iklan periskop
Pasar Modal

IHSG Adalah Indeks Seluruh Saham di BEI, Begini Cara Membacanya

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan, angka yang merangkum pergerakan seluruh saham di Bursa Efek Indonesia. Begini cara menghitung dan membacanya.

10 jam yang lalu · 4 mnt baca
bei, ihsg, ojk, saham
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (4/6/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan, satu angka yang merangkum pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Angka itu yang dipakai orang untuk menjawab pertanyaan paling sederhana tentang pasar modal, yaitu sedang naik atau sedang turun.

Ketika IHSG disebut menguat 1%, artinya nilai gabungan seluruh saham di bursa naik sebesar itu dibanding penutupan sebelumnya.

Kenaikan tersebut tidak otomatis berarti semua saham ikut naik. Bisa saja sebagian besar saham melemah, tapi beberapa emiten berkapitalisasi raksasa menguat cukup kuat untuk menarik indeks ke atas. Sifat inilah yang paling sering disalahpahami pembaca baru.

Kepanjangan IHSG dan Nama Lain yang Dipakai

Kepanjangan IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan. Kata gabungan menunjuk pada cakupannya, sebab indeks ini menghitung seluruh saham tercatat tanpa menyeleksi sebagian seperti indeks lain.

Di kalangan pelaku pasar internasional, indeks yang sama disebut IDX Composite. Nama lamanya Jakarta Composite Index atau JCI, warisan masa ketika bursa Indonesia masih bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Ketiganya menunjuk pada angka yang persis sama. Perbedaannya hanya soal siapa yang menyebut.

Titik Nol IHSG dan Kenapa Angkanya Terus Disesuaikan

BEJ memperkenalkan IHSG pada 1 April 1983. Hari dasar perhitungannya ditetapkan mundur ke 10 Agustus 1982, saat indeks diberi nilai 100 dengan hanya 13 saham tercatat.

Angka 100 itu berfungsi sebagai titik nol. Sejak saat itu jumlah emiten bertambah ratusan kali lipat, dan di sinilah muncul persoalan teknis yang jarang dijelaskan.

Setiap kali ada emiten baru tercatat atau terjadi aksi korporasi yang mengubah jumlah saham beredar, nilai dasar perhitungannya ikut disesuaikan. Tujuannya supaya pergerakan indeks tetap mencerminkan perubahan harga, tidak tercampur pertambahan jumlah saham.

Tanpa penyesuaian itu, IHSG akan naik setiap kali ada perusahaan melantai di bursa, meski harga saham yang sudah ada tidak bergerak sama sekali.

Cara Menghitung IHSG

Rumusnya membandingkan nilai pasar seluruh saham tercatat dengan nilai dasarnya.

IHSG = (Nilai Pasar / Nilai Dasar) x 100

Nilai pasar diperoleh dengan mengalikan harga tiap saham dengan jumlah saham tercatatnya, lalu menjumlahkan hasil itu untuk seluruh emiten. Metode ini dikenal sebagai rata-rata tertimbang kapitalisasi pasar atau market value weighted average.

Konsekuensinya langsung terasa di pergerakan harian. Emiten dengan kapitalisasi ratusan triliun rupiah punya daya dorong yang jauh lebih besar ketimbang emiten kecil, sekalipun persentase kenaikan sahamnya lebih rendah.

Karena itu laporan pergerakan IHSG selalu menyebut saham apa yang paling menggerakkan indeks hari itu.

Cara Membaca Angka IHSG

Ada empat hal yang biasanya dilaporkan bersamaan, dan masing-masing menjawab pertanyaan berbeda.

Level indeks menunjukkan posisi absolut, misalnya 6.525. Perubahan dalam % dan poin menunjukkan seberapa jauh ia bergerak dari penutupan sebelumnya.

Nilai transaksi dan volume memberi tahu seberapa ramai perdagangan hari itu. Kenaikan indeks dengan nilai transaksi tipis lebih rapuh dibanding kenaikan yang disertai transaksi besar.

Posisi beli atau jual bersih investor asing melengkapi gambarannya. Angka ini menunjukkan ke arah mana dana asing bergerak, dan sering jadi petunjuk awal perubahan sentimen.

Dalam satu hari perdagangan, IHSG dilaporkan setidaknya dua kali. Di akhir sesi pertama dan saat penutupan. Angka penutupan yang dipakai sebagai acuan resmi hari itu, sekaligus jadi titik berangkat perdagangan keesokan harinya.

Faktor yang Menggerakkan IHSG

Keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) termasuk pemicu paling langsung. Suku bunga yang turun umumnya membuat saham lebih menarik dibanding instrumen pendapatan tetap.

Arus dana asing bekerja dengan cara serupa. Ketika investor global memindahkan dana ke pasar berkembang, IHSG cenderung terangkat, dan sebaliknya.

Harga komoditas punya bobot khusus di Indonesia karena banyak emiten besar bergerak di batu bara, nikel, dan minyak sawit. Pergerakan harga komoditas dunia menular cepat ke indeks.

Di luar itu ada bursa global dan kebijakan fiskal dalam negeri, dua faktor yang efeknya sering muncul dalam hitungan jam setelah beritanya keluar.

Bedanya IHSG dengan LQ45 dan IDX30

IHSG memuat seluruh saham tercatat, termasuk yang jarang diperdagangkan. Kelengkapan itu membuatnya representatif, tapi juga membuatnya terpengaruh saham yang likuiditasnya tipis.

LQ45 menyaring 45 saham paling likuid dengan kapitalisasi besar. IDX30 mempersempitnya lagi jadi 30 saham. Keduanya dievaluasi berkala, sehingga penghuninya berganti.

Ada pula Jakarta Islamic Index (JII) yang memuat saham syariah, dan SRI-KEHATI yang menyaring emiten berdasarkan kriteria keberlanjutan.

Investor sering memakai indeks-indeks ini sebagai pembanding. Ketika IHSG melemah tapi LQ45 bertahan, tekanan biasanya datang dari saham lapis kedua dan ketiga.

Tiga Salah Kaprah yang Sering Muncul

Pertama, IHSG naik dianggap berarti semua saham naik. Kenyataannya indeks bisa menguat sementara mayoritas saham di bursa justru melemah.

Kedua, IHSG kerap dikira bisa dibeli langsung. IHSG sendiri hanya angka. Yang bisa dibeli adalah produk yang mengikuti pergerakannya, seperti reksa dana indeks dan exchange traded fund.

Ketiga, IHSG sering disamakan dengan kondisi ekonomi nasional. Keduanya berkaitan, tapi indeks lebih dulu bereaksi terhadap ekspektasi pelaku pasar, sementara data ekonomi baru terbit belakangan.

Tempat Mengecek IHSG

Data resmi tersedia di situs Bursa Efek Indonesia, lengkap dengan ringkasan perdagangan harian dan komposisi tiap indeks.

Untuk mengikuti pergerakannya lewat laporan harian, arsip Periskop.id merangkum posisi sesi pertama dan angka penutupan, ditambah proyeksi analis tiap pagi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.