Gempa NTT, Karhutla Kalimantan, BPS: Dampaknya ke Inflasi Bergantung Distribusi
BPS menyebut dampak gempa NTT dan karhutla Kalimantan terhadap inflasi Agustus 2026 bergantung pada gangguan pasokan, distribusi, dan logistik.

Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terhadap inflasi Agustus 2026 masih bergantung pada sejauh mana bencana tersebut mengganggu pasokan dan distribusi barang.
Direktur Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bencana alam dapat memengaruhi inflasi apabila mengganggu rantai pasok, merusak fasilitas pasar yang menjadi lokasi pemantauan harga, maupun menghambat jalur logistik.
"Dampak seperti terjadinya lokal tadi ada bencana alam terhadap IHK ini sangat bergantung tentunya ya sejauh mana kejadian tersebut yang pertama mengganggu di pasokannya atau di supply chain-nya kemudian juga bagaimana apakah merusak fasilitas pasarnya yang kami survei di pasar inflasinya. Juga apakah ada jalur logistik yang utamanya yang menghambat," ujar Ateng dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (1/9).
Ateng mengatakan BPS terus memantau perkembangan harga komoditas di wilayah yang terdampak bencana secara berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat kondisi riil harga di tingkat konsumen sekaligus mengukur dampak bencana terhadap inflasi.
"Seperti pada bulan-bulan sebelumnya kami kan juga menyajikan bagaimana dampak bencana yang di Sumatera ya. Ini kan kabut asap juga bagaimana dampaknya tadi beberapa faktor dan yang akan kami potret kondisi harga, kondisi inflasi yang ada saat ininya," jelas dia.
Berdasarkan catatan BPS, lima provinsi di Kalimantan justru mengalami inflasi secara bulanan pada Agustus 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Kalimantan Selatan sebesar 0,24 persen, disusul Kalimantan Utara 0,23 persen, Kalimantan Barat 0,20 persen, Kalimantan Tengah 0,17 persen, dan Kalimantan Timur 0,10 persen.
Meski demikian, pihaknya belum menyimpulkan bahwa inflasi di wilayah Kalimantan tersebut secara langsung disebabkan oleh karhutla. Pergerakan harga di wilayah terdampak masih terus dipantau untuk melihat pengaruh gangguan distribusi maupun faktor lainnya terhadap inflasi.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di NTT. BPS mencatat provinsi tersebut mengalami deflasi sebesar 0,40 persen pada Agustus 2026.
Ateng mengatakan gempa bumi yang terjadi di wilayah Flores berpotensi mengganggu distribusi dan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas terdampak. Namun, dampaknya terhadap inflasi NTT secara keseluruhan masih tertahan oleh perkembangan harga komoditas lainnya.
"Gempa bumi yang terjadi di wilayah Flores tentunya ini mengganggu distribusi dan mendorong harga sejumlah komoditas yang terdampak ya. Dampaknya terhadap inflasinya di NTT ini secara keseluruhan ya mas ya, dapat apa ya ini tentunya oleh perkembangan harga komoditas lainnya di wilayah NTT-nya," paparnya.
Menurut Ateng, arus distribusi barang tidak hanya berasal dari satu wilayah. Karena itu, ketika terjadi gangguan di suatu daerah, pasokan dari wilayah lain dapat turut memengaruhi pergerakan harga secara keseluruhan.
Pihaknya juga melakukan penghitungan inflasi berdasarkan sejumlah wilayah di NTT sehingga dampak bencana di satu daerah tidak serta-merta menggambarkan kondisi inflasi provinsi secara keseluruhan.
"Jadi banyak wilayah kalau ada satu wilayah yang terjadi dampak kita mencermati wilayah yang lainnya. Karena arus distribusi barang tentunya ini bukan hanya dari satu wilayah tetapi wilayah yang lainnya. Dan kami melakukan penghitungan inflasi ini ada pada beberapa wilayah yang di NTT tadi sebutkan," tutup Ateng.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Ateng Hartono, Badan Pusat Statistik (BPS), Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dan inflasi dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.