iklan periskop
Nasional

Asap Karhutla Makin Pekat, Sekolah Beralih Daring di Pekabaru

Kabut asap karhutla bikin kualitas udara Pekanbaru sangat tidak sehat. Pemko setop sekolah tatap muka dan alihkan ke pembelajaran daring mulai Senin.

1 jam yang lalu · 2 mnt baca
Asap Karhutla Makin Pekat, Sekolah Beralih Daring di Pekabaru
Water bombing dilakukan untuk mengatasi karhuta. dok. Periskop.id/ AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah Kota Pekanbaru menghentikan sementara proses belajar tatap muka di sekolah imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian pekat. Kebijakan ini berlaku untuk jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta mulai Senin (24/8).

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal menjelaskan, langkah ini diambil menyusul kualitas udara yang terus memburuk akibat kabut asap. Ia menyebutkan, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, namun dipindahkan ke rumah masing-masing peserta didik.

"Proses belajar tetap berjalan, tetapi dilaksanakan secara daring dari rumah. Kebijakan itu kita ambil untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik dari paparan kabut asap," kata Abdul Jamal, Senin (24/8).

Berdasarkan grafik riwayat polusi udara yang dilansir situs resmi BMKG, konsentrasi partikulat matter PM2.5 di Kota Pekanbaru berada pada level sangat tidak sehat sejak Minggu (23/8) malam.

Hingga pukul 07.00 WIB Senin (24/8), angka PM2.5 tercatat masih di level sangat tidak sehat, yakni 182,3 mikrogram per meter kubik (µg/m3).

Kabut asap juga terlihat kian tebal dan berbau menyengat sejak Minggu malam. Kondisi itu berlanjut hingga Senin pagi, menyelimuti jalanan, gedung, permukiman, hingga langit di seluruh wilayah Kota Pekanbaru.

Meski begitu, aktivitas warga tetap berjalan seperti biasa, sebagian besar sudah mengenakan masker. Sejumlah orang tua bahkan sempat tetap mengantar anaknya ke sekolah lantaran belum mengetahui surat edaran libur sementara tersebut.

Abdul Jamal turut meminta pihak sekolah memberikan materi pembelajaran yang sederhana dan efektif agar tidak membebani peserta didik selama belajar dari rumah. Ia juga meminta orang tua dan wali murid memastikan anak-anak tetap berada di rumah, tidak bermain atau beraktivitas di luar.

Sementara itu, jatah makan bergizi gratis (MBG) tetap diberikan kepada peserta didik selama masa belajar daring. Penyalurannya dilakukan dengan cara dijemput langsung oleh orang tua atau wali murid ke sekolah masing-masing.

"Jangan sampai karena tidak datang ke sekolah, anak-anak justru bermain di luar rumah. Kami minta orang tua menjaga anak-anak tetap di rumah. Kalau memang ada keperluan mendesak untuk keluar, gunakan masker," ujar Abdul Jamal.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.