Rupiah Melemah ke Rp17.862 Imbas Konflik AS-Iran
Rupiah melemah ke Rp17.862 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan AS-Iran, sementara pasar masih menanti hasil RDG BI.

Periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.862 pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026). Pelemahan terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran memanasnya kembali konflik AS dan Iran.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut kenaikan harga minyak dunia jadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, sentimen dari eskalasi konflik AS-Iran ikut membebani pergerakan mata uang Garuda.
"Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran," kata Rully Nova, Selasa (18/8).
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut melemah ke Rp17.856 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.836. Pasar juga masih mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% usai Presiden AS Donald Trump menutup kemungkinan memperpanjang perjanjian kerangka kerja dengan Iran. Anadolu melaporkan, kondisi ini memicu kekhawatiran ketegangan baru di sekitar Selat Hormuz.
Minyak Brent tercatat naik 2,4% menjadi US$90,60 per barel, sedangkan minyak WTI menguat 2,2% ke US$84,20 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Trump menyatakan tidak akan memperpanjang perjanjian dengan Iran yang dicapai pada Juni lewat mediasi Pakistan.
Batas waktu negosiasi 60 hari disebut hampir berakhir tanpa penyelesaian menyeluruh. Kebuntuan diplomasi ini dikhawatirkan berkembang menjadi eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu pengiriman energi lewat Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.
Sputnik melaporkan, Trump menyebut gagasan menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS sebagai ide yang bagus. Ia kembali mengklaim AS memiliki kendali penuh atas selat tersebut.
Komandan Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami membantah klaim itu. Ia menegaskan AS tidak memiliki hak lintas melalui Selat Hormuz, Teluk Persia, maupun Teluk Oman, dan menyebut kondisi di jalur itu tidak akan kembali seperti sebelumnya.
Pergerakan harga minyak dunia menjadi perhatian bagi Indonesia lantaran berpotensi memengaruhi kondisi fiskal dan perekonomian domestik. Rully menilai kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan fiskal RI karena sudah berada di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN US$70 per barel akan memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi belum solid," ungkap Rully.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga menanti hasil RDG BI yang berlangsung dua hari, 18-19 Agustus 2026. Rapat tersebut diperkirakan tidak menghasilkan kenaikan suku bunga acuan, meski keputusan BI tetap jadi sorotan karena berpengaruh terhadap upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
"Namun, bauran kebijakan selain bunga akan menentukan konsistensi kebijakan stabilitas BI," kata dia.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai rupiah hari ini, Nilai tukar rupiah, dolar AS, dan konflik Iran - AS dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.