62% Pekerja RI Akui Cari Kerja Sama Sulitnya dengan Cari Jodoh
Survei SEEK 2024 ungkap 62% pekerja RI menilai cari kerja sama sulitnya dengan cari jodoh.

Periskop.id - Fenomena dinamika pencarian kerja di Indonesia saat ini ternyata menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pencari kerja. Hasil survei yang dirilis oleh SEEK, perusahaan induk dari platform pencarian kerja JobStreet, pada 2024 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menganggap pencarian pekerjaan tidak lagi lebih mudah dibandingkan pencarian pasangan hidup.
Berdasarkan riset yang melibatkan 5.000 pekerja sebagai responden di Hong Kong dan lima negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, serta Filipina, mayoritas responden di tanah air mengungkapkan tingkat kesulitan yang relatif setara dalam dua aspek kehidupan tersebut.
Data Persentase dan Penggunaan Aplikasi
Meringkas laporan hasil temuan data dari survei SEEK, mayoritas pekerja di Indonesia merasakan tekanan yang mirip saat dihadapkan pada perburuan karier maupun jodoh.
Sebanyak 62% pekerja di Indonesia menyatakan bahwa mencari pekerjaan yang tepat memiliki tingkat kesulitan yang sama besarnya dengan mencari pasangan hidup yang sesuai. Bahkan, 25% pekerja Indonesia menilai bahwa mencari pekerjaan terasa jauh lebih sulit ketimbang mencari jodoh.
Tingkat kesulitan ini juga tercermin dari pola penggunaan teknologi mereka, di mana 48% pekerja mengalokasikan durasi waktu yang sama dalam mengakses aplikasi pencarian kerja dan aplikasi kencan.
Sementara itu, 37% pekerja mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di aplikasi pencarian kerja dibandingkan aplikasi kencan, dan hanya 11% pekerja yang tercatat lebih banyak menggunakan aplikasi kencan.
Penyebab Pencarian Kerja Terasa Sama Sulitnya dengan Cari Jodoh
Data survei tersebut memotret adanya kemiripan pola antara perburuan karier dan pencarian jodoh. Kedua hal tersebut membutuhkan strategi, alokasi waktu, serta kesiapan mental dalam menghadapi ketidakpastian. Ada dua faktor utama yang menjadi pemicu timbulnya rasa sulit tersebut.
Faktor pertama terletak pada perbandingan ekspektasi dan realitas. Seseorang kerap membayangkan pekerjaan impian dengan kriteria ideal, seperti lingkungan kerja yang nyaman, kompensasi tinggi, dan selaras dengan minat pribadi.
Namun, realitas di lapangan kerap menuntut kompromi. Merujuk pada data JobStreet, hanya 19% pekerja yang merasa pekerjaan mereka saat ini sudah benar-benar sesuai dengan keterampilan serta aspirasi yang dimiliki. Sebagian besar pekerja memilih beradaptasi dengan kondisi yang ada, sebagaimana seseorang beradaptasi saat memilih pasangan hidup.
Faktor kedua adalah tingkat persaingan yang sangat ketat di era digital. Platform pencarian kerja maupun aplikasi kencan kini dipenuhi oleh banyak pencari peluang. Satu lowongan pekerjaan dapat dilamar oleh ratusan kandidat, sebanding dengan persaingan perhatian di aplikasi kencan.
Kondisi persaingan tinggi ini menuntut setiap individu untuk mampu menonjolkan keunggulan diri, baik melalui personal branding yang kuat di mata perekrut maupun penyusunan profil diri yang menarik perhatian.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pekerjaan, dan pencari kerja dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.