Periskop.id - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang beredar dalam arti luas atau M2 melambat pada Juni 2026. Likuiditas perekonomian itu tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp10.432,8 triliun, lebih rendah dibanding capaian Mei 2026 yang sebesar 10,8%.
BI menguraikan, perlambatan itu terjadi meski komponen pembentuk M2 masih mencatatkan kenaikan. Uang beredar sempit atau M1 tumbuh 9,8% secara tahunan, sementara uang kuasi naik 6,9% pada periode yang sama.
"Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026," tulis BI dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (24/7).
Bank sentral menyebutkan, pergerakan M2 pada Juni terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama. Faktor tersebut adalah penyaluran kredit perbankan dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Penyaluran kredit tercatat tumbuh 12,1% secara tahunan pada Juni 2026. Angka ini justru lebih tinggi dibanding pertumbuhan Mei yang sebesar 10,8%.
Kredit perbankan menjadi salah satu pendorong utama ekspansi M1, mengingat penyaluran pembiayaan turut menambah simpanan giro dan tabungan nasabah di sistem perbankan.
Di sisi lain, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 10,1% secara tahunan pada Juni. Pertumbuhan ini melambat tajam dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 37,4%.
Perlambatan tagihan bersih ke pemerintah pusat ini menjadi salah satu penyebab utama tertahannya laju M2 secara keseluruhan, meski penyaluran kredit justru mengalami akselerasi.
Secara komposisi, M2 terdiri dari uang beredar sempit (M1) yang mencakup uang kartal dan giro, serta uang kuasi yang meliputi tabungan, deposito berjangka, dan simpanan valuta asing milik masyarakat.
BI rutin merilis data uang beredar setiap bulan sebagai salah satu indikator kondisi likuiditas perekonomian domestik. Data ini menjadi acuan bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan moneter ke depan.
Kombinasi antara kredit yang tumbuh lebih cepat dan tagihan ke pemerintah yang melambat menggambarkan pergeseran sumber ekspansi likuiditas pada Juni 2026, dari sebelumnya banyak ditopang pembiayaan fiskal menjadi lebih mengandalkan intermediasi perbankan ke sektor riil.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar