Periskop.id - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) tengah merancang pengembangan gas biomethane yang bersumber dari limbah kelapa sawit dan Synthetic Natural Gas (SNG). Langkah ini ditempuh untuk memperkuat pasokan gas domestik demi mendukung ketahanan energi nasional.

Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto memaparkan, pengembangan tersebut berjalan beriringan dengan rencana pemanfaatan Coalbed Methane (CBM), yakni gas berbasis batu bara yang dapat diolah menjadi gas metana.

"Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumatera Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point. Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methane, biomethane, ataupun sumber lainnya akan dikumpulkan, yang kemudian akan dimasukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada," ujar Arief dalam keterangan resmi, Senin (6/7).

Integrasi infrastruktur berbasis pipeline dan non-pipeline, menurut Arief, menjadi kunci efektivitas penyerapan energi nasional.

Bertumpu pada portofolio infrastruktur gas bumi yang luas, PGN menegaskan kesiapannya menjalankan peran sebagai penghubung utama antara sumber pasokan gas dan masyarakat. Peran itu diemban PGN selaku Subholding Gas Pertamina, dengan tetap mematuhi prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Rencana PGN ini sejalan dengan langkah PT Pertamina (Persero) yang pada 2022 menjalankan studi kelayakan pengembangan limbah sawit menjadi gas biomethane. Studi itu digagas bersama tiga perusahaan gas asal Jepang, yaitu Osaka Gas Co., Ltd., JGC Holdings Corporation, dan INPEX CORPORATION.

Ruang lingkup studi tersebut mencakup produksi biomethane dari limbah pabrik kelapa sawit (POME) sebagai gas alam bersih, termasuk kajian potensinya menjadi gas alam cair (LNG) di Indonesia.

Indonesia sendiri merupakan produsen sekaligus pengekspor minyak sawit terbesar di dunia. Sektor ini menyerap tiga juta tenaga kerja dan menyumbang 4,5% dari produk domestik bruto (PDB) nasional.

Limbah pabrik kelapa sawit mengandung bahan organik yang menghasilkan emisi metana dalam jumlah signifikan. Metana diketahui memiliki dampak pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan CO2.

Proyek pengolahan limbah sawit menjadi biomethane ini ditujukan untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mengubah limbah tersebut menjadi biofuel yang berkontribusi pada pasokan energi bersih secara berkelanjutan.