Internasional

Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 489 Orang, Hampir 1.000 Masih Hilang

Korban tewas banjir bandang Nepal bertambah menjadi 489 orang dan hampir 1.000 masih hilang. USGS menyebut bencana dipicu runtuhnya gletser, bukan gempa

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 489 Orang, Hampir 1.000 Masih Hilang
Foto udara suasana rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). dok. Xinhua/Sulav Shrestha
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Korban banjir bandang dahsyat yang melanda Nepal terus bertambah. Sedikitnya 489 orang dilaporkan meninggal dunia hingga Jumat (28/8/2026), sementara hampir 1.000 orang masih dinyatakan hilang di Nepal dan wilayah Tibet, China, ketika operasi pencarian menghadapi ancaman banjir susulan.

Angka tersebut merupakan pembaruan dari laporan sebelumnya yang mencatat 469 kemudian 475 korban meninggal pada Jumat pagi. The Kathmandu Post sempat melaporkan 475 korban tewas berdasarkan data kepolisian Nepal, sebelum Reuters melaporkan jumlahnya kembali meningkat menjadi 489 orang.

Banjir menerjang wilayah Rasuwa dan kawasan lain di Nepal utara pada Rabu (26/8), kemudian membawa air, batu, es, lumpur, dan material longsoran ke Sungai Bhotekoshi, Trishuli hingga Narayani. Arus menghancurkan rumah, jalan, jembatan, pembangkit listrik, pasar, serta fasilitas di sepanjang aliran sungai.

Skala kehancurannya membuat Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperkirakan sedikitnya 10.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.

"Situasinya sangat parah dan menimbulkan kerusakan besar," kata juru bicara IFRC Tommaso Della Longa.

Bukan Gempa, USGS Sebut Getaran Berasal dari Runtuhan Gletser

Penyebab bencana juga mulai mendapatkan penjelasan yang lebih kuat. Naskah awal menyebut banjir dipicu gempa bumi yang disusul tanah longsor. Namun, analisis terbaru Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyimpulkan tidak terjadi gempa bumi sebagai pemicu utama.

USGS menyebut sinyal seismik berkekuatan magnitudo 5,2 yang terekam pada 26 Agustus sebenarnya berasal dari keruntuhan gletser dan aliran material longsoran, bukan pergerakan patahan tektonik. Peristiwa tersebut semula dilaporkan sebagai gempa magnitudo 4,4 sebelum data dianalisis ulang.

"Peristiwa seismik bermagnitudo 5,2 terjadi di dekat perbatasan antara Nepal dan China pada 26 Agustus. USGS menentukan peristiwa seismik tersebut merupakan keruntuhan gletser dan aliran material longsoran yang kemudian menimbulkan dampak dahsyat di wilayah hilir," kata USGS.

"Peristiwa ini awalnya dilaporkan sebagai gempa bumi bermagnitudo 4,4," imbuh mereka.

Reuters berdasarkan citra satelit dan analisis ilmuwan juga melaporkan bagian gletser di kawasan Himalaya runtuh, melepaskan longsoran es dan batu yang bergerak sangat cepat menuju sistem Sungai Lhende Khola dan Bhotekoshi. Material tersebut kemudian menghasilkan gelombang banjir besar yang bergerak puluhan kilometer ke hilir.

Karena itu, penyebutan "gempa memicu banjir" tidak lagi sesuai dengan temuan terbaru. Getaran yang semula dianggap gempa justru merupakan bagian dari proses runtuhnya es dan material pegunungan.

336 Orang Dievakuasi lewat Udara

Operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan dalam skala besar. Angkatan Darat Nepal mengerahkan sekitar 4.000 personel untuk pencarian korban, evakuasi, pelayanan medis darurat, serta distribusi bantuan di kawasan terdampak.

Juru Bicara Angkatan Darat Nepal Rajaram Basnet menyebut sedikitnya 336 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter, termasuk 45 warga negara asing dari enam negara. Mereka dievakuasi dari Timure, Dhunche, dan Mailung di Distrik Rasuwa.

Selain personel militer, Nepal mengerahkan polisi, Armed Police Force, helikopter, serta pesawat nirawak atau drone. Medan pegunungan, jalan yang terputus, dan jaringan komunikasi yang rusak membuat sejumlah daerah hanya dapat dicapai melalui udara.

