Periskop.id - Pengamat ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai siapa pun yang menggantikan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) akan menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurutnya, tekanan terhadap mata uang rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi kondisi ekonomi dan geopolitik global yang masih bergejolak.

Ibrahim mengatakan konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah maupun Eropa Timur telah meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah terus berada di bawah tekanan.

"Kondisi ekonomi global yang tidak baik-baik saja, ya kita lihat bahwa perang terjadi di Timur Tengah yang begitu masif, ya di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, ya di Timur Tengah antara Amerika dan Iran yang sampai saat ini terus terjadi peperangan walaupun sudah ada nota sepahaman, ya kesepakatan antara Iran dan Amerika untuk damai, ya tapi kita lihat bahwa saat ini masih terjadi konstelasi perang," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (27/7).

Di sisi domestik, ia menilai pemerintah masih menghadapi tantangan menjaga kekuatan fiskal di tengah pelaksanaan berbagai program prioritas yang membutuhkan anggaran besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Kondisi tersebut, menurutnya, turut memengaruhi persepsi pasar terhadap perekonomian Indonesia.

"MBG dan Koperasi Merah Putih yang memakan anggaran cukup besar dan juga terjadi permasalahan-permasalahan, ya terutama adalah menguapnya dana, ya PMBG maupun Koperasi Merah Putih sehingga apa? Sehingga kekuatan fiskal, ya dalam negeri ini mengalami sedikit permasalahan dan ini berdampak terhadap pelemahan ruang rupiah," ungkapnya.

Ibrahim menilai Perry Warjiyo telah berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah selama menjabat sebagai Gubernur BI. Namun, tekanan eksternal yang begitu besar membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.

"Ya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sudah begitu kerja keras, ya untuk menahan agar rupiah ini kembali mengalami penguatan, tetapi kita lihat sampai saat ini masih belum bisa mengangkat harga mata uang rupiah," imbuhnya.

Karena itu, ia berpandangan pengunduran diri Perry Warjiyo tidak akan serta-merta mengubah kondisi pasar. Siapa pun yang nantinya memimpin Bank Indonesia tetap akan menghadapi tantangan yang sama dalam mengembalikan rupiah ke level yang lebih kuat.

"Ya kita lihat bahwa siapa pun yang memimpin Bank Indonesia saat ini sangat sulit untuk membuat rupiah kembali lagi mengalami penguatan. Kenapa? Karena masalah geopolitik, ya perekonomian di dalam negeri pun juga sedang carut-marut. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," tutup Ibrahim.