Periskop.id - Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan dr. Indri Yogyaswari menyatakan, pihaknya menggandeng sejumlah komunitas keagamaan untuk menangkal disinformasi dan misinformasi seputar imunisasi. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan cakupan imunisasi nasional.
"Kami kemarin itu memanfaatkan momen campak. Kami rangkul teman-teman dari NU, dari Muhammadiyah, terus yang dari perempuannya itu dari Aisiyah sama Fatayat NU," kata Indri di Jakarta, Jumat (24/4).
Dia menjelaskan, para petinggi di organisasi-organisasi tersebut tidak menolak, bahkan mendukung upaya imunisasi pemerintah. Namun demikian, pihaknya membutuhkan para pemuka agama itu untuk menyampaikan pesan kepada anggota-anggotanya.
Indri menyebutkan sejumlah hambatan dalam perluasan cakupan imunisasi. Di antaranya, orang merasa imunisasi tidak penting atau belum ada gunanya. Kemudiasn, status halal dan haram vaksin, ada juga yang menyangkut persepsi seseorang terhadap takdir.
"Misalnya juga, kan saya kebetulan Muslim ya. Jadi 'sakit itu udah takdir'. Jadi sudah qadarullah orang sakit. Jadi kita mau upaya apapun untuk ini, itu nanti tidak akan terlalu banyak bermakna untuk menghindari sakit itu," ujar dia mencontohkan.
Menurutnya, hal yang harus ditekankan adalah imunisasi tidak 100% mencegah penyakit. Namun dengan vaksinasi, apabila terkena penyakit tersebut, keparahan hingga kematian dapat dicegah, dan penyakit tersebut tidak ditularkan ke orang lain.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memberi tiga pesan bagi media agar dapat berkontribusi meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia. Pasalnya, imunisasi adalah investasi kesehatan yang sangat efektif untuk mencegah keparahan hingga kematian.
Pertama, medi abisa menjadi edukator yang baik. Kedua, menjadi penyegar di tengah kekeruhan informasi. Ketiga, memberikan informasi yang aktual.
"Kita lihat bahwa cerita-cerita tentang cacar, polio, kemudian penyakit-penyakit lain, itu kematiannya sangat besar. Dan kalau sudah bisa tereradikasi, menjadi hilang dari permukaan bumi," kata Dante di Jakarta, Kamis, saat Pekan Imunisasi Dunia 2026.
Deputy Resident Representative United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Sujala Pant menambahkan, imunisasi adalah intervensi kesehatan paling efektif dan efisien, dan hal itu sudah dibuktikan di seluruh dunia.
"Tiap dolar yang kita investasikan untuk imunisasi, ada return sebesar 52 dolar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Sujala.
Dia menuturkan, tiap tahun vaksinasi anak-anak diperkirakan telah mencegah sekitar 4 juta kematian per tahunnya. Menurut dia, Pekan Imunisasi Dunia 2026 menjadi waktu untuk menguatkan komitmen dalam membangun sistem kesehatan guna mencapai Indonesia Emas 2045.
Tinggalkan Komentar
Komentar