iklan periskop
Nasional

BMKG: Titik Panas Sumatera Melonjak 51% Jadi 1.104, Sumsel Tertinggi

BMKG mendeteksi 1.104 titik panas di Sumatera pada 22 Agustus 2026, naik sekitar 51% dari sehari sebelumnya. Sumsel tertinggi dengan 528 hotspot

17 jam yang lalu · 4 mnt baca
titik panas
Peta Provinsi Riau dengan tingkat kerawanan yang tinggi terhadap kebakaran lahan. dok. BMKG Pekanbaru.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera melonjak menjadi 1.104 titik pada Sabtu (22/8) pukul 07.00 WIB. Angka tersebut meningkat sekitar 50,6% dibandingkan pemantauan Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB yang masih mencatat 733 titik panas. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi mencapai 528 titik.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menunjukkan titik panas tersebar di sejumlah provinsi di Sumatera. Setelah Sumatera Selatan, konsentrasi terbesar berada di Kepulauan Bangka Belitung dengan 221 titik, Lampung 98 titik, Riau 97 titik, Jambi 83 titik, dan Kepulauan Riau 34 titik.

Sementara Bengkulu mencatat 16 titik, Aceh 13 titik, Sumatera Utara sembilan titik, dan Sumatera Barat lima titik. Rincian tersebut menghasilkan total 1.104 titik panas. Data sekunder yang juga mengutip BMKG Pekanbaru mengonfirmasi angka tersebut.

Lonjakan hanya dalam hitungan jam terlihat cukup signifikan. Pada Jumat sore, Sumatera Selatan masih mencatat 377 titik panas, Bangka Belitung 100 titik, sedangkan Riau 69 titik.

Perlu dicatat, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terpantau satelit dan tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan keberadaan titik api.

Pelalawan Dominasi Hotspot Riau

Di Riau, jumlah titik panas meningkat dari 69 menjadi 97 titik. Sebanyak 71 titik atau sekitar 73% di antaranya terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan.

Wilayah lainnya meliputi Indragiri Hilir delapan titik, Kampar empat titik, Kota Dumai dan Indragiri Hulu masing-masing tiga titik. Bengkalis, Kepulauan Meranti, serta Rokan Hulu masing-masing mencatat dua titik, sedangkan Kuantan Singingi satu titik.

Lonjakan tersebut terjadi ketika pemadaman karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Riau. Dalam beberapa hari terakhir, Manggala Agni mencatat kebakaran yang sedang ditangani telah menghanguskan lebih dari 700 hektare, termasuk sekitar 434 hektare di Indragiri Hulu dan 300 hektare di Pelalawan.

Secara kumulatif, skala karhutla Riau jauh lebih besar. Data Pemerintah Provinsi Riau mencatat 15.608,37 hektare lahan terbakar sepanjang 1 Januari hingga 9 Agustus 2026. Bengkalis menjadi wilayah terdampak terluas dengan 8.272,90 hektare, disusul Pelalawan 4.629,39 hektare.

Riau juga telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 13 Februari hingga 30 November 2026. Sebanyak 17.764 personel dari berbagai unsur disiapkan untuk mendukung pencegahan dan pemadaman.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menyebut peningkatan aktivitas kebakaran saat ini paling terlihat di Riau dan Sumatera Selatan. "Untuk Wilayah Sumatera saat ini yang sedang naik frekuensi kebakarannya di Riau dan Sumatera Selatan. Untuk Sumsel saat ini juga sudah hampir 15 hari di-BKO-kan juga Manggala Agni dari Jambi," ungkap Ferdian Krisnanto.

Sumsel Catat 528 Hotspot

Sumatera Selatan menjadi perhatian utama dengan 528 titik panas pada Sabtu pagi. Angka tersebut bertambah 151 titik dibandingkan pemantauan Jumat sore yang mencatat 377 titik.

Peningkatan terbaru memperpanjang tren tingginya aktivitas hotspot di Sumsel. BPBD Sumatera Selatan sebelumnya mencatat 7.050 titik panas secara kumulatif sepanjang 1 Januari hingga 10 Agustus 2026. Sebanyak 2.145 titik di antaranya bahkan muncul hanya dalam sepuluh hari pertama Agustus.

Jumlah kejadian karhutla di provinsi tersebut juga meningkat dari 120 kejadian pada Juni menjadi 456 kejadian pada Juli. Hingga 10 Agustus, BPBD telah mencatat total 1.077 kejadian karhutla sejak awal tahun.

Kondisi tersebut sejalan dengan prediksi BMKG bahwa Agustus hingga September merupakan periode puncak musim kemarau di Sumatera Selatan.

"Kemarau diperkirakan berlangsung sampai pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya rendah sehingga belum efektif menghentikan kemunculan hotspot," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis sebelumnya.

El Nino Sangat Kuat Perbesar Risiko

Lonjakan titik panas berlangsung ketika sebagian besar Indonesia berada dalam kondisi kering.

BMKG mencatat 535 Zona Musim atau 76,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Curah hujan rendah mendominasi 90,79% wilayah, sedangkan 87,28% wilayah mengalami curah hujan di bawah normal.

Kondisi tersebut diperkuat El Nino berintensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif yang cenderung mengurangi suplai uap air ke wilayah Indonesia. BMKG memperkirakan curah hujan rendah masih mendominasi sebagian Sumatera hingga awal September.

Kementerian Kehutanan juga menyebut luas karhutla nasional pada Januari-Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun non-El Nino seperti 2019 dan 2023, meski masih jauh di bawah kejadian ekstrem 2015.

“Angka ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan kita belum selesai. Pengendalian Karhutla bukan hanya tugas Kementerian Kehutanan, melainkan tugas bersama semua pihak,” jelas Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Operasi Darat dan Udara Diperkuat

Pemerintah telah menetapkan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sebagai enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

BNPB mengerahkan 39 unsur udara untuk mendukung penanganan di enam provinsi tersebut. Khusus Sumatera, Riau mendapat dukungan satu helikopter patroli, satu armada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan lima helikopter water bombing.

Di Jambi, pemerintah menyiagakan satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan dua helikopter water bombing. Sumatera Selatan mendapat dukungan lebih besar berupa satu helikopter patroli, satu armada OMC, serta tujuh helikopter water bombing.

BNPB menegaskan operasi udara tetap harus berjalan bersama pemadaman darat. Setelah water bombing, petugas perlu menyisir dan mendinginkan area untuk memastikan bara tidak kembali menyala, khususnya pada lahan gambut yang dapat menyimpan api di bawah permukaan.

Dengan jumlah titik panas Sumatera naik lebih dari 50% dalam waktu kurang dari sehari dan puncak musim kemarau masih berlangsung, pemerintah daerah serta masyarakat diminta meningkatkan patroli dan menghindari aktivitas pembakaran lahan.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sumatra, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.