periskop.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menargetkan pengungsi yang masih tinggal di tenda dapat segera dipindahkan ke hunian sementara (huntara) atau melalui skema Dana Tunggu Hunian (DTH).

Upaya tersebut dilakukan agar para pengungsi memperoleh hunian yang lebih layak sebelum Hari Raya Idulfitri.

“Saya sengaja mengundang pihak terkait dengan masalah pengungsian, terutama yang masih ada di tenda, karena kita berharap sebelum Lebaran tidak ada lagi yang tinggal di tenda,” kata Tito dalam keterangannya, Jumat (6/3).

Tito menegaskan, keberadaan pengungsi yang masih tinggal di tenda hingga memasuki bulan ketiga pascabencana menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, menurunnya jumlah pengungsi di tenda menjadi salah satu indikator pemulihan.

“Kalau masih ada di tenda-tenda, ini sudah masuk bulan ketiga setelah akhir November, tidak elok jika mereka masih di tenda,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah pengungsi di tiga provinsi terdampak bencana terus mengalami penurunan. Di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diketahui sudah tidak ada lagi pengungsi di tenda.

Sementara itu, pengungsi di tenda di Provinsi Aceh masih tersebar di sejumlah wilayah seperti Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bireuen, Nagan Raya, dan Gayo Lues.

Adapun di Provinsi Sumatera Utara, pengungsi masih berada di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.

“Intinya, kita melihat masih ada yang tinggal di tenda, dan ini perlu segera diselesaikan. Kita harus mencari solusi agar mereka tidak lagi berada di tenda,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan huntara maupun penyaluran DTH agar masyarakat dapat segera menempati tempat tinggal yang lebih layak.

Lebih jauh, menurutnya, koordinasi antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk mempercepat penyelesaian persoalan hunian bagi masyarakat terdampak bencana.