Periskop.id – Pegiat media sosial Ade Armando resmi mengundurkan diri dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menjelaskan, keputusan ini diambil bukan karena konflik internal, melainkan sebagai langkah untuk melindungi partai dari dampak berbagai kontroversi yang kerap menyeret namanya.

“Melalui konferensi pers ini, saya menyatakan mengundurkan diri dari PSI,” kata Ade Armando di Kantor DPP PSI, Jakarta, Selasa (5/5). 

Ade menegaskan, hubungannya dengan PSI tetap baik dan tidak diwarnai perselisihan. Namun, ia merasa kehadirannya di partai justru berpotensi membawa beban tambahan akibat kritik publik yang terus mengarah kepadanya.

“Tidak ada konflik di antara saya dengan PSI, tapi saya mundur menurut saya demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Selama ini, Ade dikenal sebagai figur publik yang aktif menyampaikan pandangan kritis di ruang publik, terutama di media sosial. Namun, intensitas kritik yang ia terima belakangan dinilai tidak lagi hanya menyasar dirinya secara personal, melainkan turut menyeret nama partai dan para kader PSI.

"Serangan itu diperluas, dari serangan terhadap saya, juga terhadap... serangan itu terhadap teman-teman saya, termasuk misalnya Bu Grace Natalie," kata Ade.

Ia berharap, dengan langkah mundur tersebut, segala bentuk kritik terhadap dirinya tidak lagi berdampak pada PSI sebagai institusi politik. “Sehingga kalaupun saya sehabis acara ini misalnya masih melakukan kritik-kritik yang tidak bisa diterima oleh pihak mana pun, eh tolong jangan serang PSI-nya. PSI tidak tahu apa-apa soal ini,” ucapnya. 

Ade juga menyampaikan, selama ini pimpinan PSI tetap memberikan dukungan penuh terhadap dirinya. Namun, ia menilai tidak adil jika partai harus ikut menanggung konsekuensi dari pernyataan-pernyataan pribadinya.

"Pimpinan-pimpinan PSI selalu mengatakan bahwa mereka selalu bersedia atau mereka selalu berada bersama saya. Tapi tidak adil ya, kalau bapak-bapak, ibu-ibu di PSI harus juga menanggung akibat dari apa yang saya sampaikan," tuturnya. 

Tekanan Publik terhadap Figur Politik
Sekadar mengintatkan, pengunduran diri seperti ini mencerminkan dinamika baru dalam politik Indonesia. Bisa dibilang, tekanan publik terutama melalui media sosial, memiliki dampak signifikan terhadap posisi individu di dalam partai.

Berdasarkan laporan We Are Social 2025, jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai lebih dari 167 juta orang, menjadikan ruang digital sebagai arena utama pembentukan opini publik. Dalam konteks ini, pernyataan figur publik dapat dengan cepat memicu respons luas yang berdampak pada institusi yang menaunginya.

PSI sendiri dikenal sebagai partai yang mengusung citra anak muda dan keterbukaan terhadap kebebasan berpendapat. Namun, kasus ini menunjukkan, batas antara ekspresi pribadi dan dampak institusional semakin tipis di era digital.

Dengan kemundurannya, Ade Armando berharap, ruang gerak partai tetap terjaga dari polemik yang tidak berkaitan langsung dengan agenda politiknya, sementara ia tetap dapat menyampaikan pandangan secara independen sebagai individu.