Jumlah orang yang hilang masih berubah karena pemerintah terus mencocokkan laporan keluarga, operator wisata, kepolisian dan pemerintah daerah. The Kathmandu Post pada Kamis mencatat sedikitnya 910 orang belum diketahui keberadaannya di Nepal, termasuk ratusan wisatawan asing.

Korban asing berasal dari banyak negara karena kawasan Rasuwa dan perbatasan Tibet merupakan jalur wisata dan perjalanan menuju kawasan suci Kailash Mansarovar.

558 Orang Hilang di Tibet

Bencana tidak berhenti di Nepal. Di wilayah Gyirong, Tibet, China, 558 orang masih dilaporkan hilang, termasuk 260 warga negara asing, sementara sedikitnya lima orang telah dikonfirmasi meninggal.

Jika data Nepal dan Tibet digabung, jumlah orang yang belum ditemukan mendekati 1.500 pada tahap awal pendataan. Namun, angka tersebut terus diverifikasi karena terdapat risiko pencatatan ganda, khususnya untuk wisatawan yang melakukan perjalanan lintas perbatasan. Sebelumnya dilaporkan lebih dari 1.400 orang hilang di kedua wilayah.

Banjir juga menghancurkan infrastruktur penting di kawasan perbatasan. Laporan The Kathmandu Post menyebut sedikitnya 19 jembatan kendaraan dan sekitar 40 kilometer jalan raya tersapu pada fase awal bencana, selain proyek pembangkit listrik tenaga air dan permukiman.

Jenazah korban bahkan ditemukan puluhan hingga lebih dari 100 kilometer dari wilayah awal bencana, termasuk di Chitwan, Tanahun, dan Nawalparasi. Kondisi itu membuat rumah sakit serta fasilitas penyimpanan jenazah menghadapi tekanan besar dalam proses identifikasi.

Ancaman Baru: Danau Bendungan Alami Mulai Meluap

Di tengah operasi pencarian, Nepal kembali menghadapi ancaman banjir susulan.

Longsoran material membentuk danau bendungan alami atau barrier lake di dekat perbatasan Nepal-China. Pada Jumat, danau tersebut dilaporkan mulai meluap dan sebagian bendungan materialnya mengalami kerusakan.

Kondisi itu sempat membuat operasi penyelamatan udara dihentikan sekitar 90 menit. Warga dan petugas di daerah yang dinilai berisiko juga diminta bergerak menuju tempat lebih tinggi sebelum operasi pencarian dilanjutkan.

Reuters melaporkan pemerintah Nepal dan China terus memantau risiko longsoran tambahan, banjir baru, serta kemungkinan runtuhnya material pegunungan akibat kondisi medan yang masih tidak stabil.

Pemerintah RI Pastikan Belum Ada WNI Jadi Korban

Bagi Indonesia, Kementerian Luar Negeri RI memastikan hingga Jumat belum ada WNI yang dilaporkan meninggal ataupun hilang akibat banjir di perbatasan Nepal-China.

Pemantauan dilakukan melalui KBRI Beijing, Kantor Konsul Kehormatan RI di Kathmandu serta KBRI Dhaka yang juga memiliki wilayah kerja terkait Nepal.

Sejumlah negara lain telah menawarkan bantuan. Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, India dan China termasuk negara yang menyatakan kesiapan memberikan dukungan. AS juga mengumumkan bantuan awal dan menyatakan puluhan warga negaranya masih belum diketahui keberadaannya.

Nepal untuk sementara menyatakan mampu menjalankan operasi pencarian menggunakan lembaganya sendiri dan belum menerima seluruh tawaran personel penyelamat asing, meski bantuan kemanusiaan tetap berdatangan.

Dengan jumlah korban yang terus bertambah serta hampir 1.000 orang belum ditemukan, bencana Bhotekoshi berpotensi menjadi salah satu banjir bandang paling mematikan dalam sejarah modern Nepal. Tantangannya kini tidak hanya menemukan korban, tetapi juga menjaga ribuan warga dari ancaman banjir susulan, memulihkan akses transportasi dan mengidentifikasi jenazah yang terbawa jauh ke hilir.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai china, banjir bandang, dan Nepal dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.