Nasional

PGN Catat Sudah 46 Dapur MBG Beralih Menggunakan CNG

PGN Gagas mencatat 46 dapur Makan Bergizi Gratis kini pakai CNG, meski keterbatasan infrastruktur SPBG jadi ganjalan perluasan ke luar Jawa.

1 minggu yang lalu · 2 mnt baca
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sedang mengemas MBG ke dalam ompreng untuk didistribusikan kepada penerima manfaat. dok. BGN.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) mencatat sudah ada 46 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memakai Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bahan bakar operasional. Gas alam terkompresi ini disebut jadi alternatif pengganti LPG di dapur-dapur tersebut.

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan menjelaskan, perusahaan sudah menggelar sosialisasi terbuka secara online ke seluruh SPPG di Indonesia soal pemanfaatan CNG. Sosialisasi itu, menurutnya, jadi langkah awal sebelum penerapan CNG meluas ke berbagai dapur MBG.

"Kami sosialisasi bagaimana penggunaan CNG untuk SPPG. Sudah pernah kami lakukan secara online kepada seluruh SPPG yang ada di Indonesia," terang Santiaji, Kamis (20/8).

Dari 46 dapur yang sudah beralih, sebarannya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Santiaji menyebutkan, Batam juga sudah masuk daftar wilayah yang menerapkan CNG untuk dapur MBG.

"Di Batam juga ada, ya. Jadi alhamdulillah sudah banyak lah," ungkap Santiaji.

Yogyakarta jadi salah satu pasar penting dalam pengembangan bisnis CNG PGN Gagas. Berdasarkan data pengembangan CNG Point to Point Jawa Tengah Bagian Selatan, PGN Gagas mencatat 20 pelanggan dengan total volume penyaluran sekitar 74.000 meter kubik per bulan, mencakup wilayah Sukoharjo, Yogyakarta, dan Magelang.

Bakpia Tugu Jogja tercatat sebagai pelanggan dengan kebutuhan volume terbesar, mencapai sekitar 50.000 m³. Payakumbuh Jogja menyerap sekitar 2.000 m³, sementara Platinum Hotel butuh sekitar 1.500 m³. Di Sukoharjo, Bening Big Tree memakai sekitar 3.000 m³, 12 titik SPPG membutuhkan total 12.000 m³, dan Aston Hotel Solo sekitar 1.500 m³. Adapun di Magelang, dua titik SPPG menyerap sekitar 2.000 m³ dan PGN Balkondes sekitar 2.000 m³.

Data infrastruktur klasterisasi CNG Jargas Sleman menunjukkan jaringan tersebut sudah didukung 1 unit Pressure Regulating Station (PRS), pipa DTM berdiameter 180 mm dan 90 mm sepanjang 15,9 kilometer, serta 5 unit Regulating Station (RS). Jaringan pipa DTR berdiameter 63 mm mencapai 125,5 kilometer, sehingga total panjang jaringan tercatat sekitar 141,4 kilometer.

Jaringan gas itu melayani 4.545 pelanggan rumah tangga, 6 pelanggan kecil, dan 4 pelanggan komersial atau industri. Total pelanggan yang tercatat dalam jaringan mencapai 4.555.

Meski begitu, perluasan CNG ke seluruh Indonesia masih terganjal keterbatasan infrastruktur. Santiaji menerangkan, pengembangan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) sebagai titik pengisian CNG dari hulu baru tersedia di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

"Itulah yang menyebabkan CNG bisa belum bisa merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terbatas Jawa, Sumatra, Kalimantan, sama Bali lah. Makanya kalau memang CNG komitmen berniat ya, kalau bisa di beberapa wilayah harus ada SPBG-SPBG yang untuk bisa menciptakan CNG," tegas Santiaji.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.