Periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/7). Mata uang Garuda naik 23 poin atau sekitar 0,13% ke level Rp18.068 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan, penguatan tersebut turut dipengaruhi sentimen eksternal dari kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke sejumlah infrastruktur AS di kawasan tersebut.

"Teheran mengatakan telah kembali menutup selat tersebut setelah permusuhan antara Iran dan AS kembali berkobar pekan lalu, yang semakin memperburuk gencatan senjata yang sudah rapuh yang dicapai pada bulan Juni setelah beberapa bulan pertempuran," ujar Ibrahim dalam risetnya, Rabu (15/7).

Selain isu geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat turut jadi perhatian pelaku pasar. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS periode Juni tercatat turun dari 4,2% menjadi 3,5% year on year (yoy), meleset dari perkiraan pelambatan sebesar 3,8%.

Ibrahim menilai capaian tersebut jadi indikasi bahwa kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed saat ini tidak lagi diperlukan. Inflasi inti AS pun ikut melandai dari 2,9% menjadi 2,6%, juga di bawah perkiraan pasar sebesar 2,8%.

Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun jadi 16% dari sebelumnya 40%, sementara peluang kenaikan pada September merosot ke 60% dari 74%.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah seiring pelebaran defisit APBN 2026. Kebutuhan penarikan utang baru secara bruto tahun ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun, dengan penerimaan terbesar negara masih berasal dari pos pembiayaan utang.

Dalam APBN 2026, pemerintah semula menetapkan defisit sekaligus pembiayaan anggaran sebesar Rp689,15 triliun. Angka ini terdiri atas pembiayaan utang neto Rp832,21 triliun dan pembiayaan nonutang Rp143,06 triliun untuk investasi dan pemberian pinjaman.

Namun berdasarkan outlook terbaru pemerintah, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun. Pembiayaan utang neto pun ikut naik menjadi sekitar Rp868,12 triliun untuk menutup kebutuhan tersebut.

Pemerintah diperkirakan harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini, mengacu pada data utang jatuh tempo dan realisasi tahun sebelumnya. Posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 tercatat Rp9.638 triliun.

Dengan tambahan pembiayaan utang neto Rp868 triliun ditambah dampak pelemahan rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan menembus Rp10.600 triliun.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 sebesar US$444,4 miliar, tumbuh 2,1% secara tahunan. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan April 2026 yang tercatat 2,0% yoy.

BI menjelaskan, kenaikan tersebut terutama ditopang pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, baik dari pemerintah maupun bank sentral. Bank sentral menilai perkembangan itu didorong masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia yang masih terjaga.

Berdasarkan rangkaian sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS.