iklan periskop
Nasional

Retakan 100 Meter Muncul di Kawah Kelimutu Pascagempa, Wisatawan Diminta Menjauh

Badan Geologi menemukan retakan sekitar 100 meter di Kawah I Gunung Kelimutu pascagempa M7,7 Flores. Status vulkanik tetap Level I atau Normal

14 jam yang lalu · 5 mnt baca
danau kelimutu
CCTV visual danau Kawah I dan II pada Gunung Kelimutu, Ende, NTT. dok. PVMBG
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Dampak gempa magnitudo 7,7 di Flores tak hanya merusak permukiman dan infrastruktur. Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan retakan sepanjang sekitar 100 meter di dekat bibir Kawah I atau Tiwu Ata Polo, Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, yang berpotensi berkembang menjadi longsoran jika kembali diguncang gempa susulan atau diguyur hujan lebat.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan langsung di lapangan dan pemantauan menggunakan drone untuk melihat perubahan morfologi kawasan kawah. Retakan berada sekitar enam meter dari bibir Kawah I dan memanjang ke arah timur laut mengikuti kemiringan lereng.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus karena posisi retakan yang dekat dengan lereng kawah membuat material berpotensi bergerak menuju bagian dalam danau.

"Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I, terutama apabila terjadi gempa susulan atau hujan dengan intensitas tinggi," kata Lana, Senin (24/8).

Selain retakan di Kawah I, tim Badan Geologi mendeteksi longsoran material endapan lama yang bergerak menuju bagian dalam Kawah II atau Tiwu Koofai Nuwamuri. Pergerakan material itu sempat menimbulkan suara gemuruh cukup keras dari kawasan puncak.

Meski muncul retakan dan longsoran, Badan Geologi memastikan aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu tetap berada pada Level I atau Normal. Dengan demikian, temuan tersebut untuk saat ini diperlakukan sebagai persoalan kestabilan lereng pascaguncangan, bukan tanda bahwa Kelimutu sedang menuju peningkatan aktivitas erupsi.

Gempa M7,7 Picu Longsoran di Sejumlah Gunung Flores

Gempa utama mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. BMKG memperbarui kekuatannya menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer, berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa dangkal tersebut memiliki mekanisme sesar naik dan berkaitan dengan Flores Back-arc Thrust.

Sehari setelah gempa, Badan Geologi telah melaporkan terjadinya runtuhan massa batuan di kawasan Gunung Kelimutu, Ebulobo dan Anak Ranakah. Ketika itu, seluruh parameter vulkanik ketiga gunung masih berada dalam kondisi normal sehingga longsoran dinilai sebagai dampak mekanis guncangan gempa terhadap massa batuan yang sudah memiliki tingkat kestabilan rendah.

Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi lereng yang sangat terjal, keberadaan rekahan pada batuan vulkanik, proses pelapukan serta alterasi hidrotermal. Guncangan kuat kemudian dapat menjadi pemicu bagi massa batuan yang sebelumnya telah berada dalam kondisi kritis untuk terlepas.

Badan Geologi menegaskan, dalam pemeriksaan awal pascagempa bahwa kejadian runtuhan tidak dapat langsung dianggap sebagai peningkatan aktivitas vulkanik.

"Kejadian itu tidak bisa secara langsung diinterpretasikan sebagai indikasi peningkatan aktivitas vulkanik," kata Lana dalam keterangannya sebelumnya.

Kelimutu Sudah Mengalami Longsor Sebelum Gempa

Kerentanan lereng kawah Kelimutu sebenarnya telah terdeteksi sebelum gempa M7,7.

Pada Januari 2026, Badan Geologi mencatat longsor di tebing timur laut Kawah II yang diduga berkaitan dengan hujan intensif dan ketidakstabilan tebing. Ketika itu, tidak ditemukan peningkatan signifikan pada aktivitas kegempaan, suhu maupun perubahan kondisi kawah. Status Kelimutu juga tetap Level I.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada awal Agustus. Badan Geologi menemukan longsoran pada dinding di antara Kawah I dan Kawah II yang diperkirakan berkaitan dengan pelapukan serta rekahan batuan, bukan peningkatan aktivitas vulkanik.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa dinding kawah memang memiliki bagian-bagian yang rentan. Gempa M7,7 kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap kestabilan massa batuan, sehingga retakan baru perlu dipantau untuk mengetahui apakah ukurannya berkembang.

Ribuan Gempa Susulan Masih Terjadi

Kewaspadaan terhadap retakan menjadi semakin penting karena aktivitas gempa di Flores belum sepenuhnya mereda.

BMKG mencatat 4.258 gempa susulan hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB. Sebanyak 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 kejadian memiliki magnitudo lebih dari M5. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung selama sekitar tiga hingga empat minggu.

Beberapa gempa susulan bahkan cukup kuat. BMKG mencatat gempa M5,6 pada 19 Agustus, kemudian dua gempa M5,8 pada 20 Agustus. Guncangan tersebut dilaporkan memicu kerusakan susulan pada sejumlah bangunan dan jembatan serta longsor di beberapa lokasi.

Karena itu, retakan di bibir Kelimutu tidak hanya perlu dipantau dari perubahan panjang dan lebarnya, tetapi juga setelah setiap gempa susulan signifikan maupun hujan berintensitas tinggi.

Wisatawan Diminta Jauhi Bibir Kawah

Badan Geologi meminta masyarakat dan pengunjung tidak beraktivitas di sekitar retakan Kawah I, terutama pada area sekitar 6-10 meter dari bibir kawah. Pengelola kawasan dan pemerintah daerah juga diminta segera memasang garis pengaman serta papan peringatan pada Kawah I dan Kawah II.

"Perlu dibuat tanda peringatan atau larangan khusus potensi bahaya longsoran di sekitar Kawah I Tiwu Ata Polo dan kawah II Tiwu Koofai Nuwamuri," kata Lana menegaskan.

Taman Nasional Kelimutu sendiri telah menutup sementara aktivitas wisata sejak 16 Agustus atau sehari setelah gempa. Keputusan tersebut tertuang dalam pengumuman Balai Taman Nasional Kelimutu dan dilakukan untuk memastikan keselamatan pengunjung selama pemeriksaan dampak gempa berlangsung.

Kementerian Pariwisata pada 19 Agustus juga masih memasukkan Taman Nasional Kelimutu sebagai salah satu destinasi Flores yang ditutup sementara akibat longsoran pada dinding kawah. Pembukaan kembali kawasan menunggu hasil pemeriksaan keselamatan dan kelayakan infrastruktur.

Kelimutu memiliki tiga danau kawah yang menjadi salah satu bentang alam vulkanik paling dikenal di Indonesia, yakni Tiwu Ata Bupu, Tiwu Nua Mori Ko'o Fai dan Tiwu Ata Polo. Kompleks tersebut terbentuk dari aktivitas Gunung Kelimutu dan tercatat sebagai situs warisan geologi dengan batuan vulkanik berumur Holosen.

Dengan status vulkanik masih Normal, perhatian utama pemerintah saat ini bukan pada ancaman erupsi, melainkan potensi longsoran dari lereng dan bibir kawah yang mengalami retakan. Pemantauan menggunakan drone, pemeriksaan lapangan dan koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu akan terus dilakukan, terutama selama gempa susulan di Flores masih berlangsung.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai badan geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.