Internasional

Banjir Nepal Tewaskan 289 Orang, 826 Masih Hilang; Tibet Cari 558 Korban

Banjir bandang Nepal menewaskan 289 orang dan 826 masih hilang. Di Tibet, 558 orang juga belum ditemukan setelah runtuhan gletser memicu banjir besar

2 hari yang lalu · 5 mnt baca
Banjir Nepal Tewaskan 289 Orang, 826 Masih Hilang; Tibet Cari 558 Korban
Ilustrasi banjir bandang di Nepal. (AI)
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Korban banjir bandang dahsyat di Nepal terus bertambah. Kepolisian Nepal mencatat 289 orang meninggal dunia hingga Kamis (27/8/2026) siang, sementara sedikitnya 826 orang masih belum diketahui keberadaannya, termasuk ratusan wisatawan asing.

Bencana terjadi pada Rabu (26/8) ketika gelombang air bercampur lumpur, batu, dan material es menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet sebelum mengalir deras melalui Sungai Bhotekoshi menuju sistem Sungai Trishuli dan Narayani. Permukiman, jalan, jembatan, hingga fasilitas infrastruktur di sepanjang aliran sungai mengalami kerusakan berat.

Juru Bicara Kepolisian Nepal Abi Narayan Kafle mengonfirmasi kepada The Kathmandu Post bahwa angka korban meninggal telah mencapai 289 orang pada Kamis sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Korban ditemukan tidak hanya di wilayah pegunungan dekat perbatasan, tetapi hingga distrik yang berada jauh di hilir.

Sebanyak 108 jenazah ditemukan di Chitwan, 62 di Nawalparasi Timur, 27 di Dhading, 20 di Gorkha, 17 di Rasuwa, 15 di Nawalparasi Barat, 12 di Nuwakot, serta sembilan di Tanahun.

Skala kerusakan membuat pejabat lokal menyebut banjir kali ini sebagai salah satu yang terburuk yang pernah melanda daerah tersebut.

“There has never been this much damage in history,” kata Asisten Kepala Distrik Nuwakot Krishna Prasad Humagain.

826 Orang Belum Ditemukan di Nepal

Badan Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal mencatat 826 orang masih belum diketahui keberadaannya. Jumlah tersebut mencakup warga lokal, aparat keamanan, serta wisatawan domestik dan asing.

Di antara mereka terdapat 44 personel Angkatan Darat Nepal, 28 anggota Kepolisian Nepal, dan 13 personel Armed Police Force. Sementara itu, sedikitnya 644 wisatawan masih belum dapat dihubungi, terdiri atas 517 warga negara asing dan 127 wisatawan Nepal.

Reuters melaporkan lebih dari 650 warga asing masih belum ditemukan di kawasan terdampak Nepal dan Tibet. Mereka berasal dari lebih dari dua lusin negara, termasuk India, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Inggris, Kanada, serta negara lainnya.

Sebagian korban merupakan peziarah dan wisatawan yang sedang menuju kawasan Kailash Mansarovar, salah satu destinasi keagamaan penting bagi umat Hindu dan Buddha di Tibet.

558 Orang Hilang di Tibet

Angka 558 orang hilang yang sebelumnya diberitakan tidak merujuk pada jumlah korban hilang di Nepal, melainkan korban yang tercatat di Gyirong, Tibet. China Central Television (CCTV) melaporkan hingga Kamis pagi terdapat 558 orang hilang di Gyirong County, termasuk 260 warga negara asing. Tiga orang telah dikonfirmasi meninggal dunia di wilayah Tibet.

Dengan demikian, laporan terbaru menunjukkan 826 orang belum diketahui keberadaannya di Nepal dan 558 lainnya dilaporkan hilang di wilayah Tibet. Namun, data masih terus diverifikasi sehingga jumlah tersebut dapat berubah, termasuk untuk menghindari kemungkinan pencatatan ganda terhadap orang yang berada di kawasan perbatasan.

