Periskop.id - Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terhadap potensi erupsi hingga ancaman aliran lahar, terutama saat hujan turun di kawasan lereng gunung.

Peningkatan aktivitas tersebut ditandai dengan munculnya tremor menerus yang mulai terekam sejak Kamis malam, disertai sejumlah jenis gempa vulkanik yang sebelumnya jarang terjadi. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan hasil pemantauan tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Sinabung meningkat signifikan.

“Tremor dengan amplitudo maksimum 4 milimeter mulai terekam malam tadi sejak pukul 23.53 WIB dan masih berlangsung hingga siang ini,” kata Lana dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Selain tremor menerus, Badan Geologi juga mencatat munculnya gempa hembusan, gempa low frequency, hingga gempa hybrid yang mengindikasikan adanya dinamika tekanan di dalam sistem magma gunung api tersebut. Menurut Lana, kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi memicu erupsi freatik maupun erupsi magmatik. 

Peningkatan tekanan magma juga dinilai dapat menyebabkan pembongkaran kubah lava yang berada di area puncak Gunung Sinabung. Secara visual, pengamatan menunjukkan asap kawah berwarna putih tipis hingga sedang masih keluar dari area puncak dengan ketinggian mencapai 50 hingga 500 meter di atas kubah lava.

Sebagai langkah mitigasi, Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari puncak Gunung Sinabung. Sementara pada sektor selatan-timur, masyarakat diminta menghindari area hingga radius 3,5 kilometer.

Aliran Lahar
Selain ancaman erupsi, potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar juga menjadi perhatian utama. Material vulkanik yang berada di lereng gunung berpotensi terbawa air hujan melalui alur sungai di sektor barat daya yang berhulu langsung dari kawasan puncak Sinabung.

Karena itu, pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diminta terus memperkuat koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung untuk memperbarui informasi aktivitas vulkanik secara berkala.

Gunung Sinabung sendiri menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Setelah kembali aktif pada 2010 usai “tidur” selama ratusan tahun, Sinabung mengalami serangkaian erupsi besar yang menyebabkan ribuan warga harus direlokasi dari kawasan rawan bencana.

Data PVMBG mencatat ,erupsi besar Sinabung pada periode 2013–2021 sempat memuntahkan kolom abu vulkanik hingga beberapa kilometer dan mengganggu aktivitas masyarakat serta penerbangan di Sumatera Utara. Aktivitas vulkanik gunung tersebut juga dikenal fluktuatif dengan periode peningkatan gempa vulkanik sebelum erupsi terjadi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya juga mengingatkan, kawasan sekitar Sinabung masih memiliki risiko tinggi terhadap awan panas guguran dan aliran material vulkanik, terutama saat curah hujan meningkat.

Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang namun tidak mengabaikan informasi resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Sinabung. Warga di sekitar kawasan rawan bencana diimbau segera mengikuti arahan petugas apabila terjadi peningkatan status atau aktivitas vulkanik lanjutan.