Budaya Toxic 10,4 Kali Lebih Bikin Karyawan Resign daripada Gaji
Budaya toxic 10,4 kali lebih kuat memicu karyawan resign dibanding gaji. Simak faktor lain penyebab turnover.

Periskop.id - Gaji kerap dianggap sebagai alasan utama seseorang meninggalkan pekerjaan. Namun, temuan yang dikutip dari MIT Sloan Management Review menunjukkan bahwa budaya perusahaan justru lebih kuat dalam memprediksi tingkat keluarnya karyawan dibandingkan penilaian terhadap kompensasi.
Dalam kajian tersebut, sejumlah faktor budaya dan kondisi kerja disebut memiliki kaitan lebih besar dengan keputusan karyawan untuk keluar dari perusahaan. Bahkan, beberapa faktor terbukti jauh lebih kuat dibandingkan kompensasi dalam memprediksi tingkat turnover atau keluarnya karyawan dibandingkan rata rata industri.
Turnover sendiri merujuk pada tingkat keluar masuknya karyawan di sebuah perusahaan. Semakin tinggi turnover, semakin banyak pekerja yang meninggalkan perusahaan dalam periode tertentu. Kondisi ini dapat berdampak pada stabilitas tim, biaya rekrutmen, produktivitas, hingga reputasi perusahaan sebagai tempat kerja.
Budaya Toxic Jadi Faktor Paling Kuat
Faktor pertama yang paling menonjol adalah budaya perusahaan yang toxic. Budaya ini 10,4 kali lebih kuat dibandingkan kompensasi dalam memprediksi tingkat keluarnya karyawan dari sebuah perusahaan.
Budaya toksik dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa unsur yang disebut berkontribusi antara lain kegagalan perusahaan dalam mendorong keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. Selain itu, pekerja yang merasa tidak dihargai, tidak dihormati, atau berada di lingkungan dengan perilaku tidak etis juga lebih rentan kehilangan rasa nyaman terhadap tempat kerjanya.
Dalam situasi seperti ini, gaji yang kompetitif belum tentu cukup untuk membuat karyawan bertahan. Jika lingkungan kerja terasa merusak secara mental, tidak aman secara sosial, atau tidak menghargai martabat pekerja, karyawan bisa memilih pergi meski kompensasinya tidak buruk.
Ketidakamanan Kerja dan Reorganisasi
Faktor kedua adalah ketidakamanan pekerjaan dan reorganisasi. Kondisi ini dapat muncul ketika perusahaan sering melakukan restrukturisasi, perubahan organisasi, atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketidakamanan kerja dan reorganisasi menjadi prediktor penting dalam cara karyawan menilai budaya perusahaan secara keseluruhan. Ketika perusahaan terlihat tidak stabil, karyawan cenderung mulai mempertimbangkan pilihan lain yang menawarkan rasa aman dan prospek karier lebih baik.
PHK dan reorganisasi biasanya juga menciptakan efek lanjutan bagi pekerja yang bertahan. Beban kerja dapat meningkat karena jumlah orang dalam tim berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat karyawan merasa lelah, tidak pasti, dan akhirnya terdorong untuk meninggalkan perusahaan.
Dengan kata lain, bukan hanya pekerja yang terkena PHK yang terdampak. Mereka yang tetap bekerja pun bisa merasakan tekanan tambahan akibat perubahan struktur, beban kerja yang membesar, dan rasa khawatir terhadap masa depan pekerjaan.
Perusahaan Inovatif Juga Bisa Punya Turnover Tinggi
Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah tingkat inovasi yang tinggi juga berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan karyawan keluar. Selama ini, perusahaan inovatif sering dipandang sebagai tempat kerja ideal karena menawarkan tantangan, kreativitas, dan peluang berkembang.
Namun, dalam sampel Culture 500 yang dikaji MIT Sloan of Management, semakin positif karyawan membicarakan inovasi di perusahaan mereka, semakin besar pula kemungkinan mereka mengundurkan diri. Tiga perusahaan yang disebut paling inovatif dalam sampel tersebut, yakni Nvidia, Tesla, dan SpaceX, memiliki tingkat keluarnya karyawan tiga standar deviasi lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain di industri masing-masing.
Standar deviasi adalah ukuran statistik untuk melihat seberapa jauh suatu angka berbeda dari rata-rata. Dalam konteks ini, angka tiga standar deviasi menunjukkan bahwa tingkat keluarnya karyawan di perusahaan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis.
Kondisi ini dapat terjadi karena bekerja di perusahaan yang sangat inovatif sering menuntut ritme kerja yang cepat, jam kerja lebih panjang, serta tekanan yang lebih besar. Pekerjaan semacam ini bisa terasa menarik dan membanggakan, tetapi tidak selalu mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Ketika karyawan memuji inovasi perusahaan, mereka juga lebih mungkin menyampaikan penilaian negatif tentang keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta beban kerja yang sulit dikelola. Artinya, inovasi memang bisa menjadi daya tarik, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan bila tidak diimbangi dengan sistem kerja yang sehat.
Kinerja yang Tidak Diakui Bisa Membuat Karyawan Kecewa
Faktor keempat adalah kegagalan perusahaan dalam mengakui kinerja karyawan. Pekerja lebih mungkin meninggalkan perusahaan ketika merasa usaha dan hasil kerja mereka tidak dihargai.
Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan gaji. Pengakuan dapat berbentuk apresiasi informal, kesempatan berkembang, promosi, bonus, atau penghargaan finansial yang selaras dengan kontribusi pekerja. Ketika perusahaan gagal membedakan karyawan berkinerja tinggi dan rendah, rasa keadilan di tempat kerja dapat terganggu.
MIT Sloan of Management menyebut perusahaan yang tidak memberikan pengakuan dan penghargaan kepada pekerja berkinerja baik memiliki tingkat keluarnya karyawan yang lebih tinggi. Hal serupa juga terjadi di perusahaan yang membiarkan kinerja buruk terus berlangsung tanpa perbaikan.
Karyawan berkinerja tinggi menjadi kelompok yang paling rentan merasa kecewa dalam situasi ini. Mereka dapat merasa kerja kerasnya tidak berarti jika perusahaan tidak memberi apresiasi yang sesuai, sementara pekerja dengan performa rendah tetap mendapat perlakuan yang sama.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai mengundurkan diri dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.