Makro

BI: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 4,9%-5,7% di 2026

BI memperkirakan ekonomi negara berkembang melambat ke 3,9% pada 2026, sementara ekonomi Indonesia diproyeksi tetap tangguh di kisaran 4,9%-5,7%.

2 jam yang lalu · 3 mnt baca
Gedung Bertingkat, Pertumbuhan Ekonomi, Ekonomi, Penanaman Modal, Investasi, Ekonomi Indonesia, Realisasi Investasi
Suasana deretan gedung bertingkat di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi negara berkembang atau emerging market bakal melambat, hanya tumbuh 3,9% pada 2026 akibat tekanan global yang masih tinggi. Meski begitu, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap lebih tangguh dengan proyeksi pertumbuhan 4,9%-5,7% tahun depan, naik ke 5,2%-6% pada 2027.

Pejabat sementara Gubernur BI Destry Damayanti menyebutkan, kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan cuma mencapai 3%, tertekan perlambatan baik di negara maju maupun emerging market.

"Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan tetap lemah sebesar 3%. Penurunan terjadi baik di negara emerging market yang melambat menjadi sebesar 3,9% maupun negara maju yang hanya tumbuh diperkirakan sebesar 1,7%," kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikurtip Rabu (2/9).

Destry memaparkan, tekanan terhadap ekonomi negara berkembang datang dari berbagai arah. Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas awal Juli 2026, mengancam kesepakatan sementara yang sempat dicapai pertengahan Juni 2026.

Di saat bersamaan, harga minyak dunia masih bertahan tinggi. BI mencatat harga minyak mentah berada di sekitar US$89,71 per barel pada 28 Agustus 2026, yang menurut Destry ikut menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi di kisaran 4,5%.

Indeks dolar AS pun masih menguat, seiring tingginya suku bunga AS, arus modal yang kembali ke AS, serta meningkatnya risiko global. Kondisi ini, menurut Destry, menekan hampir seluruh mata uang dunia, dengan dampak lebih besar dirasakan negara berkembang termasuk Indonesia.

Meski begitu, ia menilai ekonomi Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan yang relatif kuat. Pada kuartal II-2026, ekonomi RI tumbuh 5,29%, meski melambat dari kuartal I-2026 yang sebesar 5,6%.

Destry menjelaskan, pertumbuhan tersebut banyak ditopang stimulus fiskal pemerintah yang mendongkrak konsumsi pemerintah dan investasi. Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi, antara lain karena kenaikan belanja pegawai termasuk pembayaran gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Perkembangan ekonomi domestik pada kuartal III-2026 disebutnya masih menunjukkan kondisi baik. BI mencatat indeks ekspektasi penghasilan masyarakat pada Juli 2026 tetap terjaga di seluruh kelompok penghasilan.

Namun, BI mengingatkan agar momentum stimulus fiskal dimanfaatkan untuk mendorong sumber pertumbuhan lain, terutama investasi swasta. Salah satu sinyal positif datang dari Purchasing Managers Index (PMI) yang kembali naik pada Juli 2026 setelah sempat turun, terutama didorong pesanan ekspor baru.

Daya tahan Indonesia juga ditopang kondisi eksternal yang disebut masih relatif kuat. Neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari-Juni 2026 mencatat surplus US$3,5 miliar, sementara investasi portofolio pada kuartal II-2026 tercatat surplus US$12 miliar.

Posisi cadangan devisa akhir Juli 2026 juga mencapai US$145,3 miliar, setara pembiayaan 5,5 bulan impor. Destry menuturkan, tekanan terhadap rupiah, arus modal, harga energi, dan inflasi tetap perlu diwaspadai, terlebih inflasi pangan pada Agustus 2026 naik menjadi 4,06% dari 3,19% pada bulan sebelumnya.

Karena itu, BI disebutnya akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.

"Investasi swasta juga perlu terus didorong," kata Destry.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, Bank Indonesia (BI), Pertumbuhan Ekonomi, dan Ekonomi Indonesia dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.