Investasi

Pemerintah Klaim Investor Antre, KEK Kendal-Batang Siapkan Perluasan Lahan

Investor masih antre masuk KEK Kendal dan Batang saat lahan siap investasi semakin penuh. Pemerintah kini menyiapkan perluasan kawasan industri

2 jam yang lalu · 4 mnt baca
Pemerintah Klaim Investor Antre, KEK Kendal-Batang Siapkan Perluasan Lahan
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026, di Jakarta, Kamis (27/8/2026) dok. Kemenko Perekonomian
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id – Tingginya minat investor manufaktur membuat kapasitas lahan siap investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan kawasan industri Batang semakin terbatas. Pemerintah kini menyiapkan perluasan kawasan karena calon investor disebut masih mengantre untuk masuk, sementara tingkat pemanfaatan lahan yang tersedia telah mencapai kapasitas maksimal.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan kondisi tersebut menunjukkan Jawa Tengah masih mempunyai daya tarik kuat sebagai basis industri manufaktur.

“Itu potensi investor yang masih akan datang (ke dalam dua KEK) itu luar biasa. Lahan sudah 100 persen terpakai, jadi sudah utilized semuanya. Kami mengajukan perluasan dan pengembangan dan masih perlu proses, tapi investornya sudah mengantre,” ujar Susiwijono dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Pemerintah karena itu tengah memproses perluasan dan pengembangan kawasan untuk menyediakan ruang bagi investasi baru. Pernyataan tersebut juga memperkuat tren sebelumnya. Pada Juni 2026, Susiwijono menyebut KEK Kendal termasuk tiga KEK manufaktur besar bersama Gresik dan Galang Batang yang mengajukan perluasan karena tingginya minat investor.

Khusus KEK Kendal, rencana ekspansi mencapai 1.000 hektare. Pada Mei 2026, tingkat utilisasi lahannya disebut sudah mendekati 100%. Hingga triwulan I 2026, KEK Kendal telah membukukan investasi kumulatif Rp101,93 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 117.941 orang.

Salah satu investasi terbaru datang dari PT Hoi Fu Paper Packaging yang membangun pabrik kemasan senilai Rp1,12 triliun. Proyek tersebut diproyeksikan menyerap hingga 1.000 pekerja, sekitar 95% di antaranya tenaga kerja lokal.

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyebut investasi baru di kawasan tersebut diharapkan memberikan efek lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.

“Kami berharap kehadiran PT Hoi Fu Paper Packaging ini dapat memperkuat ekonomi lokal dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Batang Juga Semakin Padat Investor

Kondisi serupa berlangsung di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang sejak Maret 2025 resmi menyandang status KEK Industropolis Batang. Kawasan KEK tersebut memiliki luas 2.886,7 hektare dari total area pengembangan KITB sekitar 4.300 hektare.

Data pengelola pada Januari 2026 menunjukkan Fase 1 seluas 450 hektare telah terserap seluruhnya, sedangkan Fase 2 seluas 400 hektare sudah terserap sekitar 95%. Sekitar 1.950 hektare lainnya masuk tahap pengembangan lanjutan untuk menampung investasi baru.

Sebelum berstatus KEK, Batang telah mengantongi komitmen dari 27 tenant dengan nilai investasi sekitar Rp17,95 triliun. Tujuh tenant ketika itu sudah beroperasi dan menyerap 7.008 pekerja, dengan 80% berasal dari tenaga kerja lokal Kabupaten Batang. Pemerintah memproyeksikan status KEK dapat mendorong tambahan investasi hingga Rp75,8 triliun.

Tingginya permintaan lahan di Kendal dan Batang sejalan dengan besarnya peran industri pengolahan terhadap ekonomi Jawa Tengah.

“Yang lainnya sebenarnya kalau kita lihat beberapa komposisi dari pengembangan di Jawa Tengah ini, potensi investasi masih akan sangat besar,” kata Susiwijono.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Jawa Tengah tumbuh 5,80% secara kumulatif pada semester I 2026. Industri pengolahan menjadi sektor terbesar dalam struktur perekonomian provinsi tersebut dengan kontribusi 33,18% pada triwulan II 2026. Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik juga berperan besar dalam ekonomi Jawa Tengah.

Kontribusi PMTB Jawa Tengah mencapai 31,52%, lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional sebesar 29,36%. Pemerintah menilai komposisi tersebut menunjukkan investasi dan manufaktur mempunyai posisi strategis untuk menjaga laju pertumbuhan daerah.

Investasi Jateng Tembus Rp48,54 Triliun

Sepanjang semester I 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp48,54 triliun, setara 48,99% dari target tahunan Rp99,09 triliun. Nilai tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp25,92 triliun atau 53,40% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp22,62 triliun atau 46,60%.

Realisasi tersebut juga menghasilkan 213.217 lapangan kerja dari 55.989 proyek pada semester pertama 2026. Secara nasional, investasi pada periode yang sama mencapai Rp1.010,6 triliun dan menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja.

Kota Semarang menjadi wilayah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah sebesar Rp6,57 triliun. Kendal berada tepat di belakangnya dengan Rp6,56 triliun, disusul Batang Rp6,11 triliun, Temanggung Rp4,58 triliun, dan Demak Rp3,34 triliun.

Meski minat investor tinggi, Susiwijono mengingatkan masuknya investasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan maupun proses perizinan. Pemerintah masih harus mengatasi berbagai hambatan yang muncul ketika proyek mulai dijalankan.

“Problem (investor) itu tidak se-ideal itu (bukan hanya masalah perizinan saja), sehingga kita desain kebijakannya di awal dulu. Di dalam operasionalnya, itu selalu banyak tantangan dan kendala di sana,” tambahnya.

Karena itu, pemerintah pusat membuka ruang konsultasi bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk menyelesaikan persoalan investasi, khususnya yang berkaitan dengan regulasi dan kebijakan pusat. Langkah tersebut menjadi penting agar antrean investor di Kendal dan Batang tidak berhenti pada komitmen, tetapi dapat diterjemahkan menjadi investasi, pembangunan pabrik, dan penciptaan lapangan kerja baru.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Susiwijono Moegiarso, dan kemenko perekonomian dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.