iklan periskop
Internasional

Iran Marah Besar Usai Donald Trump Klaim Wilayah Selat Hormuz Milik AS

Iran mengecam keras klaim Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS dan siap meluruskan klaim tersebut.

19 jam yang lalu · 3 mnt baca
Selat Hormuz
Ilustrasi Selat Hormuz. dok. Periskop.id/ AI generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengecam keras klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kepemilikan Selat Hormuz.

Ia menegaskan bahwa pihak Teheran tidak akan berdiam diri menghadapi klaim unilateral tersebut.

Menurutnya, anggapan yang meyakini jalur perairan strategis itu sebagai kawasan baru milik AS merupakan sebuah kekeliruan besar. Ia menilai klaim delusional tersebut harus segera dikoreksi agar tidak menyesatkan publik internasional.

"Sama seperti Trump yang menyebut Teluk Persia dengan nama yang tepat, khayalannya tentang Selat Hormuz akan segera dihilangkan, atau kami yang akan meluruskan orang delusional ini," tegas Gharibabadi melalui akun media sosial X miliknya, Rabu (19/8).

Pernyataan menohok ini dilontarkan usai Trump mengunggah peta di platform Truth Social yang menampilkan Selat Hormuz sebagai wilayah baru kekuasaan Washington. Dalam unggahan itu, Trump turut mengancam akan mengklaim kedaulatan atas jalur laut vital tersebut secara penuh.

Gharibabadi menilai tindakan sang Presiden AS makin memperkeruh situasi geopolitik yang sudah sangat rapuh. Ia mengingatkan bahwa Teheran siap mengambil langkah tegas untuk meluruskan narasi sepihak tersebut di lapangan.

Kecaman keras ini muncul setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu berujung kandas. Kesepakatan yang memuat penghentian penuh operasi militer di semua front tersebut dinyatakan berakhir oleh Trump pada 7 Juli.

Menanggapi keputusan sepihak Washington, Kementerian Luar Negeri Iran kemudian menetapkan status kesepakatan tersebut resmi ditangguhkan sepekan setelahnya. Keputusan ini memicu kedua pihak untuk kembali terlibat dalam aksi saling serang di kawasan strategis tersebut.

Padahal, nota kesepahaman (MoU) awal mewajibkan AS dan Iran berunding untuk menyusun kesepakatan final dalam waktu paling lambat 60 hari. Batas waktu perundingan yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian tersebut telah resmi berakhir pada Senin (17/8).

Di sisi lain, perselisihan atas kendali perairan vital ini berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) secara global. Situasi ini menempatkan Trump di bawah tekanan politik dalam negeri yang menuntut penghentian perang.

"Tujuan utamanya adalah, dan akan selalu demikian, bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya pada Senin (17/8).

Sebagai upaya meredakan ketegangan regional, Iran dan Oman sejatinya telah menggelar pembicaraan bilateral untuk memulihkan akses pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jalur perairan ini tercatat menampung hingga 20% pasokan minyak dan gas dunia sebelum konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu.

Namun, upaya diplomasi tersebut mendapat ancaman militer terbuka dari Washington yang menekan Oman agar tidak menghambat pembukaan kembali jalur pelayaran itu.

"Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan," ujar Trump.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai iran, Donald Trump, Selat Hormuz, dan Amerika Serikat dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.