periskop.id - Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat pemulihan rumah ibadah di wilayah Sumatra yang terdampak bencana agar dapat difungsikan kembali sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Langkah ini ditempuh untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman di tengah meningkatnya aktivitas keagamaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa rumah ibadah menjadi prioritas utama dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, terutama menjelang Ramadan. Menurutnya, pemulihan fasilitas keagamaan tidak bisa ditunda karena berkaitan langsung dengan kebutuhan spiritual masyarakat.
“Menjelang Ramadan, kami menetapkan rumah ibadah sebagai prioritas utama. Masyarakat harus bisa beribadah dengan layak dan aman,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (12/2).
Berdasarkan pendataan Kemenag, bencana di sejumlah wilayah Sumatra berdampak pada 773 madrasah, 1.173 pondok pesantren, 1.593 rumah ibadah, serta 102 Kantor Urusan Agama (KUA). Dari jumlah tersebut, sebagian fasilitas mengalami kerusakan berat, termasuk 110 madrasah, 107 pesantren, serta 40 rumah ibadah yang terdiri atas 16 masjid dan 24 gereja. Selain itu, satu KUA terpaksa direlokasi karena kondisi bangunan yang tidak lagi aman digunakan.
Nasaruddin menyampaikan bahwa proses pemulihan sejauh ini menunjukkan perkembangan signifikan. Sebanyak 650 madrasah telah direhabilitasi dan kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kemudian, 1.066 pesantren sudah kembali beroperasi, 1.553 rumah ibadah telah difungsikan, dan 101 KUA kembali aktif melayani masyarakat. Sementara itu, satu KUA masih menjalankan layanan di gedung sewa sementara sambil menunggu proses relokasi rampung.
Dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, Kemenag menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk menangani pembangunan fisik. Kolaborasi lintas kementerian ini dinilai mampu mempercepat pekerjaan teknis sekaligus menyederhanakan proses administrasi.
Di sisi lain, Kemenag juga mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung pemulihan fasilitas terdampak, di antaranya Rp85,5 miliar untuk rehabilitasi 123 madrasah, Rp74,1 miliar bagi 17 pondok pesantren, Rp20 miliar untuk rekonstruksi rumah ibadah, serta Rp3 miliar untuk pengadaan lahan dan relokasi satu KUA.
Secara regional, Aceh menjadi wilayah dengan dampak terbesar pada sektor pendidikan dan keagamaan, dengan total 391 fasilitas terdampak. Sementara itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga memperoleh dukungan anggaran bernilai miliaran rupiah sesuai kebutuhan rehabilitasi masing-masing daerah.
Menjelang Ramadan, percepatan difokuskan pada masjid dan rumah ibadah yang akan digunakan untuk salat tarawih dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Perbaikan mencakup penguatan struktur bangunan, penggantian karpet dan mimbar, pembenahan sistem tata suara, instalasi listrik, serta fasilitas pendukung lainnya. Di sejumlah lokasi, pekerjaan dilakukan secara intensif dengan pengerahan alat berat dan sistem kerja siang malam.
Tinggalkan Komentar
Komentar