Periskop.id - Ekonom Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan, terutama dalam jangka pendek. Menurutnya, pergantian pucuk pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi global dapat memengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Gafmi menjelaskan, salah satu faktor yang menjadi sorotan selama kepemimpinan Perry Warjiyo adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga mendekati kisaran Rp17.600–Rp18.150 per dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, pelemahan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, meningkatnya beban utang luar negeri, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

"Depresiasi rupiah yang dalam, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga mendekati level Rp17.600 hingga Rp18.150 per dolar AS, yang memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas harga barang impor, beban utang luar negeri, dan daya beli masyarakat," kata Gafmi dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7).

Di sisi lain, tekanan eksternal juga memperburuk kondisi perekonomian domestik. Dampak lanjutan konflik global, termasuk perang Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu rantai pasok energi melalui jalur Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang.

Gafmi menilai, berbagai langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia, seperti operasi moneter, lelang repo, hingga intervensi di pasar valuta asing, turut menjadi perhatian publik dan parlemen. Sejumlah anggota Komisi XI DPR RI menilai respons BI belum cukup optimal untuk meredam gejolak pelemahan rupiah, sehingga memunculkan tekanan politik terhadap pimpinan bank sentral.

"Tekanan politik dari DPR menuntut adanya langkah pertanggungjawaban moral dari pimpinan tertinggi bank sentral atas berlanjutnya ketidakpastian makroekonomi domestik," terangnya.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa Undang-Undang Bank Indonesia telah dirancang untuk menjamin independensi bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneter tanpa intervensi politik praktis. Namun, dalam praktiknya hubungan antara otoritas moneter dengan lembaga legislatif maupun pemerintah kerap mengalami ketegangan, terutama ketika kondisi makroekonomi memburuk dan berdampak langsung pada masyarakat.

Ia menilai tekanan terhadap BI seharusnya tidak hanya diarahkan kepada bank sentral semata. Menurutnya, berbagai gejolak ekonomi belakangan ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal yang sulit dikendalikan, sementara kebijakan fiskal pemerintah dinilai belum sepenuhnya selaras dengan upaya BI menjaga stabilitas ekonomi.

"Padahal sejatinya kerja keras Bank Indonesia selaku bank sentral sudah maksimal dan all-out, karena memang dinamika eksternal shock yang tidak dapat kita hindari, serta tidak didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang linier dengan goal target Bank Indonesia," ungkapnya.

Ia menambahkan, pengunduran diri Perry Warjiyo berpotensi menimbulkan dampak psikologis terhadap pasar keuangan domestik, mulai dari nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Ia memperkirakan pelaku pasar akan mengambil sikap wait and see pada perdagangan dalam beberapa waktu ke depan. Pergantian pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi dinilai dapat memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

"Pergantian pucuk pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi makro dan fluktuasi nilai tukar dapat memicu spekulasi pasar terhadap arah konsistensi bauran kebijakan moneter selanjutnya," tuturnya.

Di sisi lain, langkah pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kesinambungan kebijakan.

Kehadiran figur internal yang selama ini terlibat dalam perumusan kebijakan moneter diharapkan mampu memberikan sinyal stabilitas kepada investor, meski belum tentu langsung direspons positif oleh pasar.

Gafmi menilai kepercayaan investor akan sangat bergantung pada efektivitas langkah-langkah stabilisasi lanjutan yang ditempuh BI setelah pergantian kepemimpinan, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.

"Keberadaan sosok internal yang selama ini turut merumuskan kebijakan memberikan sinyal kontinuitas dan stabilitas institusional kepada investor domestik maupun asing, namun tidak sepenuhnya bisa direspons positif market," tambahnya.

Lebih jauh, katanya, pelaku pasar akan terus mencerminkan reaksi mereka pada efektivitas langkah-langkah stabilisasi lanjutan yang diambil BI pasca-pengumuman ini, terutama dalam menjaga kepercayaan terhadap instrumen rupiah dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global.

Sedangkan pada pasar global, investor asing biasanya memantau ketat aspek kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi (policy continuity).

"Reaksi global akan sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan otoritas moneter mengomunikasikan stabilitas transisi ini guna memastikan bahwa komitmen pengendalian inflasi dan pertahanan nilai tukar rupiah tetap berjalan tanpa kompromi," tutupnya.