Periskop.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, sejauh ini sudah ada lebih dari 4.700 tenaga kesehatan (nakes) relawan yang dikirim, untuk membantu penanganan pascabencana di Sumatera.
"Dan ini macam-macam, bukan hanya dari Kemenkes saja. Kemenkes sendiri mungkin sudah hampir 700 dari 4.700 ini. Tapi mulai dari perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, beberapa organisasi internasional, yaitu lembaga-lembaga pemerintahan, itu semuanya rumah sakit-rumah sakit, itu juga mengirimkan tenaga-tenaga relawan," kata Menkes di Jakarta, Senin (12/1).
Pihaknya mengkoordinasikan penempatan para relawan itu dan diprioritaskan untuk layanan kesehatan di desa terisolasi serta di pos-pos pengungsian. "Pos-pos pengungsiannya seribuan, data terakhir saya lihat, kalau desa terisolasi terakhir saya lihat seratusan, mungkin sekarang sudah turun," tuturnya.
Dia menjelaskan, di Aceh, darah yang terkena dampak paling besar, memiliki banyak masalah, termasuk banyak rumah tenaga kesehatan yang rusak atau hilang. Para tenaga kesehatan yang kehilangan rumah itu, kata dia, masih pusing memikirkan kondisinya, sehingga perlu untuk terus mengirimkan relawan dalam jumlah besar.
"Itu kan mereka rotasi sekitar dua minggu sekali, setiap minggu itu mungkin ada sekitar 700-800 sampai seribu lah mungkin yang ada di sana, ya. Dan itu kan mesti berputar terus," ucapnya.
Dalam kesempatan itu Menkes juga menjelaskan tentang para relawan yang berangkat ke Aceh lewat Malaysia. "Khusus yang ke Medan karena masuknya itu kalau untuk yang misalnya Bener Meriah, Langkat, kemudian Tamiang. Itu yang Aceh Tengah, itu masuknya dari Medan itu lebih dekat, lebih mudah masuknya dibandingkan masuknya dari Banda Aceh," imbuhnya.
Dia menjelaskan, para relawan juga datang ke Medan pada saat akhir tahun, dimana banyak orang yang sedang liburan. Di periode itu, pemerintah juga memberikan diskon tarif tiket dan publik beramai-ramai membelinya, sehingga para relawan tidak kebagian.
"Ini untuk para relawan-relawannya ada hanya tiket-tiket bisnis kelas yang mahal-mahal. Itu yang menyebabkan, jadi karena adanya banyaknya orang yang datang ke Medan pada saat Nataru itu terjadi," tegasnya.
Dia menyebutkan, sekarang kondisinya sudah normal, dan para relawan bisa langsung terbang ke Medan untuk menjadi relawan.
Perbaikan Rumah Nakes
Budi Gunadi juga mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperbaiki sebanyak 3.265 rumah milik tenaga kesehatan dan tenaga medis yang terdampak bencana di Sumatra.
Budi mengatakan, di Jakarta, Senin, bahwa 3.265 rumah ini adalah kumpulan atau batch pertama, dan nantinya akan ada lagi rumah-rumah yang diperbaiki seiring data yang masuk.
"Yang sudah ada masuk ke kita datanya 3.265 rumah dengan klasifikasi kerusakannya seperti apa. Yang ringan berapa, yang sedang berapa, yang berat berapa. Data ini kita kirimkan ke BNPB," lanjutnya.
Nantinya, kata Budi BNPB yang akan melakukan verifikasi data-data milik Kemenkes tersebut untuk ditindaklanjuti. Dalam kesempatan itu, Budi juga mengatakan perlunya percepatan dalam penanganan ini.
Oleh karena itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri, untuk kemudahan memverifikasi data agar lebih praktis, dan agar nakes yang KTP-nya hilang bisa diberikan KTP baru.
Dalam kesempatan itu, Deputi IV BNPB Jarwansah mengatakan, pihaknya telah menerima data terkait jumlah tenaga kesehatan yang rumahnya terdampak. Rinciannya, di Aceh ada 3.050 unit, kemudian Sumatera Utara ada 48 unit, dan Sumatera Barat 167 unit, sehingga totalnya 3.265 unit rumah.
Pihaknya pun masih terus mendampingi proses percepatan penyelesaian dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). "Yang sedang dikerjakan oleh pemerintah, provinsi dan juga kawasan dan kota terdampak dengan target penyelesaiannya di 31 Januari 2026," ucapnya.
Dia menjelaskan, saat ini, proses penyelesaian dokumen R3P untuk Sumatera Barat sudah selesai, dan sedang dalam proses penetapan oleh pemerintah provinsi. Kemudian, Provinsi Sumatera Utara masih dalam tahap penyusunan dokumen R3P dengan capaian sekitar 80% dan ditargetkan selesai di 26 Januari.
Sedangkan untuk Provinsi Aceh, katanya, yang dampak bencananya cukup masif, masih dalam proses penyusunan dokumen R3P dengan progres sekitar 35%. Diperkirakan dapat diselesaikan pada 31 Januari 2026.
Jarwansah juga menjelaskan, intervensi pemulihan sektor kesehatan akan merujuk pada dokumen R3P berdasarkan tingkat kewenangan, contohnya pusat, provinsi, dan kabupaten atau kota.
"Intervensi akan mencakup segala aspek pemulihan layanan kesehatan mulai dari infrastruktur, sebagaimana sampaikan Bapak Menteri tadi, kemudian juga alat kesehatan yang kita tahu banyak rusak akibat petimbun lumpur, genangan, dan sarana pendukung lainnya," kata Jarwansah.
Tinggalkan Komentar
Komentar