Periskop.id - Rupiah kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (24/6), ditutup di level Rp17.952 per dolar AS atau melemah 0,52% dari penutupan sebelumnya di Rp17.859. Tekanan datang dari kombinasi sentimen eksternal yang belum mereda dan sejumlah isu domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS sebagai salah satu faktor utama. Pasar, menurutnya, juga masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang belum sepenuhnya menentu.

"Saat ini pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sekitar 70% pada September dan masih membuka peluang kenaikan lanjutan pada Desember," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (24/6).

Ekspektasi hawkish tersebut menguat setelah pertemuan kebijakan terakhir The Fed dan serangkaian pernyataan para pejabatnya. Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) AS yang dijadwalkan terbit pekan ini, sebagai indikator inflasi acuan utama The Fed.

Dari sisi geopolitik, Washington dilaporkan memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Teheran pasca pembicaraan perdamaian awal. Langkah itu membuka ruang bagi Iran untuk menggenjot penjualan minyak di pasar global.

Meski ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk di Lebanon, mulai mereda, sejumlah isu krusial masih mengganjal. Ibrahim menilai ketidakjelasan soal inspeksi program nuklir Iran dan akses terhadap dana Iran yang dibekukan membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang tergerus sekitar 0,28% dari Rp17.819 menjadi Rp17.868 per dolar AS dalam sehari. Data tersebut bersumber dari Bloomberg.

Di sisi domestik, Ibrahim memandang keputusan MSCI yang menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November sebagai angin segar bagi pasar keuangan dalam negeri. Peninjauan itu diperpanjang setelah sebelumnya MSCI sempat membekukan perubahan pada indeks saham Indonesia lantaran kekhawatiran soal investability dan kemudahan akses investor asing.

Ibrahim menilai perpanjangan masa evaluasi itu memberi ruang bagi regulator dan pelaku pasar untuk membenahi hal-hal yang diperlukan sebelum penilaian final dijatuhkan.

"Perpanjangan masa evaluasi ini memberi waktu bagi regulator dan pelaku pasar untuk melakukan perbaikan yang diperlukan. Hasil peninjauan MSCI akan menjadi perhatian penting investor dalam beberapa bulan ke depan," jelasnya.

Sementara itu, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026 guna menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global. Paket tersebut mencakup insentif perpajakan, dukungan sektor transportasi, penguatan industri, serta perluasan program bantuan sosial.