iklan periskop
Kota

Pemprov DKI Gelar OMC Lagi, Targetkan Hujan Turun di Jakarta

Pemprov DKI kembali menggelar OMC pada Jumat, 21 Agustus 2026, untuk memicu hujan di Jakarta saat awan potensial tersedia

16 jam yang lalu · 4 mnt baca
modifikasi cuaca
Pemprov DKI Jakarta melalui BPBD DKI Jakarta, bersama TNI Angkatan Udara (TNI AU), serta PT Rekayasa Atmosphere Indonesia (RAI) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menebar garam (NaCL) di sejumlah titik wilayah udara Jakarta. dok. Pemprov DKI Jakarta
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id  – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menjadwalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Jumat, 21 Agustus 2026, untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di tengah musim kemarau. Operasi dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan awan potensial yang diprakirakan muncul di langit Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan persiapan penerbangan OMC langsung dilakukan setelah terdapat prakiraan keberadaan awan pada Jumat.

“Saya sudah perintahkan untuk hari Jumat (dilakukan OMC) karena ada awan, maka segera dipersiapkan untuk besok diterbangkan,” kata Pramono di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Menurut Pramono, keberadaan awan menjadi syarat utama pelaksanaan modifikasi cuaca. Pemprov berharap potensi hujan ringan yang muncul secara alami dapat ditingkatkan sehingga menghasilkan hujan lebih berarti.

“Di ramalan cuaca juga diramalkan akan ada hujan gerimis. Kan lebih baik kalau kemudian, dari hujan gerimis, ditambahi garam dan atau apa pun lah, itu menjadi hujan yang lebih deras dan bermanfaat bagi masyarakat, yang paling penting jangan banjir,” ujar Pramono.

Namun, OMC bukan teknologi yang dapat menciptakan hujan dari kondisi langit cerah. BMKG menjelaskan modifikasi cuaca bekerja dengan memengaruhi proses fisik pada awan yang sudah tersedia secara alami, antara lain melalui penyemaian bahan seperti natrium klorida atau NaCl. Tanpa keberadaan awan yang memenuhi persyaratan meteorologis, penyemaian tidak dapat dilakukan.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo sebelumnya menegaskan, “Modifikasi cuaca tidak membentuk hujan dari nol. Awan dan hujan sudah ada secara alami," tuturnya. 

Karena keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer, Pramono juga mengingatkan bahwa penerbangan OMC tidak otomatis membuat hujan turun.

“Kalau diterbangkan, apakah terjadi hujan atau nggak, itu belum jaminan. Bahwa hujan itu ciptaan Tuhan, ya, pasti saya setuju ciptaan Tuhan. Tetapi kalau kemudian tidak ada apa upaya untuk itu, menurut saya juga nggak baik. Jadi, saya tetap (lakukan) besok, kebetulan besok itu ada awan,” jelas Pramono.

OMC Rabu Sempat Bikin Jakarta Diguyur Hujan

Operasi pada Jumat bukan yang pertama dilakukan Pemprov DKI pada pekan ini. OMC sebelumnya berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026, ketika sebagian wilayah Jakarta kemudian diguyur hujan.

Pramono saat itu menyebut hujan turun dua kali dengan jeda sekitar 30 menit. Hujan tersebut tidak berlangsung seperti pola pada musim penghujan karena jumlah awan yang tersedia relatif terbatas.

"Memang, tadi sempat dua kali hujan. Break (berhenti) kurang lebih 30 menit, hujan lagi. Ini kelihatan bukan sesuatu hujan yang seperti pada musim hujan," ungkap Pramono.

Pada hari tersebut, BMKG memang memprakirakan sebagian besar Jakarta ditutupi awan tebal pada siang hari, kemudian berpotensi mengalami hujan pada sore hingga malam. Kondisi atmosfer tersebut memberikan peluang bagi pelaksanaan penyemaian awan.

Modifikasi cuaca pada musim kemarau memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan operasi ketika musim hujan. Pada periode penghujan, OMC dapat digunakan untuk mengatur distribusi dan mengurangi konsentrasi hujan di wilayah rawan banjir. Sebaliknya, ketika kemarau, operasi dapat diarahkan untuk mempercepat hujan turun di daratan dan meningkatkan ketersediaan air.

Teknologi tersebut umumnya menggunakan NaCl sebagai bahan semai. Partikel garam berfungsi menjadi inti kondensasi yang membantu butiran air di dalam awan tumbuh dan mempercepat proses terjadinya hujan apabila karakteristik awan memenuhi persyaratan.

operasi modifikasi cuaca (OMC
Petugas mempersiapkan proses menyemai bahan semai pada operasi modifikasi cuaca (OMC) di Jakarta, Sabtu (24/1/2026). dok.BPBD DKI

DKI Siapkan Rp31 Miliar untuk OMC Sepanjang 2026

Pemprov DKI telah memasukkan modifikasi cuaca sebagai salah satu strategi mitigasi cuaca sepanjang tahun ini. BPBD DKI mengalokasikan anggaran hingga Rp31 miliar untuk OMC sepanjang 2026, meningkat dari alokasi awal sekitar Rp7 miliar.

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi BPBD DKI Jakarta Mohammad Yohan sebelumnya mengatakan anggaran tersebut tidak harus dihabiskan seluruhnya. Penggunaan OMC disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan di lapangan. Dalam satu penerbangan, jumlah bahan semai dapat mencapai sekitar 800 kilogram hingga satu ton NaCl.

Pemprov juga telah membuka kemungkinan melakukan OMC secara berkala selama kemarau. Pada 5 Agustus 2026, Pramono memberikan persetujuan agar operasi dapat dilakukan sekitar satu hingga dua kali setiap pekan selama terdapat awan potensial, terutama menghadapi risiko kemarau yang lebih panjang akibat El Nino.

Kondisi kering membuat pemerintah tidak hanya memperhatikan kebutuhan air, tetapi juga ancaman kebakaran serta gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pemprov sebelumnya meminta kesiapan alat pemadam di tingkat RW sekaligus memantau kebutuhan air bersih selama kemarau.

BMKG sendiri mencatat OMC telah digunakan untuk beragam kebutuhan di Indonesia, mulai dari mengurangi risiko banjir, mengisi waduk hingga membasahi lahan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Pada 2026, operasi serupa telah dilakukan di berbagai daerah dengan NaCl maupun bahan semai lain sesuai tujuan dan karakteristik awan.

Dengan operasi yang kembali direncanakan pada Jumat, Pemprov DKI berharap peluang terbentuknya hujan dapat dimanfaatkan di tengah kondisi kemarau. Namun, pemerintah menegaskan keberhasilan OMC tetap sangat ditentukan oleh ketersediaan dan karakter awan, sehingga penyemaian bukan jaminan hujan akan turun ataupun menghasilkan intensitas sesuai target.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pramono Anung Wibowo, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.