Periskop.id - Harga minyak mentah Brent dan WTI ditutup melemah pada Jumat (10/7), terseret optimisme investor bahwa jalur pengiriman di Selat Hormuz akan segera kembali dibuka pascaputaran terbaru konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski terkoreksi di sesi akhir pekan, keduanya masih mencatat kenaikan mingguan yang cukup tajam.
Brent untuk kontrak September 2026 turun 29 sen atau 0,38% ke level US$76,01 per barel. WTI untuk kontrak Agustus 2026 melemah lebih dalam, tergerus 67 sen atau 0,93% menjadi US$71,41 per barel.
"Pasar ini siap, bersedia, dan mampu bereaksi terhadap kabar baik atau setidaknya tidak ada kabar buruk. Dan tampaknya eskalasi tidak akan memburuk," ujar John Kilduff, mitra di Again Capital, Jumat (10/7).
Secara mingguan, Brent menguat sekitar 5,50% dan WTI menanjak hampir 4%. Kenaikan itu mencerminkan tekanan geopolitik yang masih menghantui pasar sepanjang pekan ini.
Para pelaku pasar menantikan pembukaan kembali Selat Hormuz seiring berakhirnya serangan udara balasan dan adanya janji dimulainya kembali pembicaraan AS-Iran pada pekan depan. Sebelum perang meletus pada 28 Februari, selat itu mengangkut sekitar 20% dari total pasokan minyak dan gas dunia per hari.
Analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn, menilai penurunan harga hari ini justru terasa janggal. Menurutnya, kepercayaan pasar bahwa militer AS tidak akan membiarkan Selat Hormuz tertutup dalam waktu lama menjadi faktor yang lebih dominan ketimbang kondisi fisik selat itu sendiri.
"Anehnya, harga minyak turun setelah melonjak mendekati US$76 per barel, bahkan ketika Selat Hormuz secara efektif ditutup kembali, terutama karena keyakinan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat tidak akan membiarkan Selat Hormuz ditutup untuk jangka waktu yang lama," tulis Flynn dalam catatan pasarnya.
Di sisi diplomatik, negosiator Qatar dikabarkan berada di Iran untuk menemui pejabat setempat. Langkah ini ditujukan untuk meredam ketegangan sekaligus menciptakan kondisi agar perundingan yang lebih luas dapat berjalan kembali. Harga minyak sedikit tertekan setelah kabar tersebut beredar.
Pada Kamis, angkatan bersenjata Iran menyerang infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk, menyusul serangan AS di provinsi pesisir selatan dan timur Iran. Media Iran juga melaporkan beberapa ledakan di wilayah selatan Iran, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit nuklir negara itu.
Analis UBS Giovanni Staunovo menyebutkan, absennya serangan baru AS terhadap Iran pada malam sebelumnya kemungkinan menjadi faktor yang menekan harga. Namun ia menambahkan, perlambatan arus lalu lintas melalui Selat Hormuz turut membatasi seberapa dalam harga bisa jatuh.
Data pelacakan kapal menunjukkan tanker gas alam cair (LNG) sempat melintas di selat tersebut dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, volume lalu lintas harian secara keseluruhan dinilai masih melambat dibanding kondisi normal.
Presiden AS Donald Trump pekan ini menyatakan ia tidak yakin perang akan "bermula kembali" dan menyebut situasi akan segera berakhir. Ahli strategi komoditas ANZ, Daniel Hynes, menyoroti keputusan pemerintahan Trump yang secara eksplisit menghindari penargetan infrastruktur energi Iran sebagai sinyal yang sedikit menenangkan pasar.
Di luar dinamika Timur Tengah, Badan Energi Internasional (IEA) pada Jumat (10/7) menurunkan proyeksi produksi minyak Rusia akibat serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi negara itu. Produksi bensin Rusia dilaporkan anjlok ke level yang setara dengan sekitar 65% dari konsumsi rata-rata musiman, menyusul penghentian operasi di beberapa kilang besar akibat serangan drone Ukraina.
"Meskipun AS meningkatkan serangan terhadap situs militer di Iran, pasar mendapat sedikit kepastian dari keputusan pemerintahan Trump untuk menghindari penargetan infrastruktur energi Iran," kata Hynes.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar