Periskop.id - Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada perdagangan Selasa (28/7). Mata uang Garuda tercatat di level Rp18.069 per dolar Amerika Serikat, turun 0,33% dari penutupan hari sebelumnya di Rp18.009 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga tertekan pagi ini. Hanya dua mata uang yang tercatat menguat, sementara sisanya kompak melemah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data hingga pukul 09.00 WIB, dolar Taiwan mencatat pelemahan terdalam di Asia dengan anjlok 0,39%. Won Korea Selatan menyusul di posisi kedua setelah ambles 0,34%, hanya selisih tipis dari pelemahan rupiah.

Baht Thailand ikut tertekan 0,2%, disusul peso Filipina yang turun 0,1%. Yuan China juga tergelincir meski tipis, yakni 0,03%.

Yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan paling ringan di antara yang tertekan, hanya turun 0,02% terhadap dolar AS pada pagi ini.

Di tengah tren pelemahan tersebut, dua mata uang Asia justru mencatat penguatan tipis. Dolar Hong Kong tampil sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan setelah naik 0,01%.

Ringgit Malaysia menyusul di posisi kedua dengan penguatan 0,007% terhadap dolar AS. Kenaikan kedua mata uang ini terbilang minim dibandingkan tekanan yang dialami mayoritas mata uang lain di kawasan.

Tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia lainnya berlangsung sejak awal sesi perdagangan. Pergerakan dolar Taiwan dan won Korea yang melemah cukup dalam menjadi indikasi tekanan yang merata di kawasan.

Pelemahan rupiah hari ini melanjutkan tren dari penutupan sebelumnya, yang sempat berada di level Rp18.009 per dolar AS. Selisih pelemahan sebesar 0,33% menempatkan rupiah di antara mata uang dengan tekanan sedang di kawasan Asia, tidak sedalam dolar Taiwan maupun won Korea, namun lebih dalam dibandingkan baht Thailand dan peso Filipina.

Dengan kondisi ini, rupiah berada di posisi Rp18.069 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi, seiring pelemahan yang merata di sebagian besar mata uang kawasan Asia.