Periskop.id – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur menyiapkan Pulau Idaman di pesisir Gampong Kuala Simpang Ulim, Kecamatan Simpang Ulim, sebagai destinasi wisata unggulan berbasis masyarakat. Pengembangan pulau seluas sekitar 18 hektare itu akan memadukan wisata bahari, pemberdayaan ekonomi warga, dan perlindungan habitat penyu.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Aceh Timur Syahril mengatakan Pulau Idaman memiliki keunggulan berupa lanskap yang masih alami, hamparan pasir, pepohonan rindang, serta suasana pesisir yang tenang.
Pulau tersebut juga menjadi lokasi penyu bertelur pada musim tertentu. Karena itu, pengembangannya tidak hanya diarahkan sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai kawasan edukasi lingkungan dan konservasi.
"Pulau Idaman memiliki potensi wisata besar. Keindahan alamnya masih alami, lingkungannya masih terjaga, dan memiliki nilai konservasi yang harus dipertahankan. Potensi seperti ini perlu dikelola dengan baik agar memberi manfaat bagi masyarakat tanpa merusak kelestarian alamnya," kata Syahril di Aceh Timur, Jumat (24/7).
Selain cocok untuk wisata keluarga, Pulau Idaman selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi favorit bagi pemancing. Aktivitas tersebut telah membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui penyewaan sampan, jasa transportasi laut, hingga penyediaan kebutuhan pengunjung.
Pengelolaan Akan Berbasis Masyarakat
Pemkab Aceh Timur memilih konsep pariwisata berbasis masyarakat atau community based tourism agar warga setempat terlibat langsung dalam perencanaan, pelayanan, dan pengelolaan kawasan.
Dengan model tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika jumlah wisatawan bertambah. Warga dapat mengembangkan usaha transportasi, kuliner, penginapan, jasa pemandu, penyewaan alat, dan produk usaha mikro lainnya.
"Harapan kami, masyarakat menjadi bagian utama dalam pengelolaan wisata. Ketika wisata berkembang, masyarakat juga memperoleh manfaat ekonomi melalui penyediaan transportasi, kuliner, homestay, maupun usaha mikro lainnya," katanya.
Kolaborasi akan melibatkan pemerintah kabupaten, aparatur gampong, masyarakat, serta Panglima Laot sebagai lembaga adat yang memiliki peran penting dalam pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan.
Disparpora Aceh Timur juga menyatakan siap membantu penyusunan Qanun Gampong tentang Penyelenggaraan Pariwisata. Regulasi tersebut akan menjadi dasar dalam mengatur aktivitas wisata, menjaga habitat penyu, melindungi lingkungan, serta memastikan manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir pihak.
"Disparpora siap memfasilitasi penyusunan Qanun Gampong agar pengelolaan wisata memiliki dasar hukum yang jelas. Dengan adanya regulasi, pengembangan wisata dapat dilakukan secara terarah, tertib, dan melibatkan seluruh unsur masyarakat," ujarnya.
Keberadaan aturan lokal juga dibutuhkan untuk mengendalikan pembangunan fasilitas agar tidak menghilangkan karakter alami Pulau Idaman. Jumlah pengunjung dan aktivitas di sekitar lokasi peneluran penyu nantinya perlu disesuaikan dengan daya dukung kawasan.
Penelitian mengenai wisata konservasi penyu di Pantai Pangumbahan, Sukabumi, menunjukkan pengembangan pariwisata harus disertai pembatasan pengunjung untuk menjaga habitat dan kenyamanan penyu. Peneliti IPB University Fredinan Yulianda menekankan manfaat ekonomi tidak boleh mengabaikan perlindungan satwa.
“Aspek sosial dan ekonomi dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap mengedepankan sisi perlindungan, khususnya penyu hijau,” ujar Fredinan.
Pengembangan Sempat Terhambat Banjir
Upaya menghidupkan Pulau Idaman sempat menghadapi kendala setelah sejumlah fasilitas wisata rusak akibat banjir di kawasan pesisir. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyiapkan fasilitas yang aman sekaligus lebih tahan terhadap bencana.
Kerusakan Pulau Idaman menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas di sektor pariwisata Aceh. Data Pos Komando Penanganan Bencana Aceh mencatat 225 destinasi wisata terdampak banjir dan longsor pada akhir November 2025. Sebanyak 198 destinasi mengalami kerusakan berat, termasuk enam lokasi di Kabupaten Aceh Timur.
Pemerintah Aceh menyatakan proses pemulihan destinasi terdampak akan memperhatikan keberlanjutan dan ketahanan terhadap bencana. Pada saat yang sama, sejumlah kawasan yang aman terus dipromosikan untuk menjaga kepercayaan wisatawan.
Pengembangan Pulau Idaman berlangsung ketika kunjungan wisatawan ke Aceh menunjukkan potensi besar. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mencatat sekitar 20,03 juta perjalanan wisatawan sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Aceh pada Maret 2026 mencapai 2.684 orang, meningkat 22,45 persen dibandingkan 2.192 kunjungan pada Maret 2025.
Data tersebut membuka peluang bagi daerah seperti Aceh Timur untuk memperluas pilihan destinasi, terutama wisata pesisir yang menawarkan pengalaman alam sekaligus edukasi konservasi.
"Potensi Pulau Idaman cukup besar. Tinggal bagaimana mengelolanya secara bersama-sama dengan tetap menjaga kelestarian alam. Kami berharap kawasan ini nantinya menjadi destinasi wisata aman dan nyaman serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," kata Syahril.
Dengan akses yang relatif mudah dari pesisir Kuala Simpang Ulim, lingkungan yang masih terjaga, serta dukungan masyarakat, Pulau Idaman berpeluang menjadi ikon baru wisata Aceh Timur. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada konsistensi pengelolaan, pemulihan fasilitas, perlindungan habitat penyu, dan pembagian manfaat ekonomi yang adil bagi warga.
Tinggalkan Komentar
Komentar