periskop.id - Pernah merasa lelah terus-menerus meski pekerjaan terasa tidak ada habisnya? Atau kehilangan semangat pada hal-hal yang dulu terasa penting? Kondisi seperti ini bisa jadi bukan sekadar capek biasa, melainkan tanda kalau kamu sedang burnout

Burnout sering muncul perlahan akibat tekanan yang menumpuk hingga tanpa disadari menguras energi, emosi, dan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Apa Itu Burnout?

Burnout adalah kondisi ketika seseorang merasa sangat lelah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Saat burnout terjadi, semangat dan motivasi perlahan menurun. Bahkan, aktivitas yang dulu terasa penting atau menyenangkan bisa terasa berat untuk dijalani.

Kondisi ini sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja. Namun, burnout lebih sering muncul pada orang yang terbiasa memaksakan diri untuk terus produktif, menghadapi beban kerja berlebihan, berada di lingkungan kerja yang tidak sehat, jarang mendapat apresiasi dari atasan, atau menjalani rutinitas harian yang monoton tanpa jeda istirahat.

Burnout sering disamakan dengan stres, padahal keduanya berbeda. Stres adalah kondisi yang umum dialami saat bekerja dan biasanya masih bisa dikelola, meski tanggung jawab terasa banyak.

Sementara itu, burnout adalah stres yang menumpuk dalam waktu lama tanpa pemulihan. Dampaknya lebih berat karena menguras emosi, pikiran, dan fisik hingga membuat seseorang kehilangan energi dan menarik diri dari aktivitasnya.

Ciri-Ciri Burnout

Ciri-ciri burnout bisa berbeda pada setiap orang. Secara umum, tekanan akibat burnout dapat berdampak pada kesehatan mental, fisik, dan emosional. Berikut beberapa tanda burnout yang perlu kamu waspadai.

1. Terus Merasa Lelah
Jika rasa lelah datang terus-menerus hingga tubuh terasa berat untuk bergerak atau bahkan bangun dari tempat tidur, ini bisa menjadi tanda burnout. Kelelahan ini bukan hanya fisik, tapi juga emosional.

2. Merasa Tidak Berguna atau Tidak Kompeten
Burnout sering membuat seseorang meragukan kemampuannya sendiri. Rasa tidak berguna ini biasanya diikuti penurunan produktivitas dan perasaan gagal, bahkan bisa muncul bersamaan dengan tanda lainnya.

3. Merasa Sedih Berkepanjangan atau Depresi
Perasaan tidak berharga yang terus-menerus bisa berkembang menjadi depresi. Banyak studi menunjukkan bahwa tekanan kerja berkepanjangan dapat memicu burnout yang kemudian berhubungan erat dengan depresi.

4. Mulai Membenci Pekerjaan
Pekerjaan yang dulu terasa biasa saja atau bahkan menyenangkan bisa berubah menjadi beban. Ketidakpuasan kerja ini sering menjadi tanda burnout dan kerap disertai keluhan fisik.

5. Sering Sakit Kepala
Menurut Herbert Freudenberger, pencetus konsep burnout, sakit kepala merupakan salah satu tanda fisik burnout. Jika dibiarkan, kondisi ini juga bisa berdampak pada kualitas tidur.

Penyebab Burnout

Burnout bisa muncul karena berbagai faktor yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1. Beban Kerja Berlebihan
Terlalu banyak tugas dengan tenggat waktu yang ketat membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam tekanan.

2. Kurangnya Kontrol dalam Pekerjaan
Tidak punya ruang untuk mengambil keputusan atau mengatur cara kerja sendiri bisa memicu rasa tertekan.

3. Minimnya Apresiasi

Usaha dan hasil kerja yang jarang dihargai membuat motivasi perlahan menurun.

4. Lingkungan Kerja yang Toxic
Konflik, bullying, atau diskriminasi di tempat kerja dapat menguras emosi dan energi.

5. Tidak Seimbangnya Kehidupan Kerja dan Pribadi
Ketika pekerjaan terus terbawa ke kehidupan pribadi, tubuh dan pikiran tidak punya waktu untuk benar-benar beristirahat.

Cara Mengatasi Burnout

Burnout yang dibiarkan tanpa penanganan bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental, bahkan bisa memicu mental breakdown. Karena itu, kalau tanda-tanda burnout mulai terasa, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya.

1. Tentukan Prioritas
Susun pekerjaan dari yang paling penting hingga yang bisa ditunda. Dengan begitu, energi tidak habis untuk hal-hal yang kurang mendesak.

2. Bicarakan dengan Atasan
Jangan ragu menyampaikan beban kerja yang terasa berlebihan. Jika memungkinkan, minta bantuan atau pembagian tugas. Bila lingkungan kerja atau atasan menjadi pemicu burnout, kamu juga bisa berkonsultasi dengan HRD untuk mencari solusi.

3. Turunkan Ekspektasi dan Hargai Diri Sendiri
Bersikap realistis terhadap pekerjaan dapat membantu mengurangi tekanan. Jangan lupa mengapresiasi diri atas usaha dan pencapaian yang sudah dilakukan, sekecil apa pun.

4. Cerita pada Orang Terpercaya
Berbagi cerita dengan orang terdekat bisa membantu melepas emosi negatif dan membuat pikiran lebih lega, meski tidak selalu langsung mendapat solusi.

5. Jaga Keseimbangan Hidup
Luangkan waktu untuk beristirahat dan melakukan hal yang disukai setelah jam kerja. Jika memungkinkan, ambil cuti atau liburan sejenak agar pikiran kembali segar.

6. Terapkan Gaya Hidup Sehat
Makan bergizi, rutin bergerak, dan tidur cukup sangat membantu menjaga fokus dan daya tahan tubuh. Kamu juga bisa mencoba hobi baru, menerapkan slow living, atau melatih kecerdasan emosional untuk membantu pemulihan dari burnout.