Operasi pencarian berlangsung di kedua sisi perbatasan. Nepal mengerahkan lebih dari 5.000 personel militer dan kepolisian, sementara helikopter digunakan untuk mencari korban sekaligus mengirim tenda, makanan, serta kebutuhan darurat ke daerah yang terputus aksesnya. Reuters mencatat sedikitnya 125 orang berhasil dievakuasi pada Kamis, termasuk 20 warga asing.

Awalnya Diduga Gempa, Bukti Mengarah ke Runtuhan Gletser

Penyebab bencana juga mulai mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Laporan awal menyebut gempa bumi kemungkinan memicu longsor yang kemudian menghasilkan banjir besar. Namun, analisis terbaru menunjukkan penjelasannya lebih kompleks.

Reuters melaporkan U.S. Geological Survey (USGS) menyatakan sinyal seismik yang sebelumnya dianggap sebagai gempa magnitudo 4,4 sebenarnya berasal dari energi akibat runtuhnya batuan dan es gletser, yang kemudian diikuti aliran material.

Analisis citra satelit juga menunjukkan runtuhan besar es dan batu jatuh ke lembah dan masuk ke sistem sungai. Material tersebut diduga sempat membendung aliran sebelum akhirnya jebol dan mengirimkan gelombang air, lumpur, serta batu dalam jumlah besar ke arah hilir.

Peneliti iklim Kathmandu University Rijan Bhakta Kayastha mengatakan bukti sementara mengarah pada longsoran di sisi Nepal yang membendung Sungai Lhende. "Kami menduga longsoran salju di sisi Nepal membendung Sungai Lhende," kata Kayastha.

Para ilmuwan masih menyelidiki secara penuh rangkaian kejadian tersebut, termasuk apakah kondisi suhu, pencairan es, maupun faktor geologi lain ikut berkontribusi.

Air Sungai Naik 9 Meter dalam 30 Menit

Kecepatan banjir menjadi salah satu alasan tingginya jumlah korban. Kajian awal International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menunjukkan tinggi permukaan Sungai Trishuli di Galchhi melonjak hingga sembilan meter hanya dalam 30 menit. 

Di Malekhu, muka air meningkat sekitar tujuh meter dalam periode yang sama.

Arus kemudian bergerak dari kawasan Rasuwa menuju Nuwakot dan Dhading hingga mencapai sistem Sungai Narayani di wilayah yang lebih rendah. Jenazah bahkan ditemukan lebih dari 100 kilometer dari kawasan yang paling parah terdampak.

Jalan penghubung Kathmandu dengan Tibet juga mengalami kerusakan berat. Sejumlah jembatan, permukiman, proyek pembangkit listrik, serta fasilitas perbatasan tersapu atau tertutup lumpur.

Ancaman Banjir Susulan Belum Berakhir

Selain pencarian korban, otoritas kini menghadapi risiko bencana lanjutan.

Sebuah danau bendungan alami atau barrier lake dilaporkan terbentuk di dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo. Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan volume airnya mencapai sekitar 2 juta meter kubik pada Kamis pagi.

Dalam tiga hari berikutnya, sekitar 3 juta meter kubik air tambahan diperkirakan masuk ke danau tersebut sehingga meningkatkan risiko bendungan alami jebol. Pemerintah China melakukan simulasi banjir dan pemantauan intensif untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang air baru.

Bencana kali ini juga mengingatkan pada banjir mendadak di Sungai Bhotekoshi pada 8 Juli 2025. Ketika itu, otoritas Nepal menyimpulkan banjir dipicu jebolnya danau glasial di Sungai Lhende dekat perbatasan Nepal-Tibet.

Dengan ratusan korban meninggal, lebih dari seribu orang belum diketahui keberadaannya di kedua sisi perbatasan, serta ancaman bendungan alami yang masih dipantau, operasi penyelamatan diperkirakan berlangsung panjang. Pemerintah Nepal dan China kini berpacu dengan waktu mencari korban sebelum hujan dan kondisi medan pegunungan semakin menyulitkan operasi.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai banjir bandang, dan Nepal dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.