dan Februari sebelum konflik memuncak, pembelian China masih mencapai sekitar 1,24 juta hingga 1,58 juta barel per hari.
Tekanan terhadap perdagangan minyak membuat ancaman sanksi baru semakin relevan. Washington kini tidak hanya membidik perusahaan Iran, tetapi juga memperingatkan perusahaan dan lembaga keuangan negara lain bahwa mereka dapat kehilangan akses terhadap sistem keuangan AS jika membantu Iran menghindari sanksi.
Meski demikian, pengalaman sebelumnya menunjukkan sanksi tidak selalu menghentikan seluruh ekspor Iran. Reuters mencatat minyak Iran selama ini tetap masuk ke China melalui jaringan perdagangan kompleks, termasuk penggunaan perusahaan perantara dan pengubahan asal pengiriman.
Iran Klaim Siap Hadapi Tekanan AS
Teheran menolak anggapan bahwa tekanan ekonomi akan membuat pemerintah menyerah.
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan, negaranya telah mempersiapkan diri menghadapi sanksi dan mempunyai instrumen untuk membalas tekanan Washington. Pejabat militer Iran juga memperingatkan kepentingan AS maupun jalur energi regional dapat menjadi sasaran apabila infrastruktur Iran kembali diserang.
Ketegangan tersebut membuat tekanan terhadap rial tidak hanya mencerminkan persoalan ekonomi domestik, tetapi juga tingginya ketidakpastian geopolitik.
Sebelumnya, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman penghentian permusuhan pada pertengahan Juni. Namun, implementasinya mengalami kebuntuan dan Washington kembali memperketat blokade pada Juli. Hingga kini belum terlihat penyelesaian diplomatik yang mampu mengakhiri konflik.
Rial Jadi Barometer Tekanan terhadap Ekonomi Iran
Pergerakan rial kini menjadi salah satu indikator paling jelas mengenai tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi Iran.
Ketika mata uang melemah, masyarakat menghadapi kenaikan harga barang impor dan berusaha mencari aset yang dianggap lebih mampu mempertahankan nilai, mulai dari dolar AS hingga emas. Pemerintah Iran pada saat yang sama harus menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan kebutuhan dasar.
Sanksi terbaru AS bahkan secara eksplisit memasukkan sektor emas dan aset digital karena Washington menilai kedua instrumen tersebut dapat digunakan Iran untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan tradisional.
Namun, pertanyaan terbesar tetap berada pada efektivitas tekanan tersebut.
Iran telah hidup di bawah berbagai lapisan sanksi selama puluhan tahun. Reuters mencatat hukuman ekonomi sebelumnya telah melemahkan perekonomian, tetapi belum mampu memaksa kepemimpinan Iran mengubah seluruh kebijakan strategisnya.
Karena itu, rekor baru rial di level 2,02 juta per dolar AS memperlihatkan tekanan ekonomi nyata yang sedang dihadapi masyarakat Iran, tetapi belum menjadi bukti bahwa kampanye terbaru Washington akan menghasilkan konsesi politik.
Dalam jangka pendek, risiko terbesar justru berada pada spiral pelemahan mata uang, inflasi, berkurangnya ekspor minyak dan penurunan daya beli. Jika Operation Economic Outcast berhasil semakin memutus hubungan Iran dengan perdagangan dan sistem keuangan internasional, tekanan terhadap rial berpotensi berlanjut. Sebaliknya, apabila Teheran mampu mempertahankan jalur perdagangan alternatif bersama China dan mitra lainnya, dampak sanksi dapat kembali terbentur kemampuan Iran beradaptasi seperti yang terjadi pada periode-periode sebelumnya.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai iran, mata uang iran, Kurs, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.