Komoditas

Harga Minyak Naik 2% Usai AS Serang Iran di Selat Hormuz

Harga minyak dunia melonjak usai AS serang pulau Iran di Selat Hormuz dan Teheran balas tembak ke pangkalan udara AS di Yordania.

19 jam yang lalu · 3 mnt baca
Harga Minyak Naik 2% Usai AS Serang Iran di Selat Hormuz
Ilustrasi Pengeboran MInyak. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (31/8) usai Amerika Serikat melancarkan serangan ke sebuah pulau milik Iran di kawasan Selat Hormuz. Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$1,77 atau sekitar 2% menjadi US$89,87 per barel pada pukul 07.33 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut terkerek US$1,45 atau 1,74% ke level US$84,85 per barel.

Kenaikan itu terjadi setelah pasukan AS pada Minggu (30/8) menghantam dua peluncur di Pulau Larak, Iran, yang berlokasi di Selat Hormuz. Aksi ini menjadi serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli.

Iran membalas dengan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania. Media Iran yang mengutip Korps Garda Revolusi Islam Iran melaporkan hal tersebut.

Di media sosial, Presiden AS Donald Trump mengklaim pusat energi Iran, Pulau Kharg, "dihancurkan hingga berkeping-keping" pada Minggu. Namun, belum ada bukti bahwa pulau tersebut benar-benar diserang, dan unggahan itu disertai video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan tanpa rincian lebih lanjut.

Iran membantah klaim tersebut. Teheran menegaskan aktivitas operasional minyak di Pulau Kharg tetap berjalan normal.

Upaya negosiasi damai antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sementara mediator terus mengupayakan pembukaan kembali akses Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir lewat jalur strategis ini.

Kepala Riset Energi DBS Suvro Sarkar menilai eskalasi konflik kemungkinan masih dapat dikendalikan, meski ketidakpastian soal pembukaan Selat Hormuz tetap jadi perhatian pasar.

"Kami melihat lebih banyak peluang terjadinya konfrontasi yang masih terkendali dibandingkan eskalasi konflik yang berkelanjutan. Hal yang terus terdampak setiap kali terjadi gejolak adalah waktu yang dibutuhkan untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata Sarkar dalam keterangannya, Senin (31/8).

Sarkar menambahkan, harapan sebelumnya bahwa negosiasi AS-Iran bisa kembali digelar pada akhir kuartal III 2026 kini semakin kecil kemungkinannya menyusul perkembangan terbaru.

"Kami sebelumnya berharap bahwa negosiasi kesepakatan antara AS dan Iran dapat kembali dilakukan pada akhir kuartal III, tetapi sekarang hal tersebut terlihat semakin tidak mungkin. Oleh karena itu, kami memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak dalam kisaran US$85-US$95 per barel kecuali muncul kejelasan lebih lanjut mengenai situasi di Selat Hormuz," ujarnya.

Ketegangan di Selat Hormuz juga tampak dari aktivitas pelayaran yang menyusut. Data pengiriman menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintas selat tersebut selama akhir pekan turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari, mencerminkan sikap hati-hati perusahaan pelayaran di tengah konflik yang belum mereda.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Minggu melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil saat memasuki Selat Hormuz pada Sabtu. Kejadian ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran distribusi minyak di salah satu jalur energi paling strategis dunia.

Tekanan terhadap Iran juga berpotensi bertambah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan kepada Reuters pada Minggu bahwa AS kemungkinan akan memberlakukan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap pekan, langkah yang berpotensi membatasi aktivitas perdagangan Teheran.

Meski menguat pada awal pekan, Brent dan WTI diperkirakan masih mencatat penurunan tipis sepanjang Agustus. Keduanya bahkan sempat merosot lebih dari 4% pekan lalu, penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir.

Trump juga menyebut minyak dari kesepakatan baru dengan Venezuela akan dipakai mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR), yang saat ini berada mendekati level terendah dalam 44 tahun.

"Kami melihat lebih banyak peluang terjadinya konfrontasi yang masih terkendali dibandingkan eskalasi konflik yang berkelanjutan," tegas Sarkar.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Scott Bessent, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), harga minyak dunia, Selat Hormuz, West Texas Intermediate (WTI), dan Brent Crude dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.