Menlu Iran Tuding Pejabat AS Manipulasi Harga Energi demi Untung Pribadi
Menlu Iran Abbas Araghchi menuding pejabat AS memanipulasi pasar energi demi keuntungan pribadi di tengah konflik dan tekanan ekonomi terhadap Teheran

Periskop.id – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding sejumlah unsur dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) berupaya memanipulasi pasar energi dengan memanfaatkan pemberitaan media untuk memengaruhi harga demi keuntungan pribadi. Tuduhan itu disampaikan ketika ketegangan Washington-Teheran kembali meningkat dan pasar minyak masih sensitif terhadap perkembangan konflik serta situasi di Selat Hormuz.
Araghchi mengatakan, informasi yang diperoleh intelijen Iran menunjukkan adanya upaya besar untuk memainkan pasar energi. Ia juga menuding aktor yang berpihak kepada Israel memberikan gambaran terlalu optimistis mengenai perang sehingga mendorong konflik terus berlangsung.
"Intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memanipulasi pasar energi. Sejumlah elemen pemerintah AS menggunakan media yang mudah dipengaruhi untuk mempengaruhi harga demi keuntungan pribadi... Aktor-aktor yang berpihak pada Israel juga mendorong perang dengan menyampaikan penilaian yang terlalu optimistis," tulis Araghchi di platform X, Sabtu (29/8/2026).
Araghchi tidak mengungkap identitas pejabat AS yang dimaksud maupun bukti rinci yang mendasari tuduhannya. Anadolu Agency juga mencatat Menteri Luar Negeri Iran itu tidak memberikan bukti tambahan untuk mendukung klaim mengenai dugaan manipulasi harga tersebut. Karena itu, pernyataan Araghchi sejauh ini merupakan tuduhan dari pemerintah Iran yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Harga Minyak Sensitif terhadap Konflik Iran-AS
Pernyataan Araghchi muncul di tengah volatilitas pasar energi akibat ketidakpastian hubungan Iran dan AS. Reuters melaporkan harga minyak Brent naik 2,1% menjadi US$89,70 per barel pada Kamis (27/8), sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,6% menjadi US$83,53 per barel. Kenaikan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak kemungkinan kembali ke persyaratan kesepakatan penghentian konflik dengan Iran yang dicapai pada Juni.
Pergerakan harga tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh perkembangan geopolitik di Timur Tengah terhadap pasar energi. Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial karena merupakan jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20,9 juta barel minyak per harimelewati Selat Hormuz pada semester I 2025, setara sekitar 20% konsumsi petroleum cair dunia. Namun, di tengah konflik, arus minyak melalui jalur tersebut turun drastis menjadi rata-rata 4,9 juta barel per hari pada kuartal II 2026.
Hormuz juga penting bagi perdagangan gas. Sekitar 20% perdagangan LNG global pada 2024 melewati selat tersebut, dengan sebagian besar berasal dari Qatar. Kondisi itu membuat setiap eskalasi militer maupun ancaman terhadap pelayaran di Hormuz berpotensi memengaruhi tidak hanya harga minyak, tetapi juga pasokan energi global.
Berawal dari Serangan AS-Israel ke Iran
Konflik terbaru bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer, nuklir, serta infrastruktur Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta fasilitas militer AS di kawasan.
Iran dan AS kemudian mencapai nota kesepahaman pada 18 Juni 2026 untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. EIA mencatat lalu lintas pelayaran mulai meningkat setelah kesepakatan tersebut. Namun, proses menuju penyelesaian permanen tersendat dan ketegangan kembali menguat dalam beberapa pekan terakhir.
Reuters melaporkan pada 27 Agustus bahwa Washington menyatakan tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran, sementara upaya mediasi dari sejumlah negara terus berlangsung. Situasi itu kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak Timur Tengah.
AS Justru Tingkatkan Tekanan Ekonomi
Di tengah tudingan Araghchi, pemerintah AS justru sedang meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Departemen Keuangan AS pada 24 Agustus meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye untuk mempersempit akses Iran terhadap jaringan keuangan dan perdagangan internasional.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, kebijakan Washington ditujukan untuk memutus jalur ekonomi yang menopang pemerintah Iran. Pemerintah AS juga memperingatkan negara maupun perusahaan yang terus melakukan transaksi tertentu dengan Iran mengenai kemungkinan terkena sanksi sekunder dan pembatasan akses terhadap sistem keuangan berbasis dolar.
Tekanan itu diperluas pada 28 Agustus ketika Departemen Keuangan AS mengambil langkah terhadap cabang Banque Misr di Uni Emirat Arab karena dugaan transaksi yang berkaitan dengan Iran. Bank Sentral UEA kemudian melakukan pemeriksaan khusus terhadap aktivitas cabang tersebut.
Dampak perang dan sanksi juga semakin terasa pada ekonomi Iran. Reuters melaporkan perdagangan luar negeri Iran merosot 35%, sementara inflasi tahunan telah mencapai sekitar 66%. Pemerintah Iran menyalahkan sanksi serta pembatasan perdagangan AS sebagai salah satu penyebab tekanan tersebut.
Di sisi lain, Washington menyatakan tekanan ekonomi merupakan instrumen untuk memaksa Teheran mengubah kebijakannya dan kembali menuju penyelesaian konflik. Dengan Selat Hormuz tetap menjadi titik strategis perdagangan energi dunia, tarik-menarik antara tekanan ekonomi AS dan posisi Iran berpotensi terus menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga minyak global dalam beberapa waktu mendatang.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Abbas Araghchi, iran, Amerika Serikat, dan israel dